
"Mamah hari ini ada pertemuan dengan teman lama, Ghar. Jadi mamah tidak di rumah seharian ini."
"Iya, Mah. Nanti Jelita dititip di rumah Egwin saja. Jelly mau kan?"
Jelita mengangguk lalu melanjutkan sarapannya.
"Nanti mamah siapkan bajunya ya."
Syeni sudah memantapkan langkah yang akan diambilnya, siang ini sudah membuat janji temu dengan seseorang di lokasi tersembunyi sudah mempersiapkan semuanya
Mengantar Jelita sampai ke sekolah, Syeni putar balik ke alamat yang sudah disepakati keduanya. Dengan hati berdebar akhirnya mata mereka saling memandang cukup lama saling terdiam mengamati perubahan wajah masing-masing.
"Wajah tuamu bahkan tidak mengurangi kecantikanmu sewaktu masih muda dulu, Syeni." ucap seorang pria paru baya dengan genitnya.
Syeni melongos duduk di tempat yang tersedia, sifat penggoda lelaki ini tidak berubah juga. "Saya tidak ingin basa-basi, Danu. Kau tahu kepentinganku menuimu, itu yang harus kita bahas."
Yang dipanggil Danu tertawa renyah, sudah lama sekali tidak berjumpa sifat dingin Syeni masih tetap sama. "Sifatmu juga masih sama kau sungguh wanita yang pandai."
"Danu!" kecam Syeni memperingati ketus.
__ADS_1
Danu semakin mengencangkan tawanya beberapa saat kemudian berdehem mengubah ekspresinya lebih serius, bahkan makanan pesanan belum disentuh, didekat Syeni suasana memang seperti mencekam. "Katakan."
"Bram."
"Ada apa dengan dia?" Danu memcengkram tangannya mendengar nama itu.
"Dia sudah muncul, ternyata putri angkatnya adalah guru di sekolah cucu saya, dan Gharda mencintai guru itu, Bram membawa Afrinda entah kemana."
"Afrinda namanya." Kening Danu berkerut mengingat sesuatu. "Pantas saja Gharda memutuskan Tiffany."
"Itu bukan alasan putraku, tapi Tiffanylah yang telah berbohong di dalam hubungan mereka. Kau jangan membela yang salah sekali pun Tiffany keponakanmu, Danu." Syeni menatap tajam tidak terima nama Afrinda dibawa-bawa disalahkan.
"Baiklah, lebih langsung ke intinya saja. Saya ingin kau membantu untuk melawan Bram, karena kemampunku seorang diri tidak cukup dan kami tidak seimbang, suamiki telah tiada. Tapi dengan kita bekerja sama, kejahatan Bram pasti terbongkar."
"Dari mana kau bisa simpulkan itu? Bukankan Gharda juga cukup untuk membantumu? Dia sudah dewasa."
"Saya tidak ingin anak-anak kita ikut dalam masalah ini dan mereka tidak mengetahui apa pun, biarlah kita saja yang menyelesaikan masalah kita semdiri."
"Jika saya menolak?"
__ADS_1
"Lakukan ini demi membalaskan kematian putrimu, Danu. Apakah kau menerima kejadian itu begitu saja? Seperti dugaan Mas Alfonso suamiku, Dahlya tidak mungkin tega membunuh putrimu, mungkin saja Dahlya meletakkan entah dimana bayi itu. Sampai detik ini pun kita semua bahkan kau sendiri tidak pernah melihat isi makam bayi itu, apa kau tahu kalau makam bayimu sudah tidak ada?"
Danu tercengang mendengarnya, sekuat tenaga menahan tangis. Seumur hidup tragedi itu tidak akan hilang dari ingatannya, dadanya bergemuruh. "Jangan asal bicara."
"Bram mendirikan anak perusahaan di atas tanah makam putrimu, dan dari kesaksian warga dan pekerja disitu, tidak ada bekas makam di tanah itu, hanya sekadar tanah biasa yang dulunya lahan kosong tanpa pemilik yang jelas. Coba kau ingat lagi, Dan. Kau dan istrimu bahkan tidak melihat jasad seseorang, kau dilarang mengangkat peti itu, kau hanya melihat proses pemakan bersama dua anggota kepolisian yang menangani kasus itu, tanpa diizinkan bertindak langsung. Sekarang sudah waktunya, Danu. Cari kebenarannya, mari bergabung membalas perbuatan Bram."
Danu meremas rambutnya, kepalanya seperti dihantam benda keras bila mengingat kejadian 26 tahun lalu, anak buah Bram menculik putrinya yang baru saja lahir karena Danu dan Alfonso hampir membongkar kejahatan Bram waktu itu.
Melaporkan kejadian pada kepolisian dan berita mengejutkan datang setelah penantian kabar selama dua minggu, oknum membawanya beserta istri ke sebuah tempat yang sepi keterangan putrinya tewas meninggal ditangan salah seorang pria yang mengaku sengaja menculik seorang bayi karena ingin mempunyai anak, dan anehnya nama Bram tidak ada dalam daftar kasus tersebut padahal bukti yang diberikannya harusnya cukup kuat menyeret pria itu, kepolisian tergesa menutup kasus sampai sekarang.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihannya, Danu meminum minumannya yang sudah dipesan. Mengerjap mengembalikan kesadarannya, Syeni sangat berharap padanya.
"Saya mempunyai pertimbangan untuk penawaranmu."
"Apa itu?"
Keponakannya yang keras kepala sudah kembali ke rumah beberapa hari yamg lalu berlutut sayangnya keadaan tidak baik, wajahnya terlihat kusam dan sering melamun menangis sendirian tidak mau makan, membuat hatinya terasa sesak merasa bersalah gagal mendidik amanah anak dari sang kakak. Memikirkan hal ini selama semalaman, hal yang satu ini mungkin dapat membantu kesembuhan mental keponakannya. "Gharda harus bertungan dengan Tiffany."
👇👇👇
__ADS_1