Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Ucapan Dari Bapak Badut


__ADS_3

Hari ini terapi mulai mempersiapkan Jelita untuk ayahnya dilaksanakan, dengan cara dan konsep yang sudah diatur. Kondisi mental yang sudah mulai membaik, tertarik untuk berbicara lagi, mau berjalan dan melakukan aktifitas badan lainnya. Bergantian Afrinda kadang Nyonya Syeni dan suster perawat, Gharda masih ditolak selalu tangisan Jelita berakhir setiap melihat ada di sekitar ruangan.


"Apa ini akan berhasil?" Gharda masih gugup terus mengulang pertanyaan yang sama.


"Kita coba pelan-pelan, tidak mungkin langsung berhasil baru satu kali coba," sahut Afrinda sudah agak kesal.


Mereka berdua sedang duduk menunggu di teras salah satu rumah seorang bapak yang berprofesi sebagai badut, hari ini akan belajar menjadi peran badut kesukaan Jelita.


Seorang pria paru baya muncul dari dalam rumah membawa kantongan plastik tempat penyimpanan kostum badut. Mengeluarkan satu per satu diletakkan di atas lantai yang sudah dialasi tikar busa, kemudian menjelaskan satu satu tentang kostum dan bahan yang mungkin kurang disukai dengan badan Gharda.


"Ayok bapak temani pakai kostumnya, Nak," ajak bapak badut dengan ramah. Gharda menoleh sebentar ke arah Afrinda, Afrinda menyahut tersenyum memberikan dukungan.


Dia nyaman? Tentu tidak. Sumpah demi apa pun ini sangat tebal dan panas, bulu-bulu yang membuatnya risih, topi dan rambut palsu yang berwarna terang yang membuat kepalanya berat, sepatu yang kebesaran di kakinya membuat susah jalan, kostum warna-warni yang jelas membuat matanya sakit, belum lagi harus latihan sulap dan meniru suara orang lain dan gaya bicara layaknya seorang badut. Itu semua pasti tidak biasa dilakukan oleh seorang bos pengusaha sepertinya, tapi mengiangat ia merindukan pelukan putrinya. Ini demi Jelly.


Menatap nanar pantulan dirinya di dalam cermin sudah lengkap memilih kostum yang akan dipakainya, semoga ia mampu melakukannya.


Afrinda tersenyum puas, langkah pertama sudah selesai. Berlanjut mulai mengamati dan mengikuti arahan si bapak badut, hampir putus asa tidak fokus untuk mempelajari trik sulap sederhana yang biasa dilakukan bapak yang ada dihadapannya ini.

__ADS_1


Beristirahat sejenak, Gharda bersandar pada dinding rumah si bapak. Afrinda ikut si bapak mempersiapkan makan siang, tipikal orang yang menyenangkan semua dapat mudah untuk Afrinda mendekati mengajak mengobrol.


"Bapak mau yang ini atau yang ini?" Tunjuk Afrinda pada dua jenis lauk siang ini, Gharda menerima saja perlakuan Afrinda padanya. Menuangkan nasi ke piringnya, menyusun lauk dan sayur lalu menyerahkan padanya..Iya, ia dilayani. Semua itu tidak luput dari perhatian Gharda yang sudah tersenyum tipis tidak disadari Afrinda.


"Maaf ya, menunya hanya ini saja."


"Tidak apa-apa, Pak. Ini saja sudah lebih dari cukup," ungkap Gharda setulus hati.


"Oh iya, bapak hanya penasaran saja loh ini. Kalian berdua sepasang pacar atau suami istri?"


Si Bapak sampai tertawa lepas, rasanya bernostalgia saat ia masih muda dulu. "Jadi kalian ini?"


"Saya ayahnya Jelita dan ini gurunya di sekolah," terang Gharda menjelaskan. Tentu sebelum bertemu hari ini, Afrinda sudah menceritakan tujuan sebenarnya.


Si Bapak tertawa lagi kali ini tawanya untuk menggoda sejoli ini. "Tapi kalian cocok," ucap bapak spontan.


Uhukkk!! Afrinda tersedak, cepat Gharda menyodorkan air minum. "Pelan makannya."

__ADS_1


Afrinda mendelik, wajahnya merona ada rasa sesuatu yang berdesir saat mendengar ucapan si bapak.


"Cinta itu bisa datang kapan dan di mana saja, dengan keadaan seperti kalian berdua ini juga peluang rasa cinta itu hadir sangat besar. Jangan sampai kalian tidak menyadari perasaan kalian masing-masing, nanti keduluan sama yang lain itu sakit rasanya. Baru menyesal!"


Sesaat suasana canggung, si bapak badut tersemyum-senyum. Makan siang sudah beres, saatnya melanjutkan lagi.


Gharda tidak bisa sempurna menjadi badut, si bapak tetap ikut besok dan akan membawa kostum cadangan yang sama dengan yang Gharda akan pakai.


Di perjalan keduanya tetap diam, tepatnya Afrinda yang menghindar setiap kali Gharda ingin mengajak bicara.


"Frin."


"Iy-iya, Pak," sahut Afrinda tergagap hanya memandang lurus ke depan.


"Jangan dipikirkan ucapan Bapak Badut tadi, jika kamu tidak merasakannya," ucap Gharda menakan kata 'kamu' di dalam kalimatnya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2