
***
"Liv, apa kita coba aja ya?" usul Malvin tiba-tiba dengan pikiran randomnya.
Apa yang ia katakan barusan adalah pikiran spontannya. Malvin bahkan tidak memikirkan efek panjang yang akan ditimbulkan nantinya. Bodoh, mungkin beberapa orang akan menyebutnya demikian. Tapi Malvin tidak peduli. Namanya usaha, siapa tahu memang jodoh kan?
Sementara yang ditanya hanya menampilkan wajah bingungnya. Sebelah alis terangkat, gadis itu terkekeh tak lama setelahnya.
"Ngomong apaan sih, Mas?" Olivia berdecak lalu geleng-geleng kepala, "bagi aku pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, jadi aku nggak tertarik dengan ide kamu barusan. Aku memang merasa nyaman kalau ngobrol sama kamu, tapi kalau untuk menjalin hubungan yang serius aku rasa, aku nggak bisa deh."
Malvin menggeleng cepat. "Enggak, gue nggak langsung ngajak lo buat langsung nikah, tapi kita coba aja dulu, kayak pacaran dan lain sebagainya. Siapa tahu cocok?" ia kemudian menegakkan tubuhnya dengan ekspresi serius, "lagian ada yang bilang kalau menikah itu hampir sama dengan mengobrol."
Olivia terbahak sambil menggeleng tegas. "Istilah dari mana sih itu?"
"Eh, tapi bener loh, Liv, segala sesuatu kalau nggak diobrolin dengan baik nanti hasilnya bisa jadi boomerang loh. Serius, apalagi ini pernikahan."
"Mas," tegur Olivia dengan ekspresi tidak yakinnya, "pernikahan itu serius, nggak cuma tentang mengobrol."
"Ya udah," balas Malvin pada akhirnya, "gue juga nggak mau maksa kali, Liv, santai aja. Nawarin doang, kalau semisal lo mau ya ayo kita coba, cuma kalau nggak mau ya udah sih. Selow aja."
Ekspresi bersalah terlihat pada wajah perempuan itu. "Kalau aku minta waktu buat mikirin ini semua gimana?"
Malvin langsung terbahak dan menggeleng tegas. "Eh, nggak usah, Liv, tadi gue cuma bercanda jangan terlalu dipikirin terlalu serius."
Olivia menggigit bibir bawahnya ragu. "Tapi ide kamu barusan tiba-tiba terkesan masuk akal di aku, Mas."
"Lo mau?" tanya Malvin terlihat tidak yakin.
Gadis di hadapannya itu menggeleng tanda tidak tahu.
"Udah lah, nggak usah dipikirin. Anggep aja lo nggak denger omongan ngaco gue barusan. Btw, masakan lo enak, seperti biasa. Nggak pernah mengecewakan, lo kenapa nggak coba usaha buka warung makan aja sih? Gue yakin bakalan laku keras loh. Atau ini aja, Liv, buka usaha catering."
__ADS_1
Olivia menggeleng tidak setuju dengan usul pria itu. Ia memang suka memasak, tapi ia kurang suka kalau harus memasak untuk dijual. Bukan tidak suka uangnya, masalahnya kalau memasak dijadikan pekerjaan, ia khawatir nanti akan bosan. Baginya memasak adalah healing versi dirinya saat penat dengan pekerjaan kantor.
"Kenapa? Nggak ada modal? Gue siap bantu jadi investor dan juga siap jadi tim marketing, Liv, ntar gue bantu, gini-gini jiwa marketing gue bagus juga kok. Jangan salah lo."
"Bukan itu."
Malvin kembali menyuap masakannya. "Terus kenapa masalahnya?"
"Males."
"Astaga, anak muda jaman sekarang tuh kebanyakan malesnya ya, gimana kalian bisa maju kalau yang diandelin malesnya terus. Kerja kantoran ngeluh terus, nggak kuat, giliran disuruh buka usaha sendiri jawabannya males. Payah!"
"Iiih, bukan gitu maksud aku, Mas, kan aku suka masak tuh kayak semacem hobi, aku nggak suka kalau hobi aku dijadiin pekerjaan. Nanti kalau bosen gimana?"
"Ini nih, anak muda yang sok tahu padahal nggak tahu banyak hal. Ya, kalau lo suka, lo nggak akan bosen, elah, Liv."
"Tapi masalahnya aku itu bosenan, Mas."
"Sama gue juga?" goda Malvin sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.
Malvin langsung terbahak. "Berarti mau dong sama gue?"
"Ngapain?"
"Jajan. Mau?"
Dengan raut wajah cerahnya Olivia tentu saja langsung mengangguk cepat.
Malvin mendengus. "Dasar bocah boros muka," ledeknya setengah bercanda.
Gadis itu merengut tidak terima lalu mengamuk pria itu. "Aku usir kamu ya lama-lama, Mas."
__ADS_1
"Kalau gue nggak mau gimana?"
"Aku panggil satpam lah."
Dengan wajah sok polosnya, Malvin malah menopang dagu menggunakan telapak tangan. "Langsung nikah aja, yuk, Liv!" ucapnya dengan suara rendah.
Olivia yang mendengarnya mendadak merasa merinding sesaat. Seraya mendengus guna menutupi gugupnya, ia melempar tisu bekas ke arah pria itu.
"Tadi katanya bercanda, kenapa sekarang malah ngajak nikah?"
Malvin mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya, namanya juga modus. Lagian kan lo sendiri tadi yang bilang kalau ide gue masuk akal. Gimana kalau kita coba?"
Olivia langsung menggeleng tegas seraya mengumpat samar. Hal ini membuat Malvin seketika langsung terbahak. Pasalnya selama pria itu mengenal gadis itu, ini pertama kalinya ia mendengar Olivia mengumpat.
"Eh, lo kok bisa ngumpat juga sih, Liv? Gue pikir nggak bisa loh."
"Jangan salah, aku justru jagonya ngumpat. Aku bahkan bisa ngumpat dalam 5 bahas berbeda."
Malvin terkekeh. "Dan lo bangga akan hal itu?"
Sambil meringis gadis itu menggeleng. "Enggak juga sih sebenernya."
Malvin manggut-manggut. "Fix, lo emang harus nikah sama gue."
"Eh, kenapa begitu?"
"Ya, kenapa enggak?"
Malvin balik bertanya dan itu membuat Olivia menampilkan wajah bingungnya. Kenapa pria itu bersikap demikian? Mau bagaimana pun juga ia kan tetap saja perempuan normal yang akan mudah baper kalau diperlakukan demikian.
Lantas bagaimana kalau seandainya ia sampai khilaf dan bilang iya?
__ADS_1
Fix, berada di dekat pria itu terlalu lama memang tidak baik untuknya.
Tbc,