
Saat orang lain kini berbalik memberi simpati kepadanya melalui komentar di sosisl media, sebenarnya Tiffany sedang tersenyum di dalam ruangannya merasa lega telah berhasil memanipulasi keadaan pada orang lain. Satu harian sengaja mengurung diri dalam kamar agar orang sekitarnya percaya bahwa ia benar-benar sedih, jual mahal setiap diajak makan dan untuk bertemu dengan Gharda. Mentrasfer bayaran kerja keras ke rekening Sofia sumber infosmasi utama, ternyata tidak sulit melakukan semua ini selagi uang masih menguasai.
Satu hari sudah berlalu sudah saatnya ia harus menampakkan diri, mengaktifkan ponselnya deretan panggilan Gharda terdapat dalam layar. Berdandan secantik mungkin keluar memulai pekerjaanya, memasang senyum mengatakan ia baik-baik saja.
Ardan tidak ada kabar dari semalam hingga pagi ini, padahal sebentar lagi mereka ada jadwal pemotretan lagi. Nomornya diluar jangkauan, bertanya pada teman yang lain jawabannya tidak tshu kemana. Hah! Mungkin Ardan balas dendam padanya, selama ini dirinyalah yang sering sesuka hati mengatur jadwal. Ardan tidak datang terpaksa harus menunda pekerjaan hari ini, masih ada hari besok.
"Tuan Gharda ingin bertemu dengan anda, untuk meluruskan masalah ini. Tuan Gharda menunggu anda jam 10. 30 di ruang studio perusahaan beliau." Sketarisnya datang memberitahukan apa saja yang terjadi kemarin, Tuan Gharda sempat mendatangi kantor dan menitipkan pesan ini padanya agar menyampaikan kepada bosnya.
Tiffany mengangguk saja, bersiap kembali merias wajah waktu sudah saatnya berangkat.
Gharda di ruangannya juga sudah bersiap untuk konversipers sebentar lagi, menarik napasnya berkali-kali pusing memikirkan apa yang harus dikatakannya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
mamahnya datang menggandeng Jelita yang sudah bisa berjalan normal, senyumnya mengembang ada Jelita yang tampaknya tidak setakut kemarin saat melihat wajahnya. Hanya saja gadis kecil itu masih enggan bicara panjang lebar menyahut setiap ucapannya.
"Halo sayangnya ayah," sapa Gharda menunduk mensejajarkan badan mengusap surai milik Jelita.
Jelita hanya mengangguk menggerakan bibir mungilnya menunduk masih sedikit teauma setiap bersitatap langsung dengan wajah ayahnya.
__ADS_1
Begini saja dulu tidak apa, semoga besok hubungan mereka sudah membaik. Usahanya tadi malam saat menenangkan tentum Jelita tampaknya membuahkan hasil, awalnya meragu namun uluran tangannya diterima juga.
Hatinya berdesir hangat, ia berjalan bergandengan dengan putrinya.
"Jjellyy!"
Pekik Allen kegirangan berlari memeluk Jelita menghentikan langkah mereka, dua sahabat saling berpelukan seperti tidak bertemu berapa lama saja.
Rivzal menyusul muncul dari belakang Allen, tersenyum enteng merasa tidak berdosa bersalah telah menganggu kemesraan bersama putrinya. "Kenapa kau bawa anak itu ikut ke sini?" tanyanua kesal.
"Jelly cantik ini baru pertama kali keluar, keberadaan Allen bisa membuat dia lebih pede ada temennya."
Allen mengerti ia ditolak, memelas agar tetap ikut pada Jelita. Jelita mendongak pada ayahnya, "Allen ikut."
Baru saja mulutnya ingin merutuk lagi, mamahnya sudah lebih dulu mengajak kedua gadis kecil ini berjalan seraya bercererita ringan.
Rivzal tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Di parkiran gedung mobil yang mengantar Tiffany sudah sampai, didampingi satu pria berpakaian serba hitam dengan percaya diri berjalan memasuki area studio konten yang berada di lantai 5. Waktu tinggal lima menit lagi, ia tidak terlambat.
Sang bodyguard membuka tirai pintu lorong menuju ruang konten lalu berjalan kembalu ke parkiran menunggu di mobil, bola matanya membulat melihat siapa yang ia kenal sedang duduk di samping Jelita. Ada urusan apa sehingga Allen bisa ikut bersama Gharda? Jika ia tetap masuk, Allen mengenalnya akan memanggilnya menyebut mamah. Semua bisa ketahuan. Jika tidak masuk, waktunya tinggal tiga menit lagi.
Gharda dan Nyonya Syeni sepertinya sudah masuk ke dalam, hanya ada sketaris Gharda menjaga Jelita dan Allen.
Waktu tinggal dua menit lagi. Tiffany panik mencari pintu lain untuk masuk, lorong ini pintunya cuma satu dan ruangan di sini rata-rata dikunci semua.
Waktu tinggal satu menit lagi, tidak ada cara lain untuk masuk. Sangkin merasa panik tidak sengaja tangannya menyenggol pas bunga hiasan dinding menimbulkan suara gaduh, Allen berbalik menghadap pintu.
Sedetik wajah leduanya bersitatap.
"Mamah!" Allen berteriak memanggil sangat mengenali wajaha mamahnya yang sering foto ditunjukkan papahnya. Kakinya berlari mengejar mamahnya menghindar bersembunyi entah kemana.
"Mamah,,,mamahh,,mamahh!" Allen semakin menangis mencari mamahnya, menunggu di depan lift tapi tidak tahu cara menggunakannya, membuka kamar mandi mamahnya tidak ada. Terisak Allen terus memanggilnya, sampai satpam datang menghampiri Allen. Satpam masuk ke dalam kamar mandi tapi tidak mencari keseluruhan, mengatakan mamahnya tidak ada di dalam mungkin Allen hanya salah melihat saja. Tanpa beban tangan satpam sudah me utup pintu dari luar kemudian mengantar Allen kembali ke tempat di mana tadi ia bersama Jelita yang ikut cemas menunggunya.
Setelahnya satpam pamit undur diri, sebelum itu bertukar senyum tipis kepada Rivzal yang mengedipkan mata ke arahnya.
__ADS_1
👇👇👇