
Ayana merasakan gugup luar biasa. Sudah lebih dari sepuluh menit sejak kepergian Malvin meninggalkan kamar inapnya, dan sekarang tinggal ada dirinya dan juga sang suami. Tapi Saga masih juga belum membuka suara, hal ini membuat Ayana makin merasakan gugup yang luar biasa. Kalau diberi kesempatan, ingin rasanya ia melarikan diri saat ini juga. Ekspresi tenang dan kalem Saga itu menyeramkan, karena hal ini membuat Ayana kesulitan menebak sebenarnya mood sang suami seperti apa.
"Mas Saga marah?"
Saga balik bertanya dengan wajah andalannya. "Bukannya kamu?"
"Enggak kok, aku nggak marah, Mas. Tadi pagi tuh aku cuma agak bete aja gitu, masih kesel soal semalem, jadi aku males ngomong. Bukan karena aku marah."
"Gimana kondisi kamu?" tanya Saga mengalihkan pembicaraan. Terlihat sekali ia tidak ingin membahas soal siapa yang marah.
Ayana merengut kesal. "Pengalihan isu."
"Nanya."
Ayana mengangguk. "Enggak ada yang sakit atau bikin nggak nyaman. Eh, ada satu deh yang bikin aku nggak nyaman."
"Apa? Yang mana? Mau aku telfon Malvin?"
"Kamu yang cuekin aku."
Saga menghela napas lalu duduk di tepi ranjang. "Aku, enggak. Sama kayak kamu, cuma agak kesel."
"Maafin aku ya, Mas?"
"Jangan begitu lagi, ya? Aku beneran takut."
Ayana mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya. Saga langsung maju dan memeluk sang istri.
"Makasih ya, Mas," bisik Ayana.
"Aku juga."
Ayana langsung melepas pelukan mereka. "Mas Saga makasih soal apa?"
"Karena kamu hebat dan juga kuat."
"Hehe, Mas Saga bisa aja. Besok aku ketemu Papa ya? Aku udah kangen, pengen liat keadaan beliau juga," bujuk Ayana. Ia mengeluarkan puppy eyes-nya agar sang suami luluh.
Helaan napas berat terdengar dari mulut Saga. Tangannya kemudian membantu menyingkirkan anak rambut Ayana yang sedikit menjuntai. "Kata Ine kamu harus bed rest dulu."
"Kan cuma jengukin, aku juga pengen liat keadaan Papa."
Ayana manyun. Persis seperti anak kecil yang keinginannya tidak dituruti orang tua mereka. Melihat hal ini membuat iman Saga sedikit goyah. Ia paling tidak bisa melihat wajah cemberut sang istri yang keinginannya tidak dituruti.
"Bentar doang, Mas. Boleh, ya, ya, ya?" bujuk Ayana tidak ingin menyerah.
"Nunggu putusan Ine ya?"
Ayana langsung berdecak kesal. "Ah, Mas Saga nggak asik. Aku ngambek loh," ancamnya kemudian.
"Terserah," ucap Saga langsung berdiri, "aku mau mandi dulu, usahain ntar kalau aku udah selesai mandi, ngambeknya diudahin ya?"
__ADS_1
"Mas Saga nyebelin! Kita baru baikan masa kamu ngajak ribut terus sih, Mas? Sebenernya kamu itu sayang aku apa enggak?"
Saga menghela napas. "Kalau aku nggak sayang kamu, kamu nggak bakal aku nikahin, Ayana. Doker penanggung jawab kamu itu Ine, bukan aku jadi keputusan ada di tangan dia. Iya kan? Aku bener kan?"
"Ya udah, iya, iya, kamu bener, Mas. Tahu lah, sana buruan mandi, aku bete lagi bawaannya liat muka kamu."
"Enggak ada dicariin, giliran ada malah diusir," gerutu Saga sebelum masuk ke kamar mandi.
Saat Saga keluar dari kamar mandi, Ayana masih asik menonton acara televisi. "Kenapa belum tidur?"
Ayana menggeleng tanpa menoleh ke arah sang suami, yang kini sudah duduk di sebelahnya. "Belum ngantuk, aku kayaknya kebanyakan tidur tadi siang deh, Mas."
"Tapi aku ngantuk banget, Yan, masa iya aku begadang lagi," keluh Saga dengan kantung mata panda yang terlihat begitu ketara.
Ayana reflek meringis saat melihatnya. "Ya ampun, kasian banget suami aku. Ya udah kamu tidur aja duluan, Mas, nanti aku nyusul."
"Masa yang harusnya dijagain malah jagain?"
Kali ini Ayana tertawa. "Dih, kepedean banget kamu, Mas, siapa juga yang mau jagain kamu."
"Ya kalau aku yang tidur, itu tandanya kamu yang jagain."
***
Ine langsung mengolok-olok Saga saat masuk ke dalam kamar rawat inap Ayana. Bagaimana tidak, begitu masuk ia langsung disambut pemandangan yang mungkin bagi beberapa orang akan iri saat melihatnya, termasuk dirinya. Tapi selain ini ia juga merasa geli karena yang melakukannya itu adalah Saga. Pria yang terkenal sangat cuek ternyata bisa begitu perhatian dengan sang istri, sampai mau menyisir rambut sang istri sampai mengucirnya pula. Padahal infus pada tangan perempuan itu sudah dilepas.
