Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Belum Juga


__ADS_3

Bahagia bukan main rasanya mendengar cerita dari Jelita mengatakan bahwa Miss Frind tadi pagi sudah mengajar, ada rasa rindu yang jelas malam ini berniat menjumpai langsung datang ke tempat tinggal wanita itu.


"Tapi mengapa nomornya belum aktif juga ya?" bertanya pada diri sebdiri operator yang menjawab panggilannya. "Apa dia masih menghindariku, tapi kenapa?"


Hujan semakin deras diluar sana, mamah melarang agar menunda malam ini, Gharda yang tidak bisa lagi menunggu memaksa diri.


Masih di langit dan merasakan hujan yang sama, bukan tidak tahu tentang Gharda yang terus mencarinya sampai saat ini. Astrid menceritakannya sangat antusias bahkan sudah memaksanya membuka nomor ponsel lamanya.


Suara prtir tidak menganngu lamunannya di depan jendela udara dingin tidak lantas membuatnya berniat masuk. Mengapa perasaannya pada Gharda sampai mengacaukan pikirannta, sepanjang waktu kembali pada lelaki itu begitu terus terbayang rasanya kepalanya mau pecah.


"Hilanglah dari pikiranku! Masih banyak yang lebih penting dari pada kamu ayolahh! Hahh!" Berkali-kali memukul pelan kepalanya menyugar rambutnya basah terkena percikan air hujan.


Pukul 21:30 hujan semakin deras Afrinda menutup jendela berbaring tidur, belum sempat memejamkan mata tiba-tiba bulu kuduknya meremang mendengar seperti ada yang mengetuk pintu. Menggelengkan kepala suara ketukan itu semakin jelas, hati-hati berjalan mengintip dari celah jendela. Matanya memincing mengenal betul mobil siapa yang terparkir di depan gerbang.


Berlari secepat kilat membuka kamar Astrid menarik agar bangun membuka pintu, "Katakan aku tidak ada di rumah."


"Temui saja apa susahnya?" Astrid kesal tidurnya terganggu.


"Please, Strid. Aku belum siap bertemu dia."

__ADS_1


Astrid melempar bantal ke wajah Afrinda, mencak membuka pintu menyengir wajah tampan Gharda benar-benar ada di depannya.


"Afrindanya ada?" Gharda kecewa bukan Afrinda yang membuka pintunya. Bajunya basah terkena air hujan tadi lupa membawa payung pula.


Merasa bersalah jika terus berbohong lagi pula Gharda sudah merelakan waktunya datang walaupun jarak lumayan jauh, nasib mujur pada temannya dicintai lelaki tampan. Andai dirinya juga, pasti dia bahagia.


"Maaf, Nona."


"Ahk, haha, aku melamun." Merutuki kebodohannya. "Sebenarnya Afrinda ada, tapi belum siap katanya untuk bertemu anda," jawabnya jujur.


Menarik napas panjang benar dugaanya, "Lalu saya pulang dengan sia-sia? Saya ingin menjelaskan semuanya tetapi Afrinda selalu menghindari saya. Katakan saja padanya, saya tetap menunggu sepanjang malam di sini di dalam mobil. Permisi."


"Tap-Pak, eh, Tuan! Aihh, baru mau nawarin payung. Nekat sekali "


Hampir tiga jam Afrinda tidak kunjung datang menghampirinya, Gharda tidak kehilangan harapan. Bersin berkali-kali badannya menggigil meringkuk bersandar di dashboard matanya perlahan mengantuk.


Ada yang datang mendekati mobilnya mungkin ini mimpi dalam tidurnya, semakin mengeratlan semakin dingin.


"Pak Gharda, ini aku. Buka pintunya!!"

__ADS_1


Terlonjak kaget kantuknya hilang, tersenyum lebar Afrinda berdiri di samping pintu mobil kemudi. Cepat-cepat membuka Afrinda menutup payungnya.


"Kenapa tidak pulang? Ini sudah jam berapa? Bapak juga basah, ini pasti dingin'kan?" cercanya bertubi-tubi tercengang melihat kondisi Gharda sangat kacau sekali.


"Saya tidak apa-apa, terima kasih atas perhatiaanya." Sakitnya hilang seketika tetap cool enggan menarik senyumnya namun pandangan matanya tidak bisa bohong terus tertuju pada wajah yang sangat dia rindukan.


"Astagaa!" Tidak habis pikir dengan pria ini. Membuka touth bag yang dibawanya menuangkan teh hangat dalam tutup tumbler memberikan pada Gharda. "Minum dulu."


Dengan senang hati menerima meniup pelan meneguknya perlahan. "Saya ingin menjelaskan semuanya, berikan waktumu untuk itu."


Hai, dia memaksa ini. "Jangan bahas apa pun malam ini. Nanti anda sakit bajunya basah begini, pulanglah."


"Saya ingin meluruskan kesalah pahaman ini." Keukeh Gharda.


"Pikirkan kesehatan anda, jangan seperti ini. Saya tidak akan menghindar lagi, hanya sedang sibuk akhir-akhir ini. Saya akan meluangkan waktu untuk bicara berdua saja, tapi bukan dalam waktu dekat ini."


"Kapan?"


"Saya harus menyelsaikan banyak pekerjaan, mengertilah. Saya yang akan menghubungi terlebih dulu. Pulanglah dan bawa ini untuk bapak." Memberikan touth bag yang dibawanya tadi.

__ADS_1


Belum selesai kalau terus seperti ini, Gharda menghargai keputusan Afrinda kembali ke rumah dengan hati yang belum sepenuhnya lega.


👇👇👇


__ADS_2