
Putrinya mengabari tidak bisa datang menjenguk ayahnya malam ini, menyimpan ponselnya dalam tas masuk membuka pintu ruang rawat suaminya.
"Mas," sapa Nurma.
Danu membuka matanya tidak bermiat membalas sapaan istrinya, mencari-cari apakah ada orang lain yang menjaganya selain istrinya. Mulutnya belum mampu untuk bersuara, obat yang dimasukkan ke dalam luka tembak itu mempengaruhi kerongkongannya yang terasa kering untuk sementara waktu.
"Kau mencari siapa?'
"Afrinda," jawab Danu dalam hati. Dimana putrinya? Ia masih menyimpan rindu dan rasa cemas mengingat kejadian waktu itu, meskipun sudah terlihat baik-baik saja tetapi rasanya belum percaya sebelum mendengar penjelasannya lebih ditel. "Afh-" Bibirnya bergerak ingin memanggil namun kerongkongannya terasa sakit. Saat sadar pertaa kali ia melihat jelas ada Afrinda di dalam ruangan ini, sayangnya hanya sebentar saja dan tidak bisa berinteraksi lebih, putrinya pamit pulang pun ia tidak tahu.
"Mas, tenanglah. Dia sudah pulang ke rumah suaminya."
Danu terdiam menenangkan dirinya agar tidak emosi yang bisa saja membahayakan dirinya, tidak bisa melakukan banyak perferakan lukanya lumayan parah. Semoga saja besok Afrunda datang kembali.
Masih banyak pertanyaan yang ingin diketahuinya perihal kejadian penembakan itu, Dahlya dan Bram bagaimana nasibnya? Tidak ada kesempatan untuk memcari tahu bahkan bersuara pun tidak mampu untuk bertanya.
__ADS_1
"Kau butuh sesuatu, Mas?" tanya Nurma memperhatikan gelagat aneh dari suaminya.
Danu haus, kerongkongannya semakin kering, matanya terpaku pada cangkir di atas nakas.
"Haus, sebenrar aku ambilkan." Nurma meraih cangkir dan memgisinya air dari tumbler yang tersedia, tanpa mengeceknya lebih dahulu ceroboh menyodorkan gelas pada bibir suaminya mengaibakan sedotan yang masih bersih di atas lembaran tissu.
Ini panas sekali, Danu memuntahkan minumanya bibirnya seperti mau melepuh menggelengkan kepalanya sampai berguncang.
"Mas!" Nurma terlalu panik sehingga tidak tahu berbuat apa, berteriak kebingungan salah seorang perawat datang tepat waktu.
"Ini saya sudah memberikkanya."
Si perawat meraih tumbler dari tangan Nurma mencicipinya setetes, "Ini panas sekali, pantas saja pasien memuntahkannya bibirnya bengkak. Lain kali Nyonya harus lebih teliti, di situ sudah tersedia semuanya lengkap, tolong sigaplah dalam bertindak, jangan asal memberikan sesuatu pada pasien."
Jelas-jelas fasilitas sudah menyediakan air dingin dan panas, Gharda yang membiayai ruangan kelas elit ini, itu saja hampir teledor.
__ADS_1
"Biarkan pasien istirahat, Nyonya juga bisa beristirahat, semua sudah baik-baik saja. Saya permisi." Selesai mengolesi salap dan merapikan pakaiannya. Dia sebenarnya heran, dimana lelaki muda yang biasanya bersama nyonya ini? Dia meragu kalau wanita ini menjaga pasien, sepengalamannya selama disini, lelaki itulah yang paling sigap mendatangi petugas dalam hal apa pun, dan wanita yang adakah istri pasien hanya bisa menangis dan mengatur-ngatir saja. Lihat, baru satu kali ini menjaga, sudah teledor begini. Sudahlah, lebih baik dia pergi saja.
Tinggallah seorang diri duduk termenung di samping brankar suaminya, tidak berapa lama Danu mengantuk memejamkan matanya.
"Maafkan aku, Mas."
Biasanya ada Ardan yang menemaninya hampir tiap malam, memberikan dukungan melalui ucapan dan tindakan. Perutnya sudah kelaparan, teringat dengan Ardan yang siaga memgingatkannya makan malam yang dibawa Ardan untuknya.
"Aku sudah mengusirnya," gumamnya menangis pedih.
Dua jam menahan lapar tidak ada nasi untuk disantap, kakinya terlalu lemah jika harus turun ke lantai kafetaria rumah sakit. Bajunya belum berhganti tidak ada yang mengantarnya pakaian ganti dari rumah, selama ini ia lebih sering bersama Ardan yang selalu memperlakukannya dengan baik dan sopan, nyatanya saat ini situasi ini jauh berubah.
Ada roti milik suaminya, dengan rakus memakannya sampai terasa kenyang.
Kemudian meneguk air mineral punya suaminya juga, biasanya ia selalu makanan yang dibelikan Ardan padanya.
__ADS_1
👇👇👇