"Mau juga?" balas Saga dengan wajah andalannya. Fokusnya masih pada kunciran di rambut Ayana.
Ayana menggeleng. "Enggak, dok, semua aman. Enggak ada keluhan, sebenernya dari semalem juga udah sama sekali nggak ada keluhan."
"Tapi semalem kamu banyak ngeluh," protes Saga.
"Ngeluh gegara apa dulu nih?"
"Kasur."
"Emang lo tidur di mana?"
"Sofa."
Ine langsung tertawa. "Oalah, Ga, itu mah pasti istri lo ngode biar lo tidur di ranjang sama dia. Gimana sih? Masa gitu aja nggak peka."
"Ya, mana gue tahu."
"Apaan? Orang aku udah bilang kok, kamu aja yang nggak dengerin."
"Oke, oke, bisa dilanjut lagi nanti ya berantemnya. Sekarang gue periksa dulu, oke?"
Ayana mengangguk paham lalu kembali berbaring. Ine langsung melakukan pemeriksaan.
"Oke, gue acc kepulangannya, ya. Tapi usahain bed rest dulu sementara, besok ambil cuti lagi dulu, ya?" saran Ine.
__ADS_1
Saga dan Ayana langsung mengangguk paham. "Makasih, dok," ucap Ayana kemudian.
"Sama-sama. Kalau gitu gue duluan, sampai ketemu pas kontrol nanti. Sehat-sehat buat ibu dan dedeknya." Ine kemudian beralih pada Saga, "jagain yang bener anak dan istri lo, jangan ngurusin pasien doang."
"Iya."
Setelah Ine pergi, Ayana langsung merengek agar Saga membawanya menemui sang Papa. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kondisi beliau. Dari kemarin ia sudah menahan diri, tapi tidak sekarang.
"Mas, kemarin aku udah nurut loh, sekarang kita ke jengukin Papa. Aku nggak mau tahu, aku maunya sekarang."
"Iya."
Karena khawatir sang istri mungkin akan kecapekan, Saga memutuskan mengantar sang istri menggunakan kursi roda. Awalnya Ayana sempat protes dan menolak karena khawatir ketahuan sang Papa. Tapi atas bujukan Saga yang mengatakan kalau Ayana bisa turun dari kursi roda sebelum masuk kamar inap Papa-nya, akhirnya Ayana menurut.
Saat mereka sampai di sana, sang Papa hanya ditemani Mama-nya. Ayana tidak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi Hari yang masih terlihat sedikit pucat, meski sudah tidak sepucat saat terakhir kali ia menemui beliau di ICU.
"Papa, gimana kondisi Papa? Masih ada yang sakit nggak?"
Hari tersenyum sambil mengelus rambut sang putri. "Enggak papa, Nak, Papa baik-baik saja. Enggak ada yang sakit."
"Kenapa Papa jahat banget sih sama Yana? Segitu nggak percayanya ya, sama anak sendiri?"
"Dikit," gurau Hari, "Papa soalnya udah punya mantu kesayangan yang dokter juga sih."
Ayana langsung merengut kesal. "Jahat banget sih," rajuknya kemudian.
"Kamu gimana sama cucu Papa? Baik-baik aja kan mereka?"
Ayana mengangguk. "Iya, Pa, mereka baik-baik aja. Papa nggak usah khawatir yang penting Papa fokus sama penyembuhan Papa dulu, ya?"
Hari mengangguk patuh. "Iya. Kamu nggak usah khawatir mikirin Papa. Yang penting kamu sama cucu Papa baik-baik aja sehat, udah cukup buat Papa."
Ayana mengangguk sekali lagi lalu memeluk Hari. Ingin rasanya ia tetap di sini dan ikut menemani sang Papa, tapi ia tidak boleh egois karena kini kondisinya tengah mengandung.
"Yan," panggil Saga.
"Iya, iya, Mas. Kita pulang," decak Saga dengan nada sedikit sebal.
Hari tersenyum. "Ya sudah, sana pulang! Hati-hati nyetirnya."
"Ma, pamit Yana sama Mas Saga pamit pulang duluan, ya. Maaf nggak bisa nemenin jaga Papa," pamit Ayana sambil memeluk sang Mama.
"Enggak papa, yang penting sekarang kondisi kamu sama cucu Mama. Papa biar Mama yang jaga, di sini banyak dokter dan juga perawat. Kamu nggak usah khawatir."
Ayana mengangguk paham lalu keluar dari kamar inap Hari bersama Saga.
"Rasanya aku bersalah banget deh, Mas, malah istirahat di rumah."
"Kamu perlu istirahat juga, Yan. Enggak papa."
"Tapi kan kalau dipikir-pikir aku juga bisa istirahat di sini, Mas."
__ADS_1
Saga menggeleng tidak setuju. Ekspresi terlihat sekali tidak suka. "Kamu hamil. Istirahat di rumah lebih nyaman," ucapnya tidak ingin dibantah. Kalau sudah begini Ayana bisa apa selain nurut?