Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Setelah Hampir Dua Minggu


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu kabar tentang keluarga Bram hilang tidak terdengar, di sekitar mana pun Gharda merasa aman tidak ada satu hal pun yang mencurigakan, setiap aktivitas rasanya lancar-lancar saja tanpa ada berupa ancaman. Meskipun begitu, Gharda tetap memberi perintah agar tetap melakukan pengawasan. Rumah utama Sinatra terlihat seperti biasa dijaga ketat, bangunan yang tertutup memang jarang berinteraksi dengan tetangga. Anak lelaki pertama Bram yang harusnya sering wara-wiri untuk persiapan pemilihan DPR periode tahun depan, tidak mencabut namanya sebagai calon tetapi hilang tidak hadir saat ada pertemuan. Anak bungsu Bram masih begitu-begitu saja di asrama pendidikan tentaranya kepastian tidak jelas, Rivzal susah menemui anak itu secara tatap mata. Nomor Dhalya tidak aktif, Afrinda pernah mencoba memanggil menggunakan ponsel orang lain.


Semakin mengasah kemampuan bekerja dengan tekun agar memperluas jaringan kekuatan perusahaanya, tidak mengenal lelah sekalipun ia harus menahan rindu pada kekasihnya masih perawatan di kota itu.


Harga saham semakin menunjukkan kemajuan, sudah berani tampil lebih tajam berpresentasi di depan para petinggi yang baru saja melakukan kerja sama, sedang dalam tahap rencana pengembangan cabang baru di kota lain, nama Gharda semakin sering muncul di makalah berita bisnis.


"Jelly pegang toplesnya, biar oma yang bawa kopinya. Kita kasih ayah biar semangat kerja," ajak Ny.Syeni pada cucunya.


"Iya, Oma!" Jelita tampak antusias sekali sekuat tenaga berjalan hati-hati memeluk toples agar tidak jatuh.


Membuka pintu Gharda tidak menyadari keberadaan mereka.


"Ayah.'


Panggilan Jelita mengalihkan perhatian, senyum mengembang menyambut kedua wanita tersayangnya membawa makanan dan segelas kopi untuknya. "Gemas sekali memeluk toplesnya erat-erat begitu, ayah ambil ya." Meraih toples kaca dari tangan Jelita meletakkanya di atas meja kemudian membawa ke atas pangkuannya.


"Tadi Jelly punya ide bawain untuk kamu," ujar Ny.Syeni duduk di hadapan Gharda.


Mendengar itu rasanya Gharda menyesali waktu luangnya sudah sedikit untuk bermain dengan Jelita, bersyukur mamahnya bisa memberi pengertian pada Jelita agar tidak merengek meminta dirinya terus.

__ADS_1


Mencubit pipi Jelita mengajak mengobrol saling tertawa suap-menyuap kueh yang dibawa tadi, setengah jam rasanya masih kurang tapi pekerjaanya menumpuk.


Tangan Jelita lasak bergerak di atas permukaan meja tidak sengaja bersentuhan dengan layar ponsel ayahnya yang sensitif langsung menyala, foto walpaper seseorang yang dikenalinya. "Ini'kan foto Miss Frind," ucapnya menyadarkan Gharda dengan keberadaan ponselnya


Kepalang basah ponsel sudah di tangan Jelita fokus menahan layar agar tidak redup masih ingin berlama-lama memandangi layar foto, berkedip meminta bantuan pada mamahnya.


"Kenapa bisa ada di ponsel ayah?" desak Jelita menuntut jawaban.


"Ayah rindu Miss Frind juga, jadinya pasang foto itu di ponsel ayah," jawabnya.


"Belum ketemu juga ya?" Jelita seketika murung harapan yang salah.


"Tidak bisa sekarang?"


"Tidak dong, Jelly. Tempatnya jauh."


Jelita percaya saja, hanya wajah sedih yang mampu dia utarakan.


Mengecup Jelita membujuk turun dari pangkuannya waktunya tidur, mencium layar ponsel wajah Afrinda berpamitan duluan keluar.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kalian tidak pertemukan anak-anak dengan Afrinda? Rivzal sudah bilang kalau Bram sudah tidak menganggu kalian lagi," Ny.Syeni tidak tega terus berbohong.


Gharda menarik napas panjang, masih ada raut cemas untuk itu. "Aku bicara dulu dengan Egwin, Mah. Kapan waktu yang tepat untuk membawa Jelly dan Allen kesana, sebenarnya Afrinda juga merindukan kedua bocah ini."


"Cepat putuskan mumpung Egwin masih disini."


"Iya, Mah."


Baik Jelita dan Allendra mendapatkan perhatian dari keluarga Alfonso sama rata, sudah seperti saudara Ny.Syeni pun tidak segan memberi kasih sayangnya sebagai ibu pada Egwin.


Memikirkan keberadaan Bram bukan hal yang remeh, banyak saran yang mereka terima pertimbangan bisa saja kalau-kalau ada rencana dibalik menghilangnya dia. Tidak ingin lengah sedekit pun apa lagi mengikut campurkan anak-anak butuh penjagaan yang akurat.


"Kenapa rasanya menyiksa seperti ini? Menghadapi pecundang jauh lebih sukit menghadapi musih yang terang-terangan, Bram mempermainkan mental dan emosi kita dengan cara petak umpet."


"Semua pasti ada jalan keluarnya, Ghar." Ny.Syeni mengelus pundak putranya memberikan rasa ketenangan.


👇👇👇


Guys..Kalau koment "lanjut" nggk tau mau jawab apa

__ADS_1


__ADS_2