
Yasmin langsung menoleh saat merasakan telapak tangannya tiba-tiba digenggam sang kekasih. Hari ini begitu keduanya selesai dengan tugasnya masing-masing, Malvin datang ke kliniknya untuk menjemput dirinya. Sang kekasih ingin memperkenalkan dirinya kepada orang tua pria itu.
"Gugup ya?"
"Dikit," aku Yasmin jujur, "menurutmu Papa kamu nanti bakalan restui kita nggak sih?" tanyanya mulai cemas.
Mengingat kondisinya begini, otaknya kembali overthinking. Orang tua mana sih yang tidak menginginkan cucu dari anak mereka? Semua pasti menginginkannya kan? Yasmin yakin orang tua Malvin pun demikian.
"Tenang aja, nggak usah khawatir. Papa itu sayang banget sama Mama, udah pasti sih Papa bakalan nurut apa yang Mama bilang."
Malvin kemudian mengecup punggung tangan sang kekasih lalu meletakkannya di atas pahanya. "Aku sama Mama udah bikin kesepakatan, beliau nggak bakal ingkar. Kamu harus percaya sama aku."
"Tapi aku lebih tua daripada kamu."
Malvin terkekeh. "Bentar, ini kamu lagi insecure ya ceritanya? Ngapain?" tanyanya heran, "kamu punya semuanya, nggak cocok insecure. Nanti kasian yang nggak punya apa-apa makin insecure sama kamu. Yang mau menjalani kehidupan rumah tangga adalah aku bukan mereka, jadi yang berhak memutuskan dengan siapa aku akan menjalani rumah tangga itu, ya aku sendiri. Jadi, kalau seandainya pun mereka ada yang kurang setuju dengan keputusan aku, ya nggak papa. Aku bakal berusaha sampai keduanya benar-benar setuju."
"Percaya diri sih kamu ini."
"Of course, modal utama pria itu ya yang penting percaya diri, urusan lain masih bisa di
kesampingkan. Lagian age just number. Perbedaan umur kita juga nggak jauh-jauh amat juga kan?"
Mendengar jawaban sang kekasih, Yasmin tersenyum. "Aku rasa kepala kamu bakalan langsung dipukul Mama kamu deh kalau berani bilang perbedaan umur kita nggak terlalu jauh."
"Ya, kali anak kesayangannya mau dipukul. Ada-ada aja kamu ini, sayang."
"Tapi ngomong-ngomong, Vin, Mama kamu kenal sama aku sih. Beliau suka dateng ke klinik aku untuk perawatan kulitnya, bahkan tadi siang--"
Ciiiittttt
Terkejut dengan kalimat sang kekasih, Malvin tiba-tiba langsung menginjak rem begitu saja, beruntung tidak ada mobil di belakangnya dengan jarak dekat. Karena jika itu terjadi dapat dipastikan akan ada kecelakaan.
"Malvin," tegur Yasmin dengan suara tegas. Ia kemudian menoleh ke arah belakang sekilas, sebelum akhirnya fokus ke sang kekasih lagi, "kamu itu gimana sih? Hati-hati dong kalau nyetir, untung nggak ada mobil di belakang kita, kalau ada tadi pasti kita udah kecelakaan karena kamu tiba-tiba injak rem begitu saja," omelnya kemudian.
"Maaf, maaf, sayang, aku kaget. Ini seriusan Mama aku kenal sama kamu?" tanyanya masih tidak percaya.
Tadi ia tidak merasa cemas sama sekali, tapi sekarang justru ia yang merasa cemas. Entah apa alasannya.
"Ya, kenapa juga aku sampe harus bohong sih, Vin? Iya, aku beneran kenal beliau."
"Mampus kok sekarang aku yang jadi deg-degan ya."
"Kenapa? Kamu jangan bikin aku makin panik dong, Vin, tadi kamu nyuruh tenang, tapi kenapa sekarang malah kamu yang cemas?" Yasmin menatap Malvin ragu-ragu, "apa kita tunda aja dulu sampai kita berdua sama-sama siap?" tawarnya kemudian.
Malvin menggeleng cepat. "No. Aku nggak setuju. Kita harus ketemu orang tua aku malam ini, harus malam ini, sayang, kita nggak bisa nunda-nunda lagi." Ia mencoba meyakinkan sang kekasih dengan menggenggam tangan Yasmin, "kamu percaya sama aku, ya? Kita pasti bisa menghadapinya kok, nggak perlu takut, toh, kita datangnya bareng-bareng."
Awalnya, Yasmin masih sedikit ragu-ragu. Namun, saat melihat anggukan kepala Malvin, mau tidak mau ia ikut mengangguk dan lebih meyakinkan diri. Baiklah, memang lebih cepat lebih baik. Setidaknya kalau ia tidak benar-benar bisa diterima dengan baik di keluarga Malvin, ia bisa langsung pergi setelahnya.
__ADS_1
Saat ia sampai di rumah kedua orang tuanya, yang menyambut mereka adalah ART. Kalau boleh jujur, Malvin sedikit kecewa. Karena ia pikir sang Mama akan langsung menyambut kedatangan anak dan calon menantunya, seperti kebanyakan Mama pada umumnya.
"Mama mana, Bik?"
Malvin celingukan mencari keberadaan sang Mama yang belum ia temukan sejak ia masuk ke dalam rumah. Tidak menyambutnya, ia pikir sang Mama sudah stand by di ruang makan, tapi ternyata ia salah. Di sana tidak ada siapapun kecuali ART mereka.
