Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Upaya Untuk Jelita


__ADS_3

Biarlah kali ini kalah dari pengajar lainnya, bukan namanya yang terpilih mewakili sekolah untuk acara yayasan minggu depan. Padahal tahun lalu namanya digadang-gadang yang akan membawa nama sekolah ini sesuai dengan ketentuan dan prestasi yang sudah diraih Afrinda, namun skandal yang beredar kemarin mengubah keputusan sekolah. Sofia yang akan berangkat bersama kepala sekolah, Afrinda tidak terlalu mempedulikannya lagi, malu menanggung malu, biarlah.


Pagi ini tetap mengajar seperti biasa dan Ticha sudah hadir kembali, saling bekerjasama membentuk ruang kelas terfavorit murid-muridnya.


Bel pulang sekolah berdering saatnya membuka ponsel yang memang wajib di tinggalkan disimpan dalam loker tidak membawa saat jam mengajar, lima panggilan tidak terjawab dari nomor tanpa nama. Tidak sampai berapa lama ponselnya berdering lagi lalu menggeser tombol hijau.


"Boleh saya meminta tolong pada Miss? Saya Gharda, datang sepulang sekolah jenguk Jelita."


Tanpa pikir panjang Afrinda langsung menyetujui, toh memang dia tidak sibuk lagi. Membereskan meja kerja bergegas menaiki ojek online yang sudah dipesannya.


Sementara seseerang yang sedang menunggu di dalam mobil miliknya melihat Afrinda tidak mengambil arah jalan ke rumahnya, ia mengikuti motor yang membawa Afrinda.


Jantungnya tidak karuan sekarang, Afrinda menyeberang masuk ke dalam rumah sakit yang di mana Jelita dirawat.


"Afrinda dan Tiffany sama-sama dekat dengan Gharda," ucap Ardan merasa resah.

__ADS_1


Membuka pintu perlahan, tubuh Jelita masih terbaring yang menjadi fokus utamanya, di sofa ada Nyonya Syeni yang sedang duduk melamun, di samping brankar ada Gharda berdiri menghampirinya mengulurkan tangan bersalaman.


"Duduklah, ada yang ingin saya bicarakan." Gharda berjalan lebih dulu duduk di samping mamahnya disusul Afrinda mengambil posisi di hadapan mereka berdua.


"Tadi saya sudah berkonultasi dengan dokternya Jelita dan dokter anak. Jelita mengalami traumatik yang lumayan parah sehingga sarafnya sulit untuk bangun, jiwanya terguncang membuat Jelita ingin tidur terus. Kita harus memancingnya agar mau bangun, dan saya gagal melakukan sudah empat hari ini mencobanya. Omanya juga sudah melakukan hal yang sama, tapi Jelita tidak ada respon." Gharda menjelaskan seraya mengusap air matanya, merasa sesak jika terus mengingatnya. "Kamu juga mungkin sudah tahu sayalah penyebab semuanya," lanjutnya menarik napas menguatkan hati. Afrinda masih setia mendengarkan tidak memotong ucapan Gharda. "Ka-kamu satu-satunya harapan saya, Jelita sangat menyukaimu. Pasti dia mau mendengarmu dari bawah sadarnya, saya yakin itu. Tolong saya, Afrinda. Lakukan sesuatu untuk membangunkan Jelita."


Afrinda tidak bergeming, memutar pandangannya melihat Jelita dari ekor matanya. Masih tidak percaya dengan penjelasan Gharda barusan.


"Aftinda, saya mohon," ucap Gharda matanya berkaca-kaca. Biarlah kali ini ia yang harus bertindak sekakipun harus memohon di depan wanita ini, ia rela demi putrunya.


Jawaban Afrinda membuat hati Gharda lega, Nyonya Syeni tersenyum hangat. Firasatnya mengatakan kali ini pasti berhasil.


Suasana menjadi canggung kembali, Gharda tidak tahan jika harus berdekatan dengan Afrinda. Di dalam hati kecilnya ia menyimpan kekaguman pada Afrinda, tapi ia harus menjaga hatinya untuk kekasihnua, ia takut rasa kagum untuk Afrinda perlahan berubah jadi rasa suka.


Apalagi sekarang posisinya Afrinda ada di sebelah kanan brankar Jelita dan ia di sebelah kiri. Tepatnya mereka duduk berhadap-hadapan posisi sejajar.

__ADS_1


Nyonya Syeni tersenyum kecil memperhatikan interaksi kedua orang ini, memejamkan mata turut berdoa semoga jodoh untuk mereka.


Jam makan siang Gharda dipaksa Afrinda untuk pulang ke rumah sebentar sambil mengistirahatkan badan membawa serta Nyonya Syeni, menolak perintah Afrinda tapi benar juga ucapannya. Gharda harus berganti pakaian dan memulihkan stamina nanti malam menjaga Jelita.


"Nanti saya akan titip makan siangmu," ucap Gharda sebelum menutup pintu.


Salah seorang bodyguard Gharda yang baru saja diutus untuk mengantar makan siang datangang memberikannya ke tangan Afrinda.


Sambil mengajak tubuh Jelita mengobrol tanpa ada sahutan, tangannya sibuk mempersiapkan hidangan makanan. Menguyah sampai makanan habis kemudian membersihkan bekasnya berjalan menuju tempat sampah yang ada di sudut ruangan.


Berdecak mengumpat pihak rumah sakit yang belum membuang sampah dari ruangan ini, yang benar saja ini, ruang elit sampah sulit. Huh.


"Apa ini?" Sebelum membuang sampah tempat makananya, ia memungut sebuah kertas yang sudah diremas menbentuk bulatan rasa penasaran membuka dan membaca isi kertasnya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2