
“Aku kayaknya udah nggak bisa deh sama kamu lagi. Kita putus aja, yuk!”
Olivia diam saja, ia tidak beraksi apapun selain diam. Terkejut? Lumayan, hanya saja ia tidak merasa sedih. Batinnya bertanya-tanya, kenapa dirinya tidak merasa bersedih padahal diputusin? Bukankah ini sedikit aneh?
“Liv, kamu denger aku?” tanya pria itu.
Olivia mengangguk untuk mengiyakan, hanya saja ekspresinya masih terlihat seperti orang kebingungan. Bukan kebingungan kenapa dirinya diputusin, melainkan kenapa ia tidak merasa bersedih. Padahal saat Malvin beruang kali menyuruhnya putus, ia terlalu khawatir, tapi setelah diputusin kenapa ia justru merasa biasa saja. Bahkan ia merasa lega. Aneh bukan?
“Kamu belum siap aku putusin ya?”
Olivia menggeleng. “Aku cuma heran.”
“Kenapa aku putusin kamu?”
Tunggu, sebentar, bukannkah pria ini terlalu percaya diri. Selama lebih dari tiga tahun berpacaran kenapa ia baru menyadarinya ya? Kemana saja dirinya selama ini? Apakah dirinya terlalu dibutakan oleh cinta sehingga baru sadar setelah mereka putus.
Olivia mendengus. “Karena aku sama sekali nggak sedih diputusin sama kamu.”
“Kenapa kamu nggak sedih? Kamu udah ada cowok lain ya?”
Olivia tidak bisa menahan ketawanya saat mendengar tuduhan pria yang kini sudah jadi mantannya. Bagaimana bisa pria itu menuduhnya memiliki pria lain setelah memutusakannya. Benar-benar tidak tahu malu.
“Ya, emang kenapa kalau aku punya cowok lain? Kamu ada masalah?” Olivia mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “toh, kamu udah putusin aku loh. Bukannya harusnya nggak masalah ya?”
“Oh, jadi bener kamu selingkuh bahkan sebelum kita resmi putus?”
“Kalau udah putus ya namanya nggak selingkuh lah,” dengus perempuan itu merasa lucu dengan jawaban sang mantan kekasih, “tapi bukan itu intinnya.”
“Aku nggak terima,” ucap pria itu dengan ekspresi wajah tidak terimanya.
Sang perempuan hanya mampu memasang wajah bingung dengan kerutan di dahinya. Lalu dalam hati membatin kenapa ini orang? Nggak jelas banget, pikirnya kemudian.
“Sekarang nggak terima kenapa?”
__ADS_1
“Aku nggak mau putus kalau begitu,” ucap pria itu tiba-tiba.
Olivia tertawa. “Kamu jangan aneh-aneh deh, Yud, nggak usah ngadi-ngadi. Aku tetep mau kita putus, toh, hubungan kita emang udah nggak sehat lagi akhir-akhir ini. Dan aku rasa emang jawaban dari masalah yang kita hadapi solusinya memang harus berpisah.”
“Kamu sengaja?”
Olivia meraup wajahnya frustasi. Ia harus bersikap bagaimana lagi untuk menghadapi pria ini? Rasanya ia sudah kehabisan akal. Ternyata tetangganya benar, sudah seharusnya mereka putus ejak lama. Bukannya mempertahankan hubungan yang tidak jelas ini. Kalau saja ia mendenngarkan Malvin sejak dulu, mungkin ia tidak akan berada di dalam situasi seperti sekarang ini. Mungkin saja kan.
“Serah kamu, yang jelas aku capek dalam hubungan ini. Kamu yang ngajak putus dan aku hanya menyetujuinya saat ini."
Yudi menggeleng. “Enggak. Aku nggak setuju. Aku berubah pikiran. Aku masih pengen sama kamu.”
