Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Pengakuan Ayana


__ADS_3

Ayana melepas jas putih dan langsung menyampirkan pada lengan kirinya. Ekspresinya terlihat murung sejak tadi sore, mood Ayana benar-benar sedang buruk karena Aska tadi. Ia masih belum kepikiran tindakan apa yang harus ia lakukan demi membuat Aska percaya pada ucapannya kembali, kalau dirinya tidak ada hubungan lebih dengan Saga.


Ya, oke Saga memang memiliki semua kriteria untuk dijadikan calon mantu idaman Mamanya. Tapi untuk Ayana sendiri, Saga belum masuk kategori calon suami idamannya. Bahkan baginya Saga sangat-sangat bukan tipenya.


"Len, tadi lo bawa mobil apa dianter cowok lo?"


"Dianter sih, kenapa emang?"


"Boleh gue nitip mobil? Besok lo anterin ke rumah gue tapi ya? Ntar lo pulangnya gue anterin deh, gimana?"


Helen, rekan dokter jaga yang bertugas jaga malam setelahnya pun langsung tertawa sambil memakai jas putihnya. Setelah jasnya terpasang rapi, perempuan itu mengibaskan rambutnya yang dikucir kuda hingga mengenai wajah Ayana.


"Sorry ya, say, besok gue dijemput cowok gue lagi. Jadi kalau besok lo males naik taksi, ojek dan sejenisnya, mending mobil lo, lo bawa pulang malem ini. Okay?"


Ayana menggeleng. "Gue nggak lagi di kondisi oke buat nyetir, lagi galau gue. Bahaya."


Ekspresi Helen langsung berubah kepo. "Galau kenapa?"


Sedang tidak mood, Ayana memilih melambaikan tangannya dan langsung pamit pulang. Karena males menyetir, akhirnya ia memilih pulang menggunakan ojek pangkalan. Selain malas karena harus menunggu taksi, ia ingin merasakan hawa angin malam biar galaunya kabur kebawa angin.


"Mobil kamu mana?" sambut Saga saat gadis itu selesai menutup gerbang.


Terlalu asik melamun Ayana bahkan tidak menyadari keberadaan Saga sebelumnya.


"Loh, Mas Saga ngapain di sini?" tanya Ayana heran sekaligus kaget.


"Nungguin kamu."


Kening Ayana mengkerut heran. "Mau ngapain?"


"Ngasih rendang dari Ibu."


"Oh, terus mana rendangnya?"


Ayana langsung celingukan mencari keberadaan rendang yang pria itu bicarakan. Pasalnya pria itu sedang tidak membawa apapun, bahkan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana trainningnya yang panjang. Di meja teras juga tidak ada sesuatu kecuali secangkir teh dan kue kering. Lalu di mana rendang yang pria itu bicarakan?


"Di dalem."

__ADS_1


"Dalem mana?"


"Disimpen Mama kamu."


Oh, sudah diterima sang Mamanya ternyata. Ayana mengangguk paham


"Oh, berarti kalau gitu udah ya?"


Saga menatap Ayana lurus. "Mobil kamu kenapa?"


Ayana menggeleng. "Enggak kenapa-kenapa."


"Terus kenapa naik ojek?"


"Ya, suka-suka aku lah, mau naik ojek kek, naik taksi kek, naik odong-odong, atau jalan kaki sekalipun bukan urusan Mas Saga. Lagian kenapa Mas Saga mendadak cerewet gini sih?"


Mendadak Ayana merasa bersalah karena telah membentak Saga. Meski raut wajah pria itu masih tetap tenang dan kalem seperti biasa. Hanya terdengar helaan napas pendek dari pria itu.


"Ya sudah, saya pulang. Kamu langsung istirahat."


Mendadak Ayana merasa bersalah. "Aku minta maaf, Mas, bukan maksud aku buat bentak Mas Saga. Aku cuma... cuma lagi capek aja, sorry."


"Tunggu, Mas!" cegah Ayana saat Saga berniat melangkah dan meninggalkan rumah Ayana. Pria itu spontan langsung berbalik, "aku mau ngomong."


"Besok saja, kamu capek," balas Saga.


Ayana menggeleng cepat. "Aku maunya sekarang, nggak bisa besok-besokan lagi. Malam ini aku butuh tidur, ya, seenggaknya, aku harus kelarin satu masalah."


