Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Pagi ini jadwal Gharda membuka perban lukanya ke rumah sakit, Afrinda terbangun lebih dulu menyiapkan keperluan yang akan dibawanya nanti. Beranjak membuka pintu hati-hati agar tidak menganggu siaminya masih terlelap nanti saja dibangunkannya, membuka pintu kamar putrinya Jelita juga masih tidur.


"Sayang, ayo bangun."


Tidak ada pergerakan dari Jelita, iseng jemarinya menoel pipi Jelita menusuk-nusuk terkekeh lucu. "Heey, ayo bangun.


Merasa tidurnya terganggu tangan mungilnya mengusap ada rasa geli di permukaan pipinya, ujung rambut Afrinda sengaja digesek-gesekkan tidak berselang lama Jelita mengerjap mata terbangun meraba bundamya merapat mencari kenyamanan masih mengantuk.


"Bunda tinggu 15 menit lagi ya, kalau tidak mau bangun rambutnya tidak jadi diikat seperti yang di vidio tadi malam," ancam Afrinda lembut.


"Iya, Bunda," rengek Jelita menguap.


Hari ini Jelita ada kelas tambahan di lapangan sekolah berkemah kecil-kecilan, mengecek ulang barang yang akan dibawa ke sekolah. Menunggu Jelita selesai mandi sembari menyiapkan alat tempur untuk memgikat rambut sesuai permintaan putrinya.


"Turun duluan ya, bunda mau bangunin ayahmu dulu kira sarapan bersama pagi ini."


"Oke, Bunda!" Dengan riang Jelita menuruni anak tangga menunggu di bawah bersama Oma Bibi Emma yang sedang memasak.


"Ghar, astaga belum bangun juga," decak Afrinda suaminya masih menggulung dalam selimut, mematikan remot AC berjalan ke atas ranjang hendak membangunkan suaminya.

__ADS_1


"Ghar-Aaahkk!"


Tiba-tiba badannya tertarik jatuh dalam pelukan suaminya sudah membuka mata menatapnya genit, "Untung aku masih bisa menahan badanku tidak menyentuh punggungmu, kalau tid-eh-eh, kamu mau apa, Ghar!" Afrinda mulai cemas tangan suaminya sudah menjalar kemana-kemana.


"Sayang, kapan kita melakukannya?" tanya Gharda suara memdesah beratnya.


"Kau, iss!" Setengah mati menahan desahannya agar tidak keluar, Gharda akan semakin menggila meneruskan kegiatan ini yang akan membahayakan tubuh suaminya masih belum pulih.


"Aku sudah sangat ingin sekarang, tapi kau melarangnya. Dokter itu tidak benar, aku akan bermain hati-hati agar kamu tidak khawatir, lagi pula lukanya sudah tidak berdarah lagi'kan. Sayang, aku sudah menahannya sejak lama, sudah punya istri tapi belum juga mendapatkannya. Hah," cerocos Gharda tidak terima dengan penolakan istrinya.


"Ghar."


Afrinda menunduk tidak enak, "Belum terbiasa."


"Hah!" Gharda menarik napas panjang sadar emosinya sedikit meluap pagi ini pelepasan hasratnya gagal, "Tidak perlu cuci muka, Mamah dan Jelita sudah menunggu sarapan. Ayo turun."


Gharda mengulurkan tangan mengajak Afrinda, sebisa mungkin dirinya menahan egois ini untuk kebaiknya juga.


Menerima uluran tangan Gharda berjalan bergandengan keluar bergabung memulai sarapan di meja makan, menarik kursi untuk suaminya suasana keduanya agak canggung dan mamahnya peka terhadap situasi ini.

__ADS_1


"No, Bunda," tolak Jelita saat Afrinda hendak mengisi piringnya. "Jellly sudah besar, jadi mulai hari ini Jelly akan belajar mandiri, mengambil makanan sendiri, memisahkan tulang dari daging, mengisi air minum sendiri. Bunda isi piringnya ayah saja," ucap Jelita tersenyum manis.


Suasana menghangat ketika memdengar ocehan Jelita.


Gharda tidak memyemtuh piring yang masih kosong wajahnya datar, Afrinda mengisi lauk satu per satu dan sayur lalu memberikannya pada suaminya.


Makan dengan hening agak kewalahan Jelita memotong telur dengan sendoknya, fokus akhirnya telur bulat itu terpotong dan langsung melahapnya. Gharda pun sama lahapnya tetapi seperti ada yang kurang karena masih saling diam.


"Biar mamah yang mengantar Jelly hari ini, kalian berangkat saja kerumah sakit, semoga semuanya berjalan lancar." Ny.Syeni tidak mau ikut terlalu campur pada rumah tangga putranya, ia lebih memilih menghindar meninggalkan pasangan ini.


"Ayo ke kamar kita minum obat."


Menurut bermain ponsel sembari menunggu istrinya sedang meracik obat untuknya dan menyiapkan setelan pakaian mengisi air hangat ke dalam bak mandi.


"Letakkan ponselnya, kamu harus minum obat lalu mandi, atau mandi dulu baru minum obat."


Walaupun sedang marah, Gharda tetap menuruti ucapan istrinya dengan baik dan benar. Tidak banyak membantah segera mengambil lap yang akan dipakainya untuk mamdi tidak menolak saat istrinya membantu merapikan pakaian setelahnya minum obat.


Dari tadi suaminya banyak diam, pasti dia sedang marah padanya. "S-sa-sayang, maafkan aku ya," ungkapmya merasa bersalah.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2