“Kamu sakit ya, Yud? Orang jelas-jelas kamu yang minta putus, kamu sendiri yang bilang kalau kamu udah nggak bisa sama aku. Terus kenapa sekarang kamu bilang nggak mau putus?” Olivia menggeleng tidak habis pikir, “terserah kamu. Pokoknya aku mau kita putus. Titik.” Ia langsung berdiri dan meninggalkan pria itu begitu saja. Masa bodoh, ia sudah tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.
Kesal karena tidak sesuai harapannya, Malvin langsung mendengus. “Ngapain lo ke sini? Malem-malem nelfon sampe nyusul ke sini, kontraksi lo?”
Olivia manyun. “Jangan gitu dong, Mas,” rengeknya kemudian.
“Anjir, lo masih aja manggil gue begitu, Liv, orang ntar bisa mikir kalau lo istri gue.” Malvin kemudian mengajak gadis itu untuk mencari minum. Kedua matanya rasanya sepet, ia butuh sesuatu yang membuatnya bisa kembali segar, “lain kali kalau mau nemuin gue pas lagi dinas malam begini, minimal bawa kantong plastik.”
Olivia mengerutkan dahi bingung. “Emang buat apaan kantong plastik? Apa mereka punya khasiat tersembunyi yang nggak bisa diketahui sembarang orang, Mas? Rahasia para dokter ya itu?”
Saking gemasnya ia ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. “Astaga, Tuhan, Liv, maksud gue bawa makanan gitu loh. Masa iya hal ginian musti dijelasin segamblang ini? Kayak lo kalau pas lembur kan butuh asupan makanan, ngerti kan maksud gue.”
“Lahh, emang dokter makan malam juga?”
Malvin merasa kalau pertanyaan Olivia makin melantur. “Maksud lo?” ekspresinya menatap perempuan itu datar.
Perempuan itu tidak membalas dan hanya merespon dengan ringisan samar. Karena terlanjur malu.
__ADS_1
“Hehehe.”
“Ha he he aja sih lo bisanya. Kesel banget gue sama lo. Pengen minum apa lo?”
“Apa aja asal kopi.”
Malvin tertawa untuk meledeknya. “Takut nggak bisa tidur apa gimana lo?”
“Enggak usah ngeledek gue terus, ayo, buruan pesen minum gue pengen curhat nanti keburu pasien lo mau lahiran.”
Malvin manggut-manggut paham lalu memesankan minuman untuknya dan perempuan itu. Lumayan sering nongkrong bareng, membuat keduanya hafal kesukaan masing-masing seperti sudah berada di luar kepala.
“Jadi lo pengen curhat apaan?” tanya Malvin tidak berniat berbasa-basi mengingat kondisi pasienya yang sebenarnya belum adanya bukaan tambahan. Tapi terkadang kemauan bayi yang hendak keluar tuh suka susah ditebak. Tadinya yang pembukaan tidak nambah-nambah tiba-tiba bertambah di saat pihak dokter hendak melakukan tindakan operasi. Ya, begitu lah. Maka dari itu untuk berjaga-jaga, ia tidak memulai dengan basa-basi dan langsung to the point.
“Aku diputusin.”
“Terus lo nggak rela?”
“Justru dia yang nggak rela. Aneh banget kan padahal katanya dia yang uddah nggak bisa sama aku kan, eh, tiba-tiba dia bilang nggak mau putus. Aneh banget kan?”
Respon Malvin tentu saja tertawa. “Lo juga aneh sih, makanya mau sama orang aneh.”
“Mas!!”
“Lha emang lo berharapnya gimana? Lo pengennya putus nggak?”
Dengan wajah yakinnya Olivia mengangguk cepat. “Ya, putus, Cuma dianya yang mendadak berubah pikiran dan bilang nggak mau.”
“Santai, ntar gue bantuin.sekarang mending lo balik, gue harus balik kerja. Nanti pasti gue bantuin kok, santai aja.”
Olivia tidak bisa berkomentar banyak dan hanya mengangguk patuh lalu pamit pulang. Jujur, Malvin sampai agak kaget. Kenapa ini perempuan langsung nurut gitu aja?
Tbc,
__ADS_1