Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 23


__ADS_3

***


Malvin dapat bernapas lega karena masakan Olivia benar-benar spesial. Rendang ayam ditambah sambal ijo khas masakan Padang. Mungkin kalau ia belum mengenal perempuan itu dengan baik, ia tidak akan percaya kalau semua masakan yang baru sja tertata rapi di atas meja ini adalah masakan perempuan itu. Tapi untung saja mereka mengenal satu sama lainnya dengan cuku baik, jadi ia percaya kalau semua masakan ini adalah masakan perempuan itu.


"Dalam rangka acara apaa lo, Liv, masak rendang segala. Mau ada tamu spesial?"


Perempuan itu terkekeh. "Enggak ada, emang lagi pengen aja masak ini."


Malvin manggut-manggut paham lalu seger menikmati makannya tanpa menunggu dipersilahkan. Memang begitu lah kebiasaannya, sudah terlalu sering bersikap seenaknya sendiri.


"Kalau aku tinggal mandi sebentar nggak papa kan, Mas?"


"Ya, enggak Papa, kamu tinggal seminggu juga nggak papa. Ntar kalau gue bosen ya tinggal pulang."


Olivia terkekeh lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mandi. Kebetulan dirinya bukan tipe yang sering lembur, jadi kalau sesekali harus lembur itu rasanya terlalu capek. Dan ia mulai gerah. Olivia tidak bisa lama-lama dalam keadaan gerah.


Selesai mengisi perutnya dengan makanan berat, Malvin kemudian bergegas mendekat ke arah kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa ia jadikan sebagai dessert. Tak berapa lama Olivia kembali dengan pakaian yang sudan berganti.

__ADS_1


"Mas," panggil perempuan itu tiba-tiba. Awalnya Malvin tidak begitu menggubris tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa, "tawaran yang dulu itu masih berlaku nggak sih, Mas?"


Malvin mengerutkan dahi tidak paham. "Tawaran yang mana?" ia memasang bingungnya, "nikah?" tanyanya ragu-ragu.


Perempuan itu langsung mengangguk seraya memandang laki-laki di hadapannya dengan ekspresi seriusnya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang saat dirinya tiba-tiba dihubungi sang orang tua.


Flashback mode l


Tadi saat Olivia sedang membagi konsentrasi kerjaan dan makan siangnya, maklum kerjaan banyak jadi harus pintar-pintar membagi waktu kalau tidak ingin pulang larut. Begini saja ia tetap pulang malam apa kabar kalau tidak?


"Ya, halo, dengan Olivia di sini. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Olivia saat menjawab panggilan tersebut sampai tidak menyadari siapa yang menelfonnya lebih dahulu.


Dengan wajah yang sedikit panik, Olivia mengintip ke arah layar. "Mampus," batinnya panik.


"Gimana kabarmu, Nduk, di sana? Lama nggk kasih kabar to? Emang kerjaan di sana sibuk banget to?"


"Iya, Bu, di sini kerjaan lagi banyak-banyaknya jadi ya maklum, Bu. Maaf karena sibuk terus tiap mau menelfon kelupaan terus."

__ADS_1


"Ya kalau memang sehat ya nggak papa, Ibu nggak masalah. Cuma sesekali itu kasih kabar."


"Ia, nanti aku kabarin lebih sering, Bu, insha Allah." Olivia bermaksud mematikan sambungan telfon tapi sang Mama dengan cepat mencegahnya.


"Tunggu sebentar, kamu ini ditelfon kok kayak nggak seneng begitu?"


Olivia berdecak. "Ya, bukan nggak seneng, Bu, cuma. Emang karena harus lanjut kerja, Bu, bukan karena Oliv nggak seneng."


"Kamu kapan sih mau pulang bawa cowokmu yang waktu itu, kalau dia nggak mau cepat diajak ke sini, mending ibu jodohin kamu sama anaknya kenalan bapakmu."


Olivia mendadak malas kalau sudah bahas soal perjodohan.


Flashback Off


"Lo abis mimpi apa, Liv?" tanya Malvin heran. Membuyarkan lamunan sang perempuan, "kenapa tiba-tiba begini?"


Ia harus berbasa-basi sebentar meski nyatanya batinnya sedang kegirangan. Sekarang sepertinya ia tidak perlu memikirkan solusi agar kedua orang tuanya tidak menjodohkan dirinya dengan kenalan mereka. Bisa tidur nyenyak ini sih. Batinnya kemudian.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2