Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Tindakan Ardan dan Gharda


__ADS_3

"Pagi anak-anak!!" Afrinda menyapa pada murid-muridnya dengan tersenyum seperti biasa, menerangkan pelajaran untuk hari ini dan mengajak bernyanyi. Di lsin sisi, sebenarnya ia sedang tidak baik.saja, masih larut dalam kekrcewaan tadi malam. Tapi bagaimana pun ia harus tetap profesionalkan?!


Dengan kejadian tidak mengenakkan tadi pagi saat baru absen finger print tidak sengaja berpapasan dengan Sofia dan dua temannya yang lain, tatapan sinis seolah merendahkannya. Tidak berucap apa pun lagi, ia pergi menuju ke meja kerjanya. Menghembuskan napas menahan rasa sesak di dadanya harus bersabar, berita tentang dirinya tidak kunjung mereda.


Hari ini Ticha sedang ke luar kota, penataran perwakilan dari sekolahnya. Melupakan keresahan hatinya dengan mengajar anak-anak serta ikut tersenyum membalas celotehan mereka satu per satu. Apalagi hari ini Allen sudah masuk sekolah, rasanya semakin lega muridnya lengkap semua.


Jam snack anak-anak berhamburan menuju ruang khusus snack, duduk rapih di tempat biasa kemudian membuka bekal yang dibawa dari rumah masing-masing. Semua Miss wajib mendampingi kelasnya sambil ikut snack bersama, tetap fokus dengan aktifitasnya yang membantu muridnya membuka bekal tutup telinga dengan bisikan Sofia yang memandanginya dari barisan kursi seberang.


Mengajak berdoa lalu mempersilahkan makan, Afrinda ikut mencoel sedikit makanan yang dibawa Jelly.


Berlanjut Jheve dan Yeribka ikut-ikutan menyuapi Afrinda, Allen tidak tinggal diam dan antusias menyuapi Afrinda. Biar yang di seberang sana semakin panas, Afrinda tersenyum puas.


"Yang lain sudah boleh bermain, ya. kecuali Allen harus minum obat dulu," ujar Afrinda. Seketika ruang play ground riuh dengan seruan anak-anak.


Membuka pil satu per satu lalu mencampurkan air dengan bubuk obat, menggiling semua pil dan mengaduknya bersama air minum hangat yang sudah dicampur tadi. "Aaaaa!"


Dengan takut Allen membuka mulutnya, cekatan Afrinda menahan sendok sampai obat tertelan di dalam mulut Allen. Masih kurang biasa dengan obat, ada sisa tetesannya membasahi rahang Allen. Menyuapi dengan air minum biasa, kemudian merogoh sapu tangan dari saku roknya


"Miss sapu tangannya bagus, deh." Allen nampak tertarik dengan sapu tangan Afrinda, terulur tangannya merebut dari tangan Afrinda yang sedang me-lap bibirnya.


"Inikan dari Allen."


"Hah? Dariku?"

__ADS_1


"Kata papah kamu, sapu tangan ini Allen yang minta untuk diberikan pada Miss."


Allen menatap polos, berpikir mengingat-ingat mengetuk dagunya. "Tidak, Miss," jawabnya menggeleng.


Afrinda pun ikut bingung, tapi tidak terlalu ambil pusing untuk saat ini.


Jam pulang sekolah anak-anak berhamburan keluar dari kelas masing-masing, bergandengan Jelly dan Allen keluar duduk bersama di ruang tunggu dekat parkiran.


Afrinda menyusul setelah mengambil tasnya, ikut duduk menemani menunggu.


"Frinda!"


Ardan justru yang datang langsung menyelonong masuk menghampirinya.


"Kamu ngapain di sini?" Afrinda menekan intonasi suaranya menatap Ardan berang.


"Cukup, Ardan!" Afrinda menoleh ke samping ada dua anak kecil yang tidak pantas menyaksikan mereka. "Tunggu sebentar ya, anak-anak. Miss mau bicara sebentar sama om ini."


Jelly dan Allen mengangguk.


Membawa ke balik tembok yang masih bisa menjangkau tempat Jelita dan Allen, Afrinda menghempaskan tangan Ardan kasar.


"Please, Frin. Aku bener-bener serius mau menembak kamu, aku cinta sama kamu. Sekali lagi maaf, Frind." Tampang Ardan memelas.

__ADS_1


"Dan, dengarkan aku. Kecewa cukup sekali dan kamu membuatnya di awal, jangan banyak alasan untuk membela diri. Kamu bisa'kan menelepon aku mengabarkan kalau kamu itu bagaimana makanya sampai tidak jadi datang. Dan satu hal lagi. Gara-gara kelakukanmu yang sembarangan sampai mengejarku ke sekolah, sekarang aku digosopi satu sekolah. Dan kamu dengan tanpa aba-aba datang hari ini, aku malu! Dok nekat tapi tidak pada tempatnya."


Ardan tertegun, wajahnya tertunduk lesu.


Hening beberapa saat, sampai suara tepuk tangan pria membuat suasana semakin mencekam.


"Wwaawww,,,wwaww!!"


Pak Gharda! Afrinda melebarkan matanya seperti pasangan yang tertangkap selingkuh saja.


Pria ini'kan yang ada di walpapar Tiffany! Ardan masih mengingat jelas, saat tidak sengaja melihatnya langsung.


"Ternyata benar apa yang diceritakan guru-guru di sekolah ini, Afrinda berani membawa pacarnya masuk ke dalam sekolah anak TK. Saya tidak tahu harus membenarkan atau tidak membenarkan sebutan itu, murahan? Pecicilan? Tidak tahu malu,tidak tahu aturan?" Gharda tertawa mengejek Afrinda.


Kakinya lemas tidak berdaya jatuh tersungkur berlutut di atas lantai, menahan air matanya. Ucapan Gharda menohok hatinya.


"Aftin," lirih Ardan.


"Pergi Ardan, pergi!"


Tidak dapat berkutik, Ardan meninggalkan Afrinda begitu saja.


Disusul Allen berlari kecil masuk langsung memeluk tubuh Afrinda, masih bisa mengendalikan diri Afrinda membalas dekapan mengusap pucuk kepala Allen yang sudah terisak sesenggukan di dalam pelukannya. "Allen ada apa?"

__ADS_1


"M-Mhiis! Ta-tadi papahnya Jelly menarik tangannya sampai Jelly mukanya memerah, te-terus, aku mengikuti sampai ke dekat mobil papahnya, Jelly menangis, Miss. Hhhuuuaaa!" Allen mengadu sambil menagis. Bayangan dan tangisan suara Jelita membuat ia seolah ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu.


👇👇👇


__ADS_2