
***
Saat Malvin sampai di IGD, Ayana nampak sibuk dengan pasiennya, alhasil ia harus menunggu perempuan itu sampai selesai dengan tuagasnya. Ia merasa kebosanan di sana karena IGD terlihat begitu sibuk hari ini.
“Ssst, pasien boleh masuk ke ruangan itu nggak sih?” tanya Malvin pada salah satu perawat sambil menunjuk ruangan istirahat para staf medis yang bertugas.
Perawat itu mengikuti arah telunjuk Malvin, ia kemudian menggeleng saat menyadari ruangan mana yang ditunjuk. “Ya nggak boleh dong, dok. Kan itu ruangan khusus buat staf jaga.”
Malvin manggut-manggut paham. “Berarti kalau saya mau numpang istirahat sebentar di sana nggak boleh ya. Soalnya kayaknya Yana lama banget, saya agak ngantuk jadinya. Kalau mau naik ke kamar saya, ntar saya capek kalau musti bolak-balik turun.”
“Astaga, ya ampun jadi dokter Malvin yang ke sana. Kalau dokter Malvin boleh dong. Masuk aja, dok, nggak papaa.”
“Tadi katanya nggak boleh? Saya pasien juga loh ini. Nggak liat saya masih pake baju pasien gini?”
Perawat itu tersenyum. “Buat dokter Malvin pengecualian dong, kan dokter Malvin staf medis di rumah sakit sini juga, jadi boleh kok, dok. Mau saya anter,” tawarnya kemudian, “atau mau saya carikan bed di sini?”
Malvin terkekeh lalu menggeleng. “Enggak perlu, saya istirahat di ruang jaga saja. Numpang bentar ya? Nanti bilangin ke Yana kalau udah selesai saya di sana.”
Perawat itu mengangguk paham. “Siap, dok. Beres.”
Malvin kemudian langsung masuk ke dalam ruangan dan beristirahat di sana. Saat ia terbangun, ruangan masih nampak sepi. Ia kemudian memutuskan keluar dan menemukan Ayana sedang mengobrol bersama staf medis yang lain.
“Udah bangun lo?” sapa Ayana.
Malvin menguap sambil mengangguk untuk mengiyakan. “Ngobrol bentar, yuk!” ajaknya kemudian.
__ADS_1
Ayana mengangguk setuju. Ia kemudian berdiri dan mengekor di belakang pria itu. Tentu saja setelah berpamitan pada staf medis yang lain.
“Mau ngobrolin apaan sih?” tanya Ayana kepo.
“Yasmin.”
Ayana ber’oh’ria lalu mengangguk paham. Ia tidak berkomentar lebih dan membiarkan pria itu mengungkapkan isi kepalanya.
“Gue udah nemuin Ailee.”
“Terus?”
“Katanya Yasmin balik ke Indo begitu tahu gue sama Ailee mengalami kecelakaan. Menurut lo gue harus gimana?”
Malvin menghela napas lalu menggeleng. “Enggak tahu, gue beneran lagi kayak orang bego yang nggak tahu harus ngapain. Mungkin gegara kepala gue yang luka ya, Na.”
Ayana tidak bisa menahan ketawanya saat mendengar pria itu mengungkapkan kaliamatnya. “Ada-ada aja lo,” komentarnya kemudian.
Kali ini Malvin ikut tertawa. “Ya kali aja kan,” balasnya kemudian, “sekarang gue beneran nggak tahu harus gimana.”
Kali Ayana mengangguk paham. “Gue ngerti, Vin, tapi menurut gue ini semua terjadi karena lo lagi bingung sama perasaan lo sendiri. Soalnya terlalu banyak hal terjadi di hidup lo, jadi lo bingung.”
Malvin menggeleng tanda tidak tahu. “Mungkin iya, tapi mungkin juga karena gue dapet karma?”
Ayana kurang setuju kali ini. “Kalau masalah ini kayaknya gue gkurang setuju deh, Vin, maksud gue, lo abis ngapain emang sampai lo harus dapetin karma?”
__ADS_1
“Olivia. Kayaknya gue jahat banget deh udah melibatkan dia dalam kisah rumit gue. Gue bener-bener ngerasa bersalah sekarang.”
“Lo beneran belum bisa move on dari dokter Yasmin? Sesusah itu untuk lo ngelepasin dokter Yasmin?”
Malvin tidak langsung menjawab, pria itu diam sejenak baru kemudian menggeleng. “Gue nggak tahu, gue pikir kemarin gue lumayan optimis, tapi sekarang gue ragu sama diri gue sendiri.”
“Kayaknya emang lo perlu segera bertemu dokter Yasmin deh, Vin. Apa gue perlu tururn tangan buat nyari dia terus ajak dia ke sini, soalnya kalau lo yang nyari sendiri kondisi lo aja masih begini. Gimana mau?” tawar Ayana.
“Boleh gitu? Tapi kayaknya kalau begitu gue jadinya terlalu ngerepotin lo banget nggak sih? Soalnya akhir-akhir ini gue udah terlalu sering ngerepotin lo.”
“Vin, lo lupa siapa gue?”
Malvin terkekeh lalu menggeleng sebagai tanda jawaban, mana mungkin dirinya melupakan sahabat terbaiknya yang selalu setia dalam setiap kondisinya.
“Tapi anak lo gimana? Gue nggak enak sama Mala deh lama-lama soalnya lo sibuk ngurus gue terus akhir-akhir ini.”
“Tenang aja Mala masih bisa ikut neneknya atau Papa-nya. Mala paham kok semisal gue belum pulang dia nggak akan nyari gue.”
“Gitu juga nggak papa kalau semisal nggak ngerepotin.”
“Ya udah sana, lo balik ke kamar lo. Istirahat, gue bakal bawa dokter Yasmin secepatanya abis ini.”
Malvin manggut-manggut patuh. Ayana hanya mampu menghela napas saat melihat punggung pria itu yang kian lama kian menjauh. Ada perasaan tidak tega dicampur kasian. Semoga semuanya segera kelar, ia tidak tega juga melihat Malvin yang biasanya ceria tapi akhir-akhir ini terlihat murung.
Tbc,
__ADS_1