
Salah besar waktu ia pingsan justru Ardan yang membawanya masuk ke rumah sakit milik mantan suaminya, tapi bagaimanapun harus tetap berterima kasih juga, toh Ardan tidak tahu masa lalunya, lelaki itu hanya tulus membantunya.
Memaksa untuk pulang padahal badannya belum sepenuhnya pulih, tidak bisa bertahan lama-lama takut ketahuan karena Egwin sepertinya memang sengaja mencari waktu diam-diam ke dalam ruang rawatnya.
Untung saja belum sempat ada yang melihat mereka.
"Tiffany, kamu mau kemana? Tidak ada jadwal siang ini," tanya Shandi heran melihat Tiffany yang sudah bersiap berpakaian rapih.
"Aku ada urusan," jawabnya tidak mau menceritakan tujuan sebenarnya.
"Tap-"
"Sudahlah, Shan. Aku tidak lama. Aku pergi dulu!" Tiffany bergegas menutup pintu kamar tidak lupa memakai masker dan kaca mata menyamarkan wajahnya. Sudah puas dengan penampilannya, tidak memerlukan bodyguard mengikutinya.
Egwin mengancamnya harus menemui Allen di alamat kafe yang sudah dikirimkan melalui aplikasi hijau, kalau menolak lelaki itu terus menterornya sewaktu-waktu.
Memeriksa wajahnya sekali lagi apakah sudah benar atau masih ada celahnya, turun berjalan ke dalam kafe naik ke lantai atas tempat tertutup.
Allendra duduk menunggu sambil memainkan boneka tali tas-nya, papahnya menunggu di mobil tidak ikut turun. Harapannya tidak sebanyak dulu, setelah kejadian hari itu mamahnya bersembunyi hatinya mulai membeku.
Suara decitan pintu mengalihkan pandangannya, jantungnya berdegup ternyata mamahnya datang. Perasaanya begitu gembira berdiri tersenyum manis menengadah mengikuti arah jalan mamahnya duduk tidak membalas senyumannya, padahal ia tadinya ingin memeluk.
"Mamah apa kabar?" Allen masih bertahan dalam ketegarannya.
__ADS_1
"Baik." Tiffany menjawab dingin, tega membuang mukanya.
Di dalam mobil Egwin sudah mengepalkan tangannya, semua tampak menyakitkan dalam layar ponselnya.
"O-oh," Allen menciut.
Tiffany dan Allen terdiam beberapa saat, berpikir memecahkan suasana Allen menatap mamahnya memelas "lapar."
Memanggil pelayan memesan makanan tanpa bertanya menu apa yang ingin dipesan putrinya, setelahnya kembali bermain ponselnya.
Dengan hati-hati pelayan meletakkan makanannya, agak ragu pelayan melihat makanan untuk gadis kecil ini padahal ini makanan pedas.
"Menunggu apa lagi? Pergi sana!" sentak Tiffany tanpa sadar tidak mengubah suaranya dihadapan orang lain.
Si pelayan tercengang, suara wanita bermasker ini mirip dengan suara Tiffany yang sering didengar di ponselnya.
Allen berpikir ulang untuk makan, melihat warna merah makanan ini saja perutnya sudah seperti diaduk, itu sambal apa?
"Allen tidak jadi laparnya."
"Kau!" Tiffany menatap tajam pada Allen.
"Ini pedas. Mamah asal memilih makanan, aku tidak bisa memakan ini. Buat mamah saja."
__ADS_1
Hatinya tercekal, baru saja ceroboh membahayakan Allendra lagi. Memasang maskernya kembali padahal tadi sudah membukanya saat makan, memanggil pelayan.
Pelayan yamg datang yang lain, kali ini Tiffany harus berhati-hati. "Pesan makanan yang kau suka Allen," tawarnya
Sudah terlanjur sangat kecewa Allen menggeleng keras menolak, kakinya yang masih sedikit sakit menjangkau lantai berjalan wajahnya memerah ingin menangis. "Aku pulang saja."
Ada rasa sesak di lubuk hatinya menaruh pada putrinya, tidak sengaja matanya melihat ada sesuatu di lutut kaki Allen. Astaga, sampai hal itu saja dirinya tidak menyadari sejak tadi.
"Kau ibu yang kejam, Tiffany. Mulai detik ini aku tidak toleransi lagi padamu, sudah cukup kesabaranku berbaik hati menjagamu dari jauh. Ternyata kau bahkan tidak membalasnya pada Allen."
Turun menyusul Allen menggendong putrinya langsung terisak di bahunya, mencari-cari di mana lagi wanita itu bersembunyi.
Dari balik dinding sana Tiffany mengintip, ada perasaan yang menggangu hatinya, Allen menangis karenanya. Apakah ia merasa bersalah atau hanya sekadar kasihan? Sungguh ia bingung.
Makan snack pemberian Afrinda dari sekolah cukup mampu membujuk tangis Allen mulai reda, menyuapi sedikit demi sedikit setelah habis kembali melanjutkan perjalan pulang. Sebelum itu ia hendak menghubungi Rivzal, keputusannya sudah bulat. Tidak hanya kali ini Tiffany berulah hampir mencelakai Allen, cukup bodoh terus menunggu perubahan wanita itu. Naif bila berbicara tentang cinta hingga sampai sekarang masih mampu melakukan cara apa pun untuk tetap menjaga wanita dan ibu dari putrinya, tetapi semakin hari terlebih kejadian tadi sudah sangat cukup membuat rasa cintanya tetkikis semua. Ia pikir dengan melakukan itu semua demi menjaga nama baik Allen di masa depan agar tidak ikut menanggung malu, faktanya semua sudah salah dugaan.
"Halo Zal, aku bersedia membantumu."
"Kau serius? Tidak melindingi dia lagi?"
"Tidak lagi."
"Akhirnya."
__ADS_1
Rivzal tahu siapa orang yang paling bisa membantu melawan sekutu goib Tiffany, Egwin bergabung bersamanya.
👇👇👇