
Sudah beberapa hari ini Afrinda disibukkan dengan berbagai macam problem yang dihadapinya. Materi kelas yang harus dipelajarinya, sudah beberapa kali ia menyempatkan waktu menjenguk Allen menyemangati gadis kecil itu yang saat ini kondisinya sudah berangsur membaik, belum lagi ia terpaksa meladeni chattingan dari Ardan yang selalu merecokinya. Huff, tapi ia masih mampu menjalani hari-harinya.
Ada yang berbeda semenjak orang-orang mengetahui ia pergi menjenguk Allen ke rumah sakit, mata para staf sekolah menatnya sinis saat sedang berpapasan bahkan saat rapat pertemuan.
"Miss dapat kiriman bunga lagi? tanya Miss Ticha teman seprofesinya.
Afrinda meletakkan buket bunga di atas meja kerjanya, berdecak menahan malu terus-menerus diledekin teman Ticha.
"Dari Ardan lagi," jawabnya mengesah lalu duduk merapikan buku-bukunya tidak peduli nasib bunga itu yang sudah direbut Ticha. Ardan sudah beberapa kali mengirimu bunga ke kost mau pun ke sekolahnya, tetapi orangnya tidak pernah muncul ke permukaan. Afrinda sudah risih sendiri dibuatnya.
"Ungg. Wangi loh, diparfumi bunganya." Ticha yang jadi tersenyum-senyum menghirup aroma bunga.
"Mau, untukmu saja."
"Ha?? Kau serius?? Aaa, thanks you loh. Eh, aku mau bertanya sesuatu, boleh?" Ticha duduk di samping Afrinda.
__ADS_1
"Boleh," sahut Afrinda tangannya tetap sibuk merapikan lembaran kertas tugas siswa.
"Miss ada hubungan apa dengan Pak Egwin?"
Mendengar itu sontak menghentikan aktifitasnya, perasaannya sudah mulai tidak enak. "Hubungan apa maksud kamu, Cha?"
Waktu itu Ticha sedang makan siang bersama para pengajar lainnya di restoran dekat lokasi sekolah, awalnya pembicaraan mereka tentang murid-murid dan bergosip sesama guru saja. Ticha tersedak baksonya saat mendengar pembahasan tentang temannya Afrinda yang dikabarkan sudah menjalin hubungan dengan salah satu orang tua murid, kesimpulan mereka sendiri yang mengedarkan gosip itu sampai ke telinga pegawai kebersihan.
Berita miring semakin simpang siur saja, beberapa kali bunga atas nama Juardan yang datang untuk Afrinda membuat amsumsi semakin menyeleweng dan Ticha juga mendengar sebutan yang tidak pantas untuk Afrinda keluar dari mulut-mulut tidak bertanggung jawa , tentu sebagai teman, Ticha terus membela dan ikut terkena imbasnya.
"Sumpah, Cha. Aku dan Dokter Egwin tidak ada hubungan apa pun. Tujuanku hanya menjenguk Allen agar mau minum obat dan menemani pemeriksaan. Iya, Dokter itu juga ada. Tapi kami tidak pernah berbuat yang diluar batas," terang Afrinda. Kesibukannya membuat ia sampai tidak menyadari hal ini terjadi padanya.
Sampai pulang sekolah pun guru-guru lain masih terus melihatunya denfan berbagai pikiran masing-masing, tetap berjalan santai tangannya masih menggandeng Jelita erat.
"Miss Frinda!"
__ADS_1
Mau tidak menjawab, tapi rasanya tidak sopan. Tapi diladeni pun, ia sendiri yang jadi merasa sakit hati. Tetapi tetap Afrinda berhenti menunggu salah seorang giru ini bersuara.
"Mau duda siapa lagi yang akan kamu goda? Apa tidak cukup satu duda saja? Oh apa karena orang tua Jelita juga orang kaya?!"
Ingin sekali Afrinda menarik rambut panjang perempuan yang lancang mengatainya, tapi ini masih di sekopah dan ada Jelita di antara mereka.
"Maaf ya, Miss Sofia. Saya tidak ada waktu menjawab pertanyaan anda."
"Ciihh. Tampang saja yang sok good atitude, ternyata jadi perempuan yang pecicilan suka tebar pesona juga. Ih, kok bisa ada perempuan seperti kamu." Yang bernama Sofia itu berucap memaki.
"Jelita!"
Suara panggilan itu membungkam mulut Sofia yang masih ingin memaki, Afrinda dan Jelita terkejut ada Gharda yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Gharda ikut kesal mendengarnya, berjalan tegap merebut Jelita dari dekapan Afrinda. "Sepertinya saya harus menjauhkan Jelita dari seorang guru seperti anda!"
__ADS_1
Wajah Sofia mundur ketakutan, "Saya permisi," pamitnya berlari meninggalkan ketiga orang ini.
👇👇👇