Tak paham dengan pembicaraan gadis itu, Saga hanya menaikkan sebelah alisnya heran. Meski tak lama setelahnya pria itu mengangguk dan menyuruh Ayana mandi dan bersih-bersih lebih dahulu.


***


Pandangan Saga menatap lurus ke arah depan, masih setia menunggu Ayana memulai pembicaraannya. Hampir 15 menit berlalu, sejak gadis itu selesai mandi dan kini duduk di sampingnya, tak ada obrolan yang keluar dari bibir perempuan itu. Tidak seperti yang dikatakannya tadi. Ia sama sekali tidak bosan, hanya saja ia sedikit khawatir dengan gadis itu, yang hari ini mendadak banyak diam. Batinnya bertanya-tanya, apakah gadis itu baik-baik saja?


"Besok saja?"


Tak tahan, Saga akhirnya memecah keheningan. Pandangannya kini menoleh ke arah samping, menatap kedua bola mata Ayana dengan cukup intens.

__ADS_1


Wajah Ayana terlihat gugup. "Kenapa, Mas?"


Saga menggeleng lalu berdiri. "Kamu lelah, ngomongnya besok saja."


"Bentar, Mas, aku lagi nyusun kalimat. Kamu jangan pulang dulu dong," cegah Ayana saat melihat gelagat Saga yang seperti hendak pamit pulang. Dengan sedikit berat hati pria itu kembali duduk.


Saga tidak menuntut Ayana segera berbicara. Ia hanya diam dan menunggu sampai gadis itu siap dengan kata-katanya.


Sementara Ayana terlihat makin gelisah di tempat duduknya. Wajahnya terlihat ragu-ragu untuk berbicara.


"Mas Saga, aku kayaknya nggak bisa nerusin semua ini deh. Aku... aku mau kita berhenti saling mengharapkan kalau hubungan kita ini bisa ke jenjang yang serius." Cepat-cepat Ayana melanjutkan kalimatnya, "tapi meski gitu kita masih bisa kok temenan. Aku tetep mau jadi temen Mas Saga." Tak lupa ia memberikan senyuman terbaiknya. Ayana merasa cukup lega setelah berhasil mengutarakan isi hatinya.


"Saya nggak bisa."


Ayana tidak dapat menahan keterkejutannya saat mendengar Saga tiba-tiba kembali menggunakan kata 'saya'. Padahal selama mereka dekat pria itu selalu menggunakan sapaan aku-kamu. Kenapa rasanya seperti tidak nyaman ya, saat ia mendengarnya kembali?


"Nggak bisa apa, Mas?" Selain masih shock, Ayana juga tidak paham dengan kalimat Saga.


"Berteman."


Saga kemudian menoleh ke arah Ayana, raut wajah pria itu masih berusaha kalem, tapi Ayana cukup bisa melihat gurat-gurat kecewa pada wajah pria itu. Perasaan bersalah tiba-tiba hadir. Haruskah ia menyesal dengan apa yang ia ucapkan barusan?


"Mas," panggil Ayana ragu-ragu, "Mas Saga nggak mau gitu temanan sama aku?"


Tanpa keraguan Saga menggeleng. "Saya pria dewasa, Yan, saya nggak mau terjebak friendzone." Ia kemudian berdiri, "saya pamit. Kamu langsung tidur."


Ayana ikut berdiri dan mencekal tangan Saga. Namun, dengan segera pria itu melepaskannya. Ada perasaan sakit hati saat mendapati kenyataan kalau pria itu seolah enggan ia sentuh. Maka dari itu cepat-cepat meminta maaf. "Tapi kita belum selesai bicara, Mas."


"Intinya kamu nolak saya kan? Lalu apa lagi yang mau dibicarakan?"


"Tapi, Mas--"


"Yan, tidur!" potong Saga terdengar seperti tidak ingin dibantah.


Meski demikian nada bicaranya masih tetap terdengar lembut dan tenang. Dan hal ini membuat Ayana makin terselimuti rasa bersalah dan kecewa.


"Kalau gini ceritanya gimana aku bisa tidur malem ini, Mas," gerutu Ayana lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah sebalnya. Meninggalkan Saga seorang diri begitu saja.

__ADS_1


Saga menghela napas panjang. Memang setelah pengakuan gadis itu, dirinya juga bisa tidur? Tentu saja sulit. Ia baru saja mengalami penolakan pahit. Pria mana yang bisa tidur nyenyak setelah ditolak? Ia rasa tidak ada.


__ADS_2