
Perayaan ulang tahun berakhir dengan menggembirakan meskipun sempat terjadi kekacauan kecil, ular mainan itu justru dibawa pulang Jheve pria kecil itu tertarik dengan mainannya.
Hari sudah semakin sore dan semua berbagi tugas membersihkan sisa dekorasi, Jelita sudah dibawa ke dalam kamarnya melarang Afrinda pulang cepat.
"Jelly harus melatatih suaranya seperti tadi ya, biar cepat sembuh. Masuk sekolah lagi, belajar sama Miss sama temen-temen juga." ujar Afrinda seraya membuka ikatan rambut Jelita hati-hati.
"Iya, Miss."
Menuntun berjalan perlahan ke dalam kamar mandi, seperti ibu kandung melakukannya dengan hati dan perasaannya. Jelita mampu menuruti Afrinda karena ia merasa percaya pada juga kenyamanan yang bahkan tidak didaptkan dari ayahnya.
Ayah?
Satu hari ini ayahnya tidak ada ikut merayakan ulang tahunnya, orang rumah juga tidak ada membahasnya.
"Miss."
"Iya, Jelly."
Berdiam satu menit Jelita masih enggan bertanya keberadaan ayahnya, "Tidak jadi."
Tersenyum tipis sebenarnya ia mengerti apa yang ingin dikatakan Jelita, Afrinda tidak memaksa dulu. "Tidak jadi bicaranya? Ya sudah, deh."
Ini memang satu cara yang meraka rencanakan, jangan bahas tentang ayahnya sebelum Jelita sendiri yang bertanya terlebih dulu. Dokter psikologi bilang sebenarnya Jelita hanya butuh waktu untuk memaafkan ayahnya, usia sekecil Jelita harus dilakukan senatural mungkin agar tidak memaksa yang bisa berujung depresi.
__ADS_1
Gharda mengintip dari celah pintu kamar putrinya, hanya ini yang bisa dilakukannya saat ini. Jangan menampakkan diri dahulu, tapi bukan berarti ia harus menjauhi, tetap harus berada di sekitar Jelita.
Berjalan ke dapur turun tangan membuat makan malam Jelita, didampingi mamahnya dan Bibi Ema. Mendengarkan seksama meracik makanan menata nanti Afrinda yang akan membawanya ke kamar.
"Aku duluan ya." Jujur saja masih canggung untuk bertemu langsung dengan Afrinda karena kejadian tadi, masuk ke dalam kamarnya tidak tahan jika harus terus melihat wajah Afrinda.
Nyonya Syeni dan Bibi Ema tersenyum lucu.
"Ada apa ini, Nyonya, Bibi?" Afrinda heran sendiri meperhatikan senyuman kedua orang tua ini.
"Tidak ada. Oh iya, dari kemarin kamu terus memanggil nyonya dan nyonya. Mulai sekarang biasakan memanggil mamah, ma-mah. Ingat itu!" tekan Nyonya Syeni.
"Tapi, Nyonya," tolak merasa tidak pantas.
"Ma-mah. Afrinda ke atas dulu." Baiklah ia mencoba untuk kali ini, tergesa membawa makanan ke kamar Jelita.
Menenangkan kegugupan mengelus dada, sudah sejauh ini kah untuk menjodohkan mereka berdua? Merasa serba salah sendiri.
Ting!
Dering pemberitahuan ponsel Afrinda, meletakkan nampan membuka membaca isi pesan di layar ponselnya.
"Makanan itu masakan saya dibantu mamah dan bibi, kamu juga makan ya. Balas pesanku nilai masakanku. Heheπ€π"
__ADS_1
Hampir meledak tawanya membaca pesan dari Gharda, ada emoticon segala. Ini seorang Gharda'kah?
Di dalam ruang kerjanya Gharda tersenyum-senyum sudah centang biru, mengetik menunggu balasannya.
"Baiklah."
Hanya itu? Singkat sekali!
Menggeleng berdecak sebal, sedetik kemudian merutuki memukul kepalanya merasa bodoh dengan tindakannya sendiri.
Melanjutkan pekerjaanya membuka laptopnya, baru saja ia membaca suara ponselnya mengganggu konsentrasinya. Tiffany meneleponnya, sudah beberapa hari ini ia tidak bertukar kabar dengan kekasihnya.
"Ada apa?"
"Ghar, tolong aku. Ada ular di dalam apartementku."
"Panggil damkar, petugas apartemen, bukan aku. Pekerjaanku masih banyak!"
Tut...Tut...Tut..
Tuuutt!
"Ahkk, Sial!" Tiffany menggeram frustasi, niat mencari perhatian Gharda justru penolakan yang diterimanya. Sepulang dari perjalanan misinya terkejut ada bangkai ular di dalam kamar mandinya.
__ADS_1
πππ