
Roda kehidupan pasti berputar seperti yang pernah dikatakan orang lain padanya, sayangnya Tiffany tidak pernah mempercayai akan ucapan itu hanya menganggapnya angin berlalu terlalu percaya diri dengan apa yang dipunya saat itu.
Bahkan jika ia keluar pintu sekalipun, para tetangga dan pegawai apartement memandangnya merendah sampai ada yang berani menyindirnya dalam lift, Tiffany ingin menjambak namun lift sudah terbuka. Pernah satu kali dirinya ketahuan memesan makanan murah dari aplikasi hijau, kurir pria tua terengah terlambat datang dengan kaki pincangnya mengantar sampai ke depan pintu, dengan kemarahan yang meluap tega mencaci kurur yang sudah berkali-kali meminta maaf, suaranya melengking membuat tetangga datang melerai membawa kurir menjauh, berbagai ejekan dan cercaan diterimanya.
Saldo di rekeningnya sudah sangat menipis, tagihan sewa apartemen menunggu dan gedung kantor percetakan mengalami masalah para pegawai menjarah barang yang bisa dijual karena gaji yang tidak kunjung diberi. Sampai saat ini masih gengsi untuk meminta bantuan tetap keukeh dengan pendirian.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dengan penampilan berantakan membuka pintu. Seorang pria berpakaian formal menyodorkan surat padanya, membuka amplop membacanya dengan perasaan sesak, surat keterangan resmi yang menerangkan waktu satu minggu lagi wajib mengosongkan gedung percetakan miliknya dengan pertimbangan biaya air listrik dan uang kebersihan menunggak sudah dari beberapa bulan yang lalu.
Menghubungi salah satu pegawainya yang bertanggung jawab dalam manajemen keuangan, wanita itu sudah lari mencuri uang yang tersisa.
Semuanya sudah hancur, menangis seorang diri di dalam kamarnya. Terdiam sejenak mengingat sesuatu, mungkin ia masih bisa meminta bantuan pada orang ini. Menurunkan gengsinya tidak ada salahnya sudah dalam keadaan terpaksa.
Menyamarkan penampilannya mengendari taksi online menuju rumah sakit, mobilnya ada dua semuanya kehabisan bahan bakar.
"Dokter Egwin masih praktek, Nona. Silahkan menunggu di depan ruangan Beliau saja kalau memang masih mau menunggu. Tapi kalau sakit anda benar-benar harus segera ditangani, mari ikut saya menemui dokter lain."
__ADS_1
"Tidak, Sus. Saya menunggu Dokter Egwin saja, saya hanya ingin konsultasi saja."
"Baiklah kalau begitu, saya permisi." Suster perawat itu berlalu tanpa curiga bahwa yang dihadapannya barusan adalah Tiffany.
"Huhhh. Untung tidak mengenaliku," ucapnya seraya bernapas lega.
Egwin sudah menyelesaikan pasiennya sudah waktunya untuk makan siang di ruangannya, seseorang duduk menunggu di depan ruangannya dari jauh saja ia sudah mengenalinya tersenyum miring. Melewati Tiffany begitu saja, tangannya terulur menutup pintu, Tiffany menerobos masuk ke dalam.
"Apa maumu?" Egwin mendesis matanya nyalang.
"Ak-aku." Wajah Egwin benar-benar terlihat marah yang membuat nyalinya menciut.
Pernyataan Egwin benar-benar merendahkan harga dirinya, mengemgam tali tasnya menahan emosinya hampir meledak. Kemampuan aktingnya mengubah raut wajah menjadi sedih harus dipergunakaan demi tujuannya, tapi dia pun bukan orang yang suka basa-basi. "Kali ini aku ingin meminjam uang padamu," ungkapnya singkat padat dan jelas. Semoga pengorbanannya berbuah manis.
Seketika tawa Egwin pecah wajahnya memerah, mengatur napasnya sejenak lalu memandang remeh pada Tiffany yang masih berdiri. "Tiffany! Atau dipanggil apa kau? Imelda, ya Imel. Jessica Imelda, itu nama aslimu. Dan sebagai yang ada dihadapanku ini siapa entah Tiffany atau Imelda?" Terus tertawa puas.
__ADS_1
"Egwin cukup!" Tiffany mengusap air matanya. Seolah ada batu yang mencekal pernapasannya bila nama itu didengarnya. "Kalau kamu hanya menghinaku, lebih baik pulang dan membatalkan niat awal datang kesini. Kau sangat mengetahui masa laluku, Egh. Jangan sebut nama itu lagi!" pekiknya tidak terima.
Tidak ada rasa iba dihatinya semua sudah mati, sebelum Tiffany melangkahkan kaki keluar terlebih dahulu ia memanggil nama Tiffany dengan benar. "Saya akan meminjamkanmu uang berapapun yang kau mau." ucapnya serius tidak main-main
"Kau serius?" Harapannya kembali.
"Ada syaratnya."
"Apa itu? Jika aku bisa melakukan, saya akan terima." Tantang Tiffany.
"Ambil amplop ini."
DEG.
"Mencangkok jantung untuk Allendra, i-ini."
__ADS_1
"Pikirkan matang-matang, Tiffany. Anggap saja saya membayarmu atas pencangkokan jantung untuk putrimu sendiri."
👇👇👇