Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Mabuk


__ADS_3

Bukannya karena kelelahan atau karena capek, hanya saja ia sedang tidak ada semangat dan pikirannya sedang kacau. Biasanya seorang Tiffany tidak pernah loyo, terus bekerja tanpa mengenal lelah bahkan orang lain harus berkorban untuknya. Harusnya malam ini adalah jadwal pemotreran untuk edisi terbitan untuk minggu ini, tapi dengan seenaknya saja ia menghentikan dan membuat cruw menunggu kapan moodnya kembali.


"Heh, mau sampai jam berapa kita mulainya? Semua sudah stay dari tadi, kamu enak-enakan duduk santai di sini!" hardik Ardan kesal dengan tingkah laku Tiffany.


Tiffany tidak mempedulikan ocehan Ardan, ia menatap malas pada cowok gondrong ini.


"Tiffany! Ini sudah jam berapa? Jam 21:30, dari jam 20:00 sampai sekarang kamu tidak memberi penjelasan, jadi tidaknya pemotretan malam ini. Kamu asyik sendiri dengan lamunanmu, tanpa mempedulikan orang lain yang sudah membuang waktunya hanya untuk meladinimu! Ngomong sekarang, Lanjut atau kami pulang?!" erang Ardan frustasi sendiri.


Ardan tidak mendapatkan reaksi apa pun dari Tiffany. Melihat jam tangannya menarik napasnya kasar, melihat layar ponselnya. Harusnya malam ini ia bisa menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Afrinda, sesuai dengan perjanjian mereka jam 21:00 di kafe 24 jam yang tidak jauh dari tempat tinggal Afrinda. Tapi ini saja mereka belum mulai, ahk. Lagian percuma saja, pasti Afrinda sudah pulang karena tidak mungkin menunggu sudah setengah jam terlambat. pikirnya.


"Suruh mereka semua pulang, tapi kamu Ardan tetap di sini temani saya," titah Tiffany setelah lama berkuat dengan lamunannya.


Ardan menolak tetap ingin ikut pulang, namun tiba-tiba ia merasa kasihan juga melihat Tiffany memelas untuk tetap bersamanya malam ini.


"Ikut aku ke ruanganku."

__ADS_1


Ardan menurut mengikuti Tiffany. Semua sudah pulang dan gedung sudah sepi, hanya tinggal mereka ber dua di dalam. Tenang saja, Ardan masih waras tidak akan melakukan sesuatu yang diluar wajar.


Mata Ardan terbelalak melihat ada satu isi lemari yang sedang dibuka Tiffany, berbagai macam rasa minuman alkohol beserta racikan-racikannya. Dengan santai tanpa beban Tiffany membawanya satu per satu menghidangkan di atas meja tamu.


"Pilihlah yang mana kau suka. Ini gratis," ujar Tiffany seraya mengisi gelas untuknya dengan gerakan elegan.


"Maaf, aku tidak peminum sepertimu," tolak Ardan menggeleng menjauhkan gelas yang disediakan untuknya.


"Lemah!" Tiffany tersenyum mengejek dan sudah meneguk minumannya seperti meminum air putih.


"Kau tahu, mabuk itu bisa menghilangkan stres kita. Dan inilah yang aku lakukan kalo sedang stres." Suara Tiffany sudah berat dan meracau bahkan tapi terus melanjutkan minum.


"Tiffany! Kau sudah mabuk!" Ardan membentak menjauhkan botol-botol minuman ke lantai.


"Masih mau minum lagi," racaunya setengah berteriak menggemgam erat satu botol minum yang ditarik paksa Ardan.

__ADS_1


"Cukup Tiffany!" Sekuat tenaga menarik tangan Tiffany, justru ia di dorong dan jatuh di lanrai. "Tiffany!"


Gluk Gluk Glukk!


Tiffany menghabiskan sekaligus isi satu botol itu, sampai tenaganya melemah membuat botol jatuh pecah dilantai.


Ardan panik membopong tubuh lunglai menidurkan di atas sofa membenerkan posisi kaki dan membuka jaketnya kemudian menyelimuti ke badan Tiffany.


"Ah-A-Al-Allen," gumam Tiffany dalam bawah sadarnya.


"Allen siapa itu. Merepotkan," gerutu Ardan seraya membersihkan pecahan beling dan merapikan meja mengembalikan minuman ke dalam lemari.


Mendekati mengusap pipi Tiffany, dia menangis? Dari sudut hatinya, ia sadar bahwa gadis ini sedang butuh teman untuk berbagi cerita, tapi Ardan juga harus tahu posisi dan mersgu dengan sifat Tiffany yang bisa saja mematuknya'kan? "Aku pulang, semoga kau baik-baik saja apa pun maslahmu," ungkapnya tulus. Namun sebelum ia berdiri, telinganya mendegar pelan erangan dari bibir Tiffany.


"Jangan pergi."

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2