Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Jadian???


__ADS_3

Memoles bedaknya menyeluruh ke permukaan wajahnya, mengoles benda panjang merah muda ke permukaan ke dua bibirnya, menyemprotkan parfum terbaiknya, berkaca sekali lagi memperhatikan penampilannya sudah siap atau masih ada yang kurang.


"Sudah cantik," pujinya pada diri sendiri tersenyum-senyum.


"Wwawww! Satu titik dua koma, Afrin yang cantik Ardan yang punya!" Astrid berpantun tertawa lebar menggoda Afrinda yang muncul dari kamar sudah berpenampilan memukau.


"Semoga lancar ya, Strid. Mudah-mudah kali ini Ardan menepati janjinya." Sebenarnya Afrinda ragu untuk datang, bujukan dan rayuan Ardan di chattingan mereka membuatnya memutuskan untuk datang.


Astrid mengantar Afrinda sampai ke depan teras lalu dadah-dadah setelah Afrinda masuk ke dalam taxi. Mengunci pintu gerbang masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tadi Afrinda minta bantuan padanya menyelesaikan lipat kertas untuk besok sekolah.


Tempat yang sepi di atas balkon kafe, pemandangan gemerlap lampu-lampu gedung spesial untuk mereka berdua. Di meja yang sudah dipesan Ardan dihiasi lilin dan ada buket bunga di atas meja, 'I L U too Afrinda' surat di dalam rangkaiannya. Mengusap.air mata terharu, menghirup aroma bunga dalam-dalam.


Tidak lama kemudian salah seorang pelayan datang menghampirinya membawa dua minuman untuknya, setelah dijelaskan kenapa harus dua cangkir barulah Afrinda mengangguk mengerti.

__ADS_1


Membuka sepucuk surat kecil yang terselip di bawah timpa cangkir, 'kopi, jika kau menolakku, coklat hangat jika kau menerimaku, pilih dan minum sesuai dengan jawabanmu.' Ardan menembaknya.


Mungkin dia sempat merasa jengah dengan Ardan yang selalu menerornya memberi bunga setiap hari, lama-kelamaan dengan rayuan manis sudah serimg vidio call bertukar cerita juga sudah. Dengan komunikasi semenyenangkan itu membuat Afrinda jadi terbiasa dan nyaman dengan sendirinya, tanpa ragu tangannya terulur meraih cangkir yang bersi coklat panas kemudian meniupnya perlahan lalu meminnya sudah habis sambil menunggu Ardan yang sampai jam segini tidak kunjung muncul.


Centang abu-abu pesannya belum dibaca, dia bohong. Afrinda mulai menangis merutuki kebodohonnya, mudah sekali percaya padahal mereka belum ada dua mingguan bertemu dan menjalin komunikasi. Lihat sampai jam 21:45 belum datang bahkan kabar pun tidak ada, mau menelepon sudah tidak ada niat lagi. Pembohong!!


Meminum cangkir kopi yang sudah dingin sampai hanya ampas yang tersisa, mem_foto ke dua cangkir yang sudah tandas mengirimnya dan keputusannya bulat blokir nomor Ardan dari kontaknya. Keluar dari kafe mempertahankan senyum agar terlihat baik-baik saja, membuang buket bunga merobek kertasnya ke dalam tempat sampah. Ini sudah berakhir jangan mudah terkena rayuan Ardan lagi. Tepat jam 22:00 ia keluar dari kafe.


Tttinnn...!!


Dengan terpaksa Afrinda masuk ke dalam mobil dokter dan sedikit bercerita kenapa sampai jam selarut ini sedang berjalan kaki sendirian. Sementara Dokter Egwin sebenarnya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, tadi ia pulang dulu lalu mampir ke alamat lain untuk membeli obat Allen.


"Untuk apa ini, Dokter?" Afrinda mengerinyit bingung, Dokter Egwin memberikan satu sapu tangan untulnya

__ADS_1


"Pakailah sapu tangan saya berikan ini untuk menghapus air matamu."


"Ta-tapikan saya tidak menangis, dan saya juga punya," ujar Afrinda semakin bingung.


Egwin mempertahankan wajah seperti biasa tetap kalem sambil menyetir memperlambat laju mobil, dalam hati ia tersenyum senang mendengar cerita bahwa malam ini Afrinda gagal jadian dengan seorang pria. "Coba buka lipatan saputangannya."


"I-ini," lirih Afrinda. Terkagum dengan motif cantik sapu tangan dan ada jahitan yang berbentuk huruf namanya, warnanya juga sesuai warna favoritnya.


"Allen yang menyuruh saya untuk memberikan kepada kamu, ucapan sayangnya dan terima kasihnya untukmu. Pakailah untuk menghapus setiap.air matamu, itu kegunaan sapu tangannya." Ungg, Egwin berbohong takut bersitatap dengan Afinda.


Mana sempat Allen berinisiatif seperti itu. Ini inisiatifnya sendiri, rencananya Allen saja yang memberikan besok pagi di sekolah, dengan atas nama 'dari orang tua Allen'. Memang nasib mujur malam ini dapat berkesempatan langsung memberikan kepada wanita pujaanya, ya walauoun harus ada embel-embel nama Allendra putrinya.


"Terima kasih, Dokter. Salam untuk Allen."

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2