Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Toko Bunga


__ADS_3

"Jelly," panggil Afrinda kepada Jelita yang masih asyik dengan buku gambarannya.


"Iya, Miss," sahut Jelita.


"Kamu mau ikut miss pergi?" tanya hati-hati. Ini anak orang, bukan sembarangan membawanya.


"Pergi kemana?" Jelita menutup bukunya antusias.


"Menjenguk Allen."


Jelita bergeming terbayang kembali wajah pucat Allen yang dilihatnya membuatnya sempat bertabya-tanya, menjenguk berarti temannya itu sedang sakit. "Mau, Miss. Tapi kita minta izin sama ona dulu, ya."


Dalam perjalanan yang dikendarai Mang Leo, Afrinda hanya diam memikirkan tentang keadaan Allendra. Membayangkan seorang anak sekecil itu harus menahan rasa sakit di bagian jantung, terkadang Afrinda harus pintar mencari-cari alasan agar Allendra tidak melakukan aktifitas yang dapat membahayakan. Allendra memang murid istinewa di sekolah itu, itulah sebabnya Afrinda yang diutus bertanggung jawab atas anak itu jika berada di sekolah. Bukan dirinya yang mau, tapi Allen yang memilihnya bertahan dengan pendampingan Afrinda, Afrinda sendiri dengan rasa kasihannya mampu menjalani tugas itu.


"Miss!"


"I-iya, Jelly." Buru-buru mengusap air matanya tersadar dari lamunanya setelah Jelita menguncang tangannya.


"Kenapa nangis?" Jelita menatap missnya dengan tatapan polos, tangan mungilnya mengusap wajah Afrinda.


"Miss sedih karena Allen sakit," ungkapnya dengan kalimat pendek.


"Sakit apa, Miss?"


"Sakit di sini," Afrinda menunjuk bagian dada Jelita. "Jantungnya sakit."


"Jantung sakit? Sakit apa? Yang sakit itu sebenarnya siapa, Miss? Allen atau jantung?"

__ADS_1


Afrinda terkekeh pelan mendengar ucapan Jelita. "Susah menjelaskannya, Sayang. Nanti Miss minta tolong, Jelly menghibur Allen ya."


"Baiklah."


Di tengah perjalan Afrinda turun menepi berjalan ke dalam satu tokoh bunga, Jelita tidak ikut turun tetap menunggu di dalam mobil saja.


Fokus menyebrang sampai tidak menyadari ada seerorang yang mengikutinya.


"Toko bunga Dahlia, ada yang bisa kami bantu, Mbak." Salah satu karyawan tersenyum manis datang menghampiri Afrinda menunduk hormat.


"Tolong rangkaikan bunga untuk anak kecil yang sedang sakit, Mbak. Pasti Mbaknya sudah lebih paham memilih bunga yang cocok untuk itu, supaya ada maknya." Terang Afrinda.


"Siap, Mbak. Ditunggu sebentar ya."


Sambil menunggu Afrinda berjalan-jalan mengitari isi toko melihat-lihat bunga, sampai bahunya ditepuk seseorang yang membuatnya terkejut setengah mati.


"Ada apa ya, Mas?" Merasa tidak mengenal pria ini, ia menatap waspada.


"Santai saja, saya bukan orang jahat. Hanya ingin kenalan saja, boleh?" Pria itu tersenyum hangat dan membuat suasana setenag mungkin.


"Kau." Afrinda masih bergeming tidak percaya.


"Saya Juardan Pratama, panggil Ardan saja. Eng, nama kamu siapa?" Ardan mempertahankan senyumnya agar meyakinkan perempuan yang sudah sangat dirindukannya ini.


"Sa-saya Afrinda." Afrinda menbalas uluran tangan Ardan. Saat tangan mereka berdua bersalaman, sekelibat bayangan melintas dalam ingatannya. Tapi ia menggeleng, mungkin saja salah ingat.


"Ehem!" Ardan berdrhem mengendalikan rasa gugupnya. Ternyata ini lebih dari perkiraanya, Afrinda namanya dan wajahnya juga cantik, suaranya sangat ramah di telinga, rambutnya panjang terurai kepirangan yang membuatnya semakin sempurna.

__ADS_1


"Halo-heii!! Heii!" Afrinda mengibas-ngibaskan tangannya ke hadapan wajah yang mengaku namanya Ardan ini.


"E-eh maaf-maaf, jadi melamun. Habisnya kamu cantik," ungkapnya spontan tanpa malu. Demi apa pun, ia salah tingkah sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memasang tampang konyolnya.


"Apa tadi?" Afrinda cengok.


"Ehhehe. Kamu cantik persis seperti bunga ini." Ardan mengambil satu tangkai bunga mawar merah lalu mengarahkannya ke hadapan Afrinda seraya memang senyum menggoda.


"Terima kasih pujiannya. Tapi tidak usah sampai mencabut bunganya juga, nanti kita dimarahi sama penjualnya." Afrinda terkekeh lucu melihat tingkah Ardan.


Senyumannya! Ardan semakin berbunga-bunga. "Supaya tidak dimarahi, bunganya buat kamu saja."


"Mbak, ini bunganya sudah selesai!"


"Bunganya aku terima. Tapi aku sedang buru-buru, aku duluanya ya." Tanpa ragu Afrinda meraih bunga yang dipegang Ardan.


"E-eh, tapi kita belum bertukar sosial media atau-" Ardan panik mengikuti mengejar langkah Afrinda.


"Cari saja namuku, Afrinda Sinatrani."


"Oh,,oke. Semoga kira jumpa lagi ya!" seru Ardan membuntuti Afribda yang hendak menyebrang.


Afrinda tidak membalasnya, hanya melambai tangannya dari belakang. Memasuki mobil menurunkan kaca mobil, tersenyum dadah-dadah sekali lagi kepada Ardan yang masih betdiri di depan toko bunga.


Dengan semangat empat-lima Ardan membalas lambaian dari seberang sana, senyumnya luntur seketika ketika melihat ada anak kecil perempuan yang muncul dari samping Afrinda. "Dia sudah punya anak?"


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2