
Siapapun tolong bawa Afrinda kabur dari pertunangan ini, jalannya dituntun Dahlya menuju gedung suasana hening tidak ramai. Semua gelap mungkin cahaya matahari akan terasa sakit jika penutup matanya di buka.
"Pah, pemuka agama dan pembawa acaranya sudah datang?" Dahlya menuntun duduk Afrinda di sebelahnya.
Bram menoleh sekilas lalu sibuk lagi dengan ponselnya, "Belum. Masih dalam perjalanan."
"Kalau keluarga Egwin?"
"Belum. Jangan bertanya terus."
"Penutup mata ini sudah bisa dilepas?"
Merasa terganggu dengan rentetan pertanyaan istrinya, Bram memutar bola matanya jengah mengusir keduanya pindah tempat duduk saja. "Nanti!"
Dahlya tidak bertanya lagi juga tidak berniat pindah, justru asik bermain ponsel tidak menghiraukan Afrinda.
Suara langkah beberapa orang datang beriringan menghampiri tempat mereka duduk, mungkin ini yang bertugas dalam acara pertunangan.
"Lama sekali datangnya." Bram tidak menerima uluran tangan dari seorang laki-laki berpakaian batik berpeci.
"Maaf, Tuan. Tadi macet," jawab lelaki itu sungkan.
Suara itu seperti tidak asing ditelinganya, menggelengkan kepala mungkin Afrinda hanya berhalusinasi.
"Kenapa mata si wanitanya ditutup ini? Dia buta kah?" tanya salah seorang kali ini wanita dengan sembarangan, dan suaranya seperti suara, ahk, dia berhalusinasi lagi.
__ADS_1
"Jangan banyak bertanya, anda cukup menjalankan tugas sampai selesai." Bram membentak kedua orang asing ini.
"Pah," Dahlya memperingati.
Suasana nampak tidak tenang, kedua orang itu menghindar dari hadapan keluarga si mempelai wanita dengan bibir berkomat-kamit.
Tidak berapa lama keluarga Egwin sudah hadir dan langsung bersalaman mengatur tempat duduk Egwin dan Afrinda duduk berdampingan, menggemgam pergelangan tangan Afrinda yang berkeringat mengusapnya perlahan.
"Jangan menangis," bisiknya lembut.
Mencuri pandang pada pemuka agama berjalan mendekat ke arah pelataran pertunangan, masih belum dimulai menunggu Bram yang berbicara.
"Kalau matanya ditutup begini, bagaimana cara memasang cincinnya?" tanya pemuka agama berpeci pada Bram hati-hati.
Bram mengangguk menyetujui.
Posisi mereka sangat dekat wajah cantik Afrinda membuat perasaanya bergejolak gugup dan ada sedikit keraguan tetapi sebisa mungkin Egwin harus bertahan pada janjinya yang diawal, bertukar napas hangat menikmati waktu sedekat ini kapan lagi.
Menangkup jemari Egwin, Afrinda merasakan kegugupan yang sama. Aroma parfum yang tidak pernah berubah dari semenjak ia mengenali pria ini, kehangatan suara dari setiap tutur ucapan lembut, sifat seorang ayah yang dikaguminya dari dulu, banyak hal yang dia sukai dari Egwin berpurar dalam ingatannya detik ini juga tidak sadar air matanya menetes. Sebenarnya dia tidak rugi untuk dipasangkan dengan Egwin, tapi tidak bisa bohong rasa cinta tidak pernah ada sama sekali, semua itu sebatas raga kagum saja dan ingin terus dekat sebagai sosok yang menginspirasinya mengasuh anak kecil. Tetapi mengingat tujuan perjodohan ini yang paling tidak terima, dadanya terasa sesak ingin memeluk Egwin mencurahkan kegundahan hatinya.
"Aku akan melepaskannya." Gerakan lembut penutup mata itu terbuang di atas meja.
"Ahhk." Kenapa kelopak matanya sulit dibuka? Afrinda panik.
"Jangan dipaksa, aku memijatnya sebentar ya," ujar Egwin seraya menekan hati-hati area kelopak mata kiri dan kanan kemudian mengusapnya perlahan selama beberapa detik meniupnya. "Buka pelan-pelan."
__ADS_1
DEG...
Matanya mengerjap wajah dan senyuman Egwin yang pertama kali dilihat, jantungnya mulai tidak beraturan. Ternyata ini bukan mimpi.
Mengucapkan janji iklar pertunangan dengan tegas tidak terbata melingkarkan cincin dalam jari manis Afrinda tanpa ada halangan apa pun, Egwin menghela napas lega.
Giliran Afrinda. Terbata mengucapkan janji iklar pertunangan sampai harus mengulangnya lagi, tatapan Egwin mampu meluluhkan menbuat kegelisan Afrinda sedikit berkurang, tangan bergetar cincinnya terjatuh menggelinding ke sembarang arah wajah Gharda berkali-kali muncul di hadapannya menganggu konsentrasinya, mulai tertunduk menangis suasana menjadi riuh.
Sigap Egwin mencari cincin menemukannya di dekat kabel mikrofon, melanjutkan acara pertukaran cincin akhirnya Afrinda berhasil melakukannya dilewati kejadian kurang menyenangkan.
Untuk mencium kening butuh waktu yang tidak secepat itu, bibir tidak sepunuhnya menyentuh kening Egwin sudah selesai suara tepuk tangan menggema dari orang sekitar.
Apakah itu artinya mereka sudah sah bertunangan?
"Jangan menangis, Frind. Kumohon."
"Dokter."
Memeluk Afrinda dengan erat, Afrinda!
"Gha-Gharda!"
Afrinda jatuh pingsan dalam pelukan Egwin.
👇👇👇
__ADS_1
Mohon komentarnya kakakk dengan episode ini...