
Lelah sebenarnya terus menerus didesak seperti ini, ingin mengabaikan panggilan dari papahnya tapi segan, mengangkat pun membuat hatinya terluka mendengar lagi hal yang sama menuntutnya.
"Halo, Pah."
Sebentar lagi waktu seminggunya akan habis, ia harus segera memberi keputusan yang akan mengubah arah kehidupannya. Kedua pilihan yang dikatakan papahnya tidak ada yang menguntungkannya, apa pun yang dia pilih nantinya tidak akan sesuai dengan hatinya.
Dia gadis yang saat itu berusia 5 tahun diadopsi oleh sepasang orang yang namanya terhormat di negara ini membawanya keluar dari kejamnya dunia jalanan, memandikannya mengobati semua bekas luka di permukaan kulitnya, dibiayai segala kebutuhannya dan tersemat nama 'Sinatrani' di belakang namanya, selimut tebal menghangatkan tidurnya jauh berbeda saat ia harus tidur di deras dan dinginnya hujan, banyak fasilitas dan materi finansial sangat mencukupi kehidupannya.
Semua itu masih menyenangkan dan belum mengerti apa yang terjadi setelah ini, sampai di mana usia 17 mengungkapkan cita-citanya ingin menjadi guru taman kanak-kanan, orang tuanya menentang keras.
Mulai merenungi apa yang sudah dialaminya dari semenjak dirinya diasuh, semuanya sudah diatur. Tidak boleh bermain sembarangan, teman hanya yang satu kasta mereka, semua kesukaan baik barang maupun makanan adalah pilihan mamanya, sedetail itu adalah mamahnya yang mengatur. Berpikir bahwa inilah bentuk kasih sayang, inilah yang dilakukan semua orang tua pada anaknya. Semua itu berubah semakin beranjak dewasa SMA mulai memperbanyak teman, saling bercerita antar teman mulai terbuka tentang apa itu jadi diri sendiri. Dapat ia simpulkan, semua yang diberikan orang tua angkatnya adalah bukan kasih sayang tulus melainkan hanya sebatas formalitas saja.
Adik lelakinya adalah anggota polisi, adik perempuannya seorang pramugari, papahnya pensiunan pejabat elit negara, mamahnya masih aktif di bidang politik entah bagian apa, ada beberapa sepupunya bergabung TNI. Semua anggota keluarga mempunyai profesi yang terpandang, dirinya memilih profesi yang menurut keluarganya bukan bagian dari mereka. Melanjutkan study kedokteran dan itu adalah mutlak.
Berhasil kabur tiga tahun terakhir nekat disertai makian yang keluar dari mulut keluarga besarnya, sekarang adalah titik kehancurannya akan kembali pada keluarga itu.
Tubuhnya meluruh ke lantai tangisannya pecah sejadi-jadinya bertarung dengan batinnya yang rapuh, tidak bisakah ia hidup seperti sekarang ini saja.
__ADS_1
"Frinda!" pekik Astrid berlari memeluk Afrinda yang tampak kacau. "Apa yang terjadi, Frind?"
Setelah puas menangis di pelukan sahabatnya, menerima air minum dari Astrid meneguknya hingga tandas tak bersisa. Barulah ia mulai bercerita.
"Seminggu ini aku harus mengundurkan diri dari sekolah dan harus pulang pada keluarga angkatku."
"Kau sudah memikirnya dengan baik menuruti mereka?"
"Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengiyakan, menolak lebih bahaya untuk kalian."
Papahnya sudah mengetahui semua kegiatannya, tidak terkecuali dengan Ardan dan Gharda. Bukan Gharda yang menutup kasus berita itu dari sekolah, tapi papahnya yang memberikan suap pun pada wartawan segera cepat bertindak menghapus semua berita itu. Papahnya juga mengancam jangan bernani berpacaran dengan siapa pun baik Ardan maupun Gharda, sampai itu terjadi maka kedua lelaki itu berada dalam bahaya, kekuasasn mampu melakukan dengan sekejap mata. Kalau sudah nanti tiba di rumah, semua yang berhubungan dengan dirinya sekarang wajib diputuskan, termasuk persahabatannya dengan Ticha dan Astrid juga harus memutuskan komunikasi, jika menolak maka ke dua temannya pun mendapatkan hal yang sama dari papahnya.
Inilah alasannya ia menolak Ardan, selain tidak cinta juga karena Ardan akan mendapat ancaman dari papahnya.
"Lalu bagaimana perasasnmu dengan Tuan Gharda itu?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Kau bohong!"
"Strid!"
"Afrinda, aku mengenalmu. Kamu menyukainya tapi kamu memendamnya seorang diri, akuilah."
Afrinda menyukai Gharda saat mereka ber dua merawat Jelita waktu itu, tetapi dengan pertimbangan dengan aturan keluarga, sekuat mungkin menahan perasaannya, selain karena Gharda memiliki kekasih. Sama-sama dewasa ia bisa menangkap sinyal perasaanya terbalas, tingkah laku Gharda jelas memperlihatkan pria itu juga suka padanya. Jika sampai keduanya nekat mewujudkan persaan itu, sudah pasti Gharda juga ikut dalam bahaya. Biarkan semua mengalir dengan waktu, sulit membayangkannya.
"Gharda juga orang kaya, dia pasti bisa membantumu keluar dari keluarga itu."
"Tapi papahku punya banyak peluang memanipulasi keadaan, papah punya relasi dari orang dalam negara yang mau membantunya. Papah orangnya licik dan manipulatif."
"Sebegitunya."
"Tolong rahasiakan ini, Strid."
👇👇👇
__ADS_1