Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Nasehat Malvin


__ADS_3

"Kenapa lo? Ditekuk aja tuh muka, udah kayak pintu angkot."


Ayana masih tetap dalam mode diamnya saat Malvin sedang menyapanya. Moodnya sedang tidak bagus dan ia malas meladeni ledekan pria itu.


"Anjir, gue malah dicuekin. Pergi aja lah gue kalau lo cuekin gini."


Ayana merengut. Malvin yang melihat itu hanya mampu menghela napas dan mengurungkan niatnya untuk berdiri dan pergi.


"Sok cerita! Kalau nggak gue tinggal beneran," ancam Malvin tidak main-main.


"Gue kesel."


"Sama?"


"Abang gue."


"Bang Tama?"


Ayana mengangguk. "Ya iya lah, emang Abang gue ada berapa sih, Vin? Kan Abang gue cuma dia."


"Ya kali lo lagi kesel sama Abang-Abangan lo."


"Maksud lo?" Kening Ayana mengkerut tidak paham.


"Temen Abang lo. Si tetangga baru. Siapa sih namanya? Gue lupa lagi deh."


"Siapa? Mas Saga?"


Malvin langsung menjentikkan jari. "Nah, iya, itu, Mas Saga."


"Kenapa sama dia?"


"Ya, gue kira lo bad mood gegara beliau gitu."


"Njir, beliau banget lo nyebutnya? Dia seumuran Abang gue kali."


"Ya, gimana, kata lo dia dosen dan udah dokter spesialis. Rasanya enakan disebut beliau kan?"

__ADS_1


Ayana hanya merespon kalimat Malvin dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.


"Jadi yang bikin lo bad mood begini siapa? Pacar lo atau Mas Saga lo?"


"Bukan dua-duanya."


"Terus?"


"Abang gue."


"Kenapa sama dia?"


Ayana menegakkan tubuhnya. "Menurut lo salah ya kalau gue tetep peduli sama orang yang sakit?"


"Ya, enggak lah. Kenapa juga bisa salah?"


"Meski kita udah nolak orang itu."


"Hah? Maksudnya gimana?"


Malvin sedikit loading.


Malvin menggeleng.


"Nah, kan, nggak bisa kan? Jadi wajar kan kalau gue khawatir?"


"Mengabaikan orang sakit sama khawatir beda nggak sih?"


Bukannya menjawab, Malvin malah balik bertanya. Dan menurut Ayana pertanyaan pria itu sedikit menjebak.


"Lo mau ikut-ikutan Bang Tama?"


Malvin mengangkat kedua telapak tangannya. "Woi, woi, woi, santai dulu lah. Jangan emosi duluan. Gini maksud gue, kalau seandainya Bang Tama sampai tegur lo, menurut gue apa yang lo lakuin bisa jadi melewati batas."


"Jadi salah gue?"


Malvin menghela napas. "Sekarang intinya bukan siapa yang salah siapa yang bener, Na. Tapi jangan melewati batas."

__ADS_1


"Gue melewati batas gimana sih, Vin? Gue cuma mau kembali deket sama Mas Saga, mau kayak--"


"Nah, ini, problemnya. Masalahnya tuh di sini, Na. Kalau lo udah milih siapa yang jadi cowok lo sekarang?"


"Aska. Anjir, lo lupaan banget deh masih muda juga," gerutu Ayana kesal.


"Ya, namanya orang nggak inget ya lupa," balas Malvin tidak terima, "pokoknya karena lo udah sama Aska, seenggaknya jaga batas. Selain biar ini pak dosen nggak ngarep sama lo, buat menghargai cowok lo yang sekarang. Sampai sini paham?"


Meski dengan wajah cemberut, akhirnya Ayana mengangguk paham.


"Lagian gue nggak ngerti deh sama lo, kalau lo udah milih Saga..., eh, maksud gue Aska, kenapa masih pengen deket sama itu tetangga lo sih? Emang deket sama gue aja belum cukup apa?" tanya Malvin heran.


"Kurang lah, lo kan sibuk," respon Ayana kemudian. Nada bicaranya terdengar seperti sedang menyindir sampai membuat Malvin tersinggung dan tidak terima dibuatnya.


"Si anjir, bukannya kesibukan dokter spesialis yang jam terbangnya udah banyak, ditambah jadi dosen juga lebih sibuk dibandingin residen ya?"


Ayana tidak berkomentar atau membalas. Gadis itu memilih diam dan tidak merespon lebih jauh.


"Alesan aja. Emang dasar sebenernya lo itu denial kan?"


Spontan Ayana terbahak. "Heh, lo kata gue anak SMP yang baru kemarin sore belajar pacaran?"


"Heh, jangan salah lo, Na. Lo kata yang denial tuh anak-anak SMP yang lagi belajar pacaran? Enggak lah, mereka mah justru lebih pinter ketimbang wanita yang katanya udah uzur macem lo begini."


Ayana kesal dan tidak terima. "Sialan!" umpatnya kemudian.


"Kalau lo minta saran dari gue, mending lo bener-bener coba menghindari Saga dulu. Full-fullin quality time lo sama Aska dan lo rasain sensasi setelahnya."


"Maksud lo?"


Malvin berdecak kesal. "Udah nggak usah banyak nanya, cukup lakuin saran gue dan rasain sensasi setelahnya, nanti lo bakal tahu."


"Lo nggak aneh-aneh kan?"


"Gue aneh-aneh gimana sih? Emang pernah gue begitu?" balas Malvin tidak terima.


Lalu dengan wajah polosnya Ayana mengangguk. "Sering kan?"

__ADS_1


"Enak aja," balas Malvin tidak terima.


__ADS_2