Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bawa Aku Pergi


__ADS_3

"Nurma," sentak Danu tertahan tidak suka dengan istrinya yang terang-terangan mengusir.


Memejamkan kedua matanya rapat-rapat mencengkram punggung tangan Tiffany, Nurma gelisah benar-benar terganggu dengan kedatangan Afrinda. "Dia bukan putriku," racaunya.


Afrinda menyeka air matanya melepas tubuh dari Gharda maju beberapa langkah menghampiri Nurma berjarak, memantapkan hati untuk mulai bicara memaksa bibirnya terangkat lidahnya kelu. "Ibu," panggilnya lirih.


Ibu!?


Suara itu Afrinda, terulang beberapa detik panggilan itu ditolaknya berkali-kali membuat hatinya sakit sendiri. "Jan-jangan panggil ak-"


"Ibu!" ulang Afrinda.


"Ja-jangan!" Nurma mulai tidak stabil.


"Afrinda, jangan paksa ibuku untuk menerimamu. Sebaiknya kau pergi," sahut Tiffany marah.


"Ibu!" Afrinda tidak mempedulikan ucapan Tiffany. "Apa alasan ibu menolakku? Aku sangat merindukan sosok ibu kandungku, keluarga yang melahirkanku. Meskipun aku hidup oleh orang tua yang kaya raya, aku tetap ingin memeluk ibu dan ayah kandungku. Apakah ibu tidak merindukanku? Gharda sudah menceritakan semuanya padaku, aku masih hidup!" ungkap Afrinda di dalam tangisannya yang terasa sesak. Takut melihat reaksi penolakan ibu ya, Afrinda ikut memejamkan nata.


"Cukup, Afrinda!" sela Tiffany ketakutan memeluk Nurma erat.


"Bu, setidaknya beri aku sedikit kesempatan untuk memeluk ibu, aku hanya ingin dipeluk. Ibu tahu, aku juga tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari Mamah Dahlya. Mamah Dahlya membiarkanku hidup tanpa didikannya, tidak pernah memandikanku, tidak mengompresku saat demam. Papah Bram tidak pernah mengantar jemput ke sekolah, tidak membelaku sekalipun saat aku ada masalah di sekolah, tidak pernah muncul saat pertemuan orang tua di sekolah, tidak pernah menggendongku, tidak pernah membujukku saat cengeng. Aku hanya hidup mengikuti semua aturan itu tanpa ada satu pun dukungan dari orang tuaku, Ibu." Menarik napasnya panjang menyeka air matanya. "Saat aku tahu keberanan aku bukan anak kandung Sinatran, kehidupanku menjadi serba salah. Orang-orang menghakimiku berkata tidak bersyukur karena aku masih hidup menjadi anak orang kaya, mereka menganggap itu keberuntungan yang tidak dimiliki setiap orang. Itu memang benar. Tapi yang ingin kukatan adalah aku hanya tersenyum kecut mendengarnya, tanpa mereka sadari tekanan apa yang kuhadapi di rumah itu, orang-orang mana peduli tentang itu'kan. Sampai akhirnya aku memutuskan jalanku kabur dari rumah mencari jati diriku, mereka semakin mengataiku anak tidak tahu terima kasih, banyak caci dan makian yang kuterima setiap hari, Ibu."

__ADS_1


Pengalaman hidup yang membuatnya haus mencari keluarga kandungnya, ternyata semua tidak seindah yang diharapkannya sejak dulu. Afrinda kehilangan impian terbesar selama ini.


"Jangan teruskan," racau Nurma memegangi kepalanya meringis sakit. Tiffany semakin panik, Danu tidak berbuat apa-apa menyimak kisah Afrinda.


Dadanya terasa sesak Afrinda mencoba meraih tangan ibunya melayang di udara, bergetar ingin rasanya mengemgam tangan itu.


Satu detik.


30 detik.


Afrinda masih mengharapkannya


Jantung Afrinda merasa nyeri, harapannya pupus. "Ibu-"


"Nurma!" Danu terkejut.


"Cukup, pergi dari sini!" usir Nurma matanya sinis.


Sekalipun kisah Afrinda tidak mengubah keras hatinya, tanpa perasaan ia menjauhi putri kandungnya yang sudah ada di hadapannya.


"Aku disuruh pergi?" tanya Afrinda frustasi dan rasa kecewa menengadah ke arah Gharda yang memeluknya.

__ADS_1


Ini tidak mimpi'kan?


Sekali lagi Afrinda mencuri kesempatan memandangi wajah ibu kandungnya, tidak ada balasan yang sama membuatnya semakin mengundurkan diri menenggelamkan wajah ke dada Gharda. "Bawa aku pergi." Afrinda kalah.


Saat Gharda dan Afrinda sudah mencapai pintu, Danu memanggil berhenti memeluk Afrinda erat-erat "Maafkan ayah."


"Ini bukan salah ayah."


Keduanya bertukar pandang tatapan penuh cinta menjalar hangat ke hati. Danu ingin ikut bersama Afrinda, Afrinda melarang biarlah ayah ya tetap ditengah-tengah keluarga utuhnya. Sayangnya Danu sudah tidak utuh dengan kepergian Afrinda, mungkin ini jalan yang terbaik saat ini.


"Sebelum saya membawa Afrida dari kehidupan kalian, saya ingin menyampaikan satu hal untuk Nyonya Nurma dan kau Tiffany. Terdengar tidak sopan tapi itu nyata. Kalian berdua sama-sama seorang ibu krjam yang membuang anak kandungnya sendiri, Allendra membenci kau Tiffany, semoga Afrinda tidak membenci anda juga Nyonya Nurma. Hiduplah dengan dosa kalian, tunggu penyesalan yang menyadarkan kalian. Ibu dan anak baru itu sama saja!" Gharda menuntaskan kekesalannya lewat ucapan pedasnya. "Satu lagi! Tanpa anda, saya pastikan Afrinda akan menerima kasih sayang dari ibu lain yaitu mamah saya Syeni yang akan menjadi martuanya." Gharda tersenyum sinis.


Ini adalah beban yang harus ditanggung Danu, tidak mendengar panggilan Nurma melarang jangan mengejar Afrinda.


"Tinggalkan ibu sendirian, Tiffany."


Tiffany terdiam, berat hati ia keluar.


👇👇👇


Aku nggak bisa buat naskah yang mewek mewek begitu ya, kurang baper jadinya.

__ADS_1


__ADS_2