
Bagai petir di siang bolong semua terkejut mendengar ucapan permohohan Jelita, Afrinda menahan malu ditatap semua orang bahkan sempat bertemu pandang dengan Gharda. Gharda tercengang mendengar jantungnya berdegup kencang sekarang dan untung ada kosstum badut ini yang menutupi wajah meronanya. Keheningan itu terganggu dengan bisikan mengarah pada arah meja ulang tahun dengan berbagai macam perasaan.
Jelita meniup lilinnya setelah selesai berdoa, tidak peduli dengan sekitarnya yang masih bertanya tentang doanya. Ia hanya anak kecil yang benar-benar menyampaikan permohonannya dengan tulus pada Yang Maha Kuasa, di perayaan ulang tahun ini dengan tegas dan konsisten ia mengulang doanya yang setiap malam disampaikannya.
Suara tepuk tangan bergema lilm padam, senyum lembut Afrinda membantu Jelita mencabut lilin untuk memotong kuenya.
Egwin tepuk tangan dengan tersenyum kecut, merangkul putrinya Allen yang tertunduk hampir menangis. Berusaha menghibur agar tidak sampai terisak, ia sangat paham karena mereka berdua sudah kalah satu langkah untuk mendapatkan Afrinda.
Suasana di depan terlihat jelas sangat canggung, Ticha berseru untuk acara pembagian kue.
"Kue pertama untuk siapa, Jelly?" Ticha bertanya seraya menginstruksikan agar Jelita memulai suapan kue pertama. Dan ini juga bagian yang ditunggu-tunggu.
"Un-ntuk Miss Frind," jawab Jelita pelan.
Suasana menjadi heboh para maid menggoda Afrinda agar mau membuka mulutnya, bersorak cie-cie yang membuat pipi Afrinda semakin memerah seperti kepiting rebus.
"Jelly, om badut yang bantu kamu menyuapi Miss Frind!" Rivzal merebut mikrofin dari Ticha, sungguh ini sangat manis sekali agar mempercepat proses pendekatan.
Jelita mendongak matanya memohon pada om badut, Gharda tidak bisa menolak. Tangan bergetar ia menuntun tangan Jelita memindahkan potongan kue ke dalam lepekan kertas kemudian mengarahkan ke wajah Afrinda.
DEG!
__ADS_1
Posisi mereka semakin dekat, hanya ada Jelita yang menjadi penengahnya. Wajah keduanya kembali sejajar mata saling mengunci waktu seakan berjalan lambat, Gharda dapat melihat kecantikan wajah Afrinda dari dekat.
"Om Badut kok diam saja?" Jelita bertanya sedari tadi kuenya menggantung di udara, tangannya pun sudah kebas.
Sangkin terlalu gugupnya, tidak sabaran Afrinda menyodorkan wajah ke arah sendok langsung melahap kuenya.
"Iiriii sayaa, irii!" Rivzal semakin memanas-mamasi suasana. Tertawa bersama kue pertama sukses diterima oleh calon mamah baru atau calon istri baru Gharda.
Suapan ke dua untuk omanya, dengan penuh sayang omanya memeluk Jelita menghapus air mata haru.
Kue ke tiga, Jelita hanya meletakkan membiarkan kuenya begitu saja. Ayahnya tidak datang, ini untuknya.
"Om Badut boleh makan kue itu?" Gharda memberanikan diri menunjuk kue yang seharusnya untuknya, bukan atas nama om badut.
Gharda terenyuh, lagi ia menahan gejolak perasaanya tidak terduga Jelita mau menggantikan posisi kue ke tiga itu untuknya. Menerima dan mencium aroma kuenya, tentu ia tidak bisa memakannya takut ketahuan kalau sampai ia membuka penutup kepalanya. Diberikan kesempatan seperti ini saja rasanya bahagia sekali.
Jelita menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar membuka penutup kepala, ini bagaimana sekarang?
Meminta pertolongan pada Afrinda bicara lewat mata, paham apa yang dimaksud. Tangannya membuka hanya sebatas mulut lalu menunduk mensejajarkan kursi roda, tanpa banyak bertanya kue itu dikunyah dengan rasa haru.
Semuanya kembali bertepuk tangan ria.
__ADS_1
Acara selanjutnya bermain di taman samping rumah, semua anak-anak berlarian menaiki wahana mainan versi taman pribadi yang memang ada dibuat dirancang di pekarangan rumah Gharda.
Allen juga ikut bergabung, sebelum itu ia menyalam ucapan memeluk cium sahabatnya itu.
Semua asik bermain ditemani om badut juga, Jelita duduk ditemani oma dan Miss Frind.
Ada sesustu di antara ranting pepohonan yang tergantung tepat di arah kepala Allen bermain, terus mengamati Jelita menangkap sesuatu yang berbahaya akan terjadi pada sahabatnya.
Ular, itu ular! Badanya bergetar pergerakan ular semakin dekat dengan tanah, jantungnya berdegap kencang adrenalinnya meningkat untuk mengeluarkan suaranya mengerahkan semua tenaganya.
"Aallen awass ada ular di atas pohon itu!" Jelita berteriak.
"Papah!"
Egwin berlari menggendong putrinya sebelum ular itu meloncat ke bawah, mengusap Allen kulitnya memucat. Untung obat selalu tersedia dibawanya.
"Ini ular mainan kok." Santai Jheve mengangkat ular maiman itu.
Rivzal tentu tidak selengah itu, ia hanya tersenyum remeh menyangkan tindakan ceroboh orang yang di luar gerbang sana hampir mengorbankan nyawa anaknya. CCTV komplek sudah ada dalam gemgamannya.
"Peringati pada mantan istri anda itu jangan macam-macam dengan keluarga Tuan Gharda, dan anaknya ikut korban." bisik Rivzal saat berpapasan dengan Egwin yang baru saja dari dapur.
__ADS_1
👇👇👇