
Kesakitannya semakin menjadi-jadi pengelihatannya buram rasanya seperti mengantuk tetapi masih dilawan pada akhirnya tidak sanggup dan memejamkan matanya, sebelum kesadarannya benar-benar menghilang sempat mendengar keributan dari luar mobilnya.
Meminta bantuan pada warga yang lain bekerja sama menggotong tubuh Ardan membawa ke puskesmas setempat, petugas membuka gerbang kedatangan malam begini ada pasien. Beberapa warga sudah kembali ke rumah dan masih ada beberapa bapak-bapak tetap menunggu.
Setelah berkonsultasi dengan RT, membiarkan Ardan sampai pulih, semua tanda pengenal membuat tidak perlu dicurigai lagi.
Cahaya matahari menembus dari celah jendela mengerjap beberapa kali Ardan membuka matanya, sempat kebingungan ini dimana, beberapa saat ia mengingat lagi tentang kegilaannya.
"Apa dia benar-benar meninggalkanku?" tanyanya pada diri sendiri. Tangannya meraba ada sesuatu yang menempel di ujung bibirnya dan ada olesan obat di keningnya. Siapa yang membawanya kesini?
Ketukan pintu membuatnya terkejut, seorang pria paru baya muncul dari balik pintu menghampirinya. "Anda sudah sadar rupanya, syukurlah."
Ternyata pria ini adalah dokter di puskesmas, tidal ada luka yang mengkhawatirkan semua baik-baik saja. Setelahnya ia menerima bungkusan plastik yang berisi barang-barangnya dan mendengar penjelasan dari dokter bagaimana ia sudah terbaring di brankar ini.
Dokter keluar untuk melanjutkan tugasnya, masih duduk bersandar menunggu sarapan pagi yang akan diantarkan petugas. Membuka plastik mengabsen satu per satu barang yang ada di dalamnya, semua masih utuh bahkan jumlah uang pun tidak ada yang berkurang. Tapi satu hal yang mengganjal hatinya, dari cerita tadi ia masih bernapas lega ternyata Afrinda masih peduli padanya meskipun dengan cara seperti ini.
Yang menjadi pertanyaan membuatnya merasa gelisah, tas Afrinda ada padanya, bagaimana dia pulang? Ahk,, merutuki dirinya menyesal melakukan hal bodoh ini.
__ADS_1
Di tempat lain Afrinda ketiduran dan baru saja bangun, emperan toko masih sepi yang menjadi tempat ia beristirahat tadi malam. Sebelum pemiliknya keluar ia bergegas melanjutkan perjalanannya, matahari pagi lama-kelamaan kelaparan juga.
Memutuskan duduk di depan salah satu rumah makan yang baru saja dibuka, menyeka keringatnya menarik napadnya. Mencari jam dinding yang ada di dalam sudah pukul 10:00 pagi, pantas saja rasanya sangat kelaparan tadi malam pun ia tidak makan.
Mengikuti gerak si penjual menghidupkan layar televisi, Afrinda ikut menonton sambil merenggangkan otot kakinya sekalian. Tayangan yang disiarkan seperti petir di siang bolong, Gharda sedang berbicara live di dalam layar namanya disebut berkali-kali. Seksama mencerma apa saja yang diucapkan Gharda membuatnya semakin paham dan menyimpulkan mengapa ia bisa bernasip sial dengan adanya berita hoaks itu, tidak lepas dari hubungan dengan kekasih Gharda. Baru saja ia mengingat, Tiffany tidak pernah datang setiap kali ia ada di sisi Gharda, Jelita yang sangat memujinya dan terus menempel. Tanpa sadar kehadirannya justru membuat hubungan mereka menjadi menjauh, Tiffany cemburu padanya.
Pemikiran itu berkecamuk dalam benatnya, mulai merenungkan sesuatu yang dirinya sendiri sulit memahami harus bagaimana posisinya.
"Mbak."
Perempuan muda yang menyalakan tv tadi datang menghampirinya, mereka berdua bersitatap sejenak.
Perempuan itu tanpak antusias.
Afrinda tersenyum saja. Sebegitu besarnyakah berita itu sampai wajahnya bisa dikenali padahal bukan artis, mungkin ini penggemar berat Tiffany yang biasanya sering mencari tahu seluk-beluk seorang aktris favoritnya.
Perempuan muda ini sangat ramah, dia tidak membahas perihal berita itu. Justru ikut bersimpati saat mendengar cerita ia bisa sampai ke kota ini, menawarkan makanan gratis mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Meminjam ponsel mengetik nomor Asttid menghubunginya agar menjemputnya ke alamat yang sudah diketik dari chat whatsapp.
Hampir dua jam menunggu Astrid, duduk termenung sendirian di sudut meja masih memikirkan yang tadi, tidak menyangka saja dirinya ikut terseret dalam keretakan hubungan sepasang pablic figur yang cukup dikenal banyak orang. Serumit inikah masalah datang padanya, padahal.ia hanya ingin fokus menjadi seorang pendidik anak-anak TK.
Astrid langsung memeluknya menangis lebay, Afrinda tersenyum sudah terbiasa dengan karakter sahabatnya ini.
"Apa kau tidak mau memberitahukan keberadaannmu pada Pak Gharda?"
"Hubungannya apa?"
"Jelly mencarimu, menangis sepanjang malam kau tidak ada di sebelahnya."
"Dia ayahnya, aku hanya gurunya. Lebih pantas Pak Gharda bukan aku, naluri seorang ayah pasti bisa menenagkan Jelly sekalipun nanti tentrum lagi."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Jangan beritahu aku sudah pulang pada mereka, biarkan saja seperti seharusnya apa yang terjadi. Aku rindu dengan keluargamu, aku ingin menginap selama masa skorsingku. Bolehkan?
__ADS_1
Afrinda meemutuskan menjauh dari krhidupan Gharda untuk sementara waktu sambil menengkan pikirannya. Setelah berpamitan pada pemilik rumah makan, Astrid melajukan motornya membonceng Afrinda membawa ke alamat rumah keluarganya.
👇👇👇