"Masih di atas, Den, Ibu baru banget nyampe terus Den Malvin sampe."
"Papa juga?"
"Bapak malah belum pulang."
Tanpa sadar Malvin mengepalkan telapak tangannya kuat karena marah. Yasmin yang menyadari itu langsung mendekat sambil mengelus lengannya.
"Vin, nggak papa, mungkin beliau sibuk."
"Kalau ngomongin sibuk, merek juga dari dulu sibuk kali, Yas. Mereka emang sibuk terus, tapi ini kan pertemuan dengan calon menantunya, anaknya nggak pernah bawa perempuan ke rumah, dan ini pertama kalinya. Tapi mereka bahkan nggak antusias sama sekali."
Raut wajah Yasmin terlihat kaget. Pertama kalinya membawa perempuan ke rumah, jadi maksudnya sebelum ini Malvin tidak pernah membawa perempuan mana pun ke sini.
"Aku yang pertama?"
Malvin mengangguk untuk mengiyakan. "Bahkan Yana aja nggak pernah aku ajak ke sini, karena emang aku semales itu untuk pulang."
"Kenapa sih, Vin? Marah-marah terus, kamu jangan banyak ngeluh kenapa sih? Masih untung Mama bisa luangin waktu buat kamu."
"Vin," panggil Yasmin dengan nada menegur.
"Apa kamu lagi pamer kalau hubungan kita seburuk ini di depan pacar kamu, Vin?"
"Iya. Pacar aku harus tahu kalau hubungan kita."
Sang Mama mengangguk paham, lalu melirik perempuan yang berdiri tepat di sebelah sang putra. Wajahnya nampak familiar. "Yasmin?" panggilnya ragu-ragu. Ia takut kalau salah mengenali.
"Malam, Tante, iya, ini saya Yasmin." Yasmin langsung memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan Mama Malvin.
Mama Malvin menatap sang putra ragu-ragu. "Ini pacar yang kamu ceritain kemarin?"
Masih dengan raut wajah sedikit kesal, Malvin mengangguk dan mengiyakan.
"Serius kalian pacaran? Yas, kok kamu mau sih sama anak nakal ini? Dia bahkan nggak punya apa-apa loh, masih residen pula. Kamu yakin?"
"Yakin, Tante," ucap Yasmin mantap, "saya dan Malvin saling mencintai. Saya tidak masalah dengan posisinya yang masih residen, karena Malvin juga nggak masalah dengan perbedaan umur kami."
"Tapi perbedaan umur kalian nggak sedikit."
"Ya, terus kenapa emang? Umur cuma angka, Ma, nggak akan ngaruh di apapun."
__ADS_1
"Enggak ngaruh apa? Gimana nanti kamu memimpin rumah tangga kalian? Yasmin udah sangat dewasa dengan karir cemerlangnya. Sedangkan kamu? Masih suka main-main nggak jelas, kalian pikir pernikahan itu gampang?"
"Loh, Mama kok tiba-tiba ngomong begini? Bukannya kita udah sepakat kalau Mama akan setuju dengan pilihan Malvin, siapapun orangnya?" protes Malvin tidak terima. Ia tersinggung karena sang Mama seolah tidak menerima keputusannya.
"Iya, oke, ini emang keputusan kamu, siapapun orang yang akan kamu nikahi nantinya, sepenuhnya keputusan kamu. Mama nggak akan ikut campur pada keputusan finalnya. Tapi sekarang mumpung masih pacaran, apa nggak sebaiknya dipikirin sekali lagi?"
Malvin menatap sang Mama dengan ekspresi tidak percaya. "Jadi begini sambutan Mama? Kalau emang begini, mending aku sama Yasmin pulang sekarang." ia langsung menggenggam telapak tangan Yasmin dan membawa perempuan itu pergi meninggalkan rumah begitu saja. Mengabaikan beberapa seruan sang Mama yang mencoba membujuknya. Ia tidak peduli, karena ia sudah terlanjur kesal.
"Vin, kayaknya reaksi kamu berlebihan deh," tegur Yasmin hati-hati.
"Maksud kamu aku lebay gitu?" Malvin menatap sinis ke arah Yasmin.
"Enggak, kamu cuma terbawa emosi. Maksud Mama kamu nggak gitu, aku rasa kamu yang salah tangkep, Mama kamu cuma ingin yang terbaik--"
"Bisa berhenti beromong kosong, Yas? Yang terbaik?" Malvin mendengus tidak percaya, "nggak semua orang tua tahu yang mana yang bener-bener terbaik buat anaknya."
"Dengerin dulu! Kamu bisa nggak sih jangan dikit-dikit emosi? Mama kamu cuma pengen kamu meyakinkan diri kamu, kalau pilihan kamu emang yang terbaik buat kamu. Sebagai orang tua pasti mereka nggak mau kamu salah ambil keputusan. Tapi liat emosional kamu yang begini, aku jadi mikir kamu ini beneran siap buat nikahin aku nggak sih?"
Kalimat Yasmin cukup menamparnya. Malvin bahkan sampai tidak bisa membalas apapun. Pria itu larut dalam pikirannya, ia bahkan sampai tidak menyadari ada telfon masuk.
"Malvin! Hape kamu bunyi!"
Lamunan Malvin buyar. Cepat-cepat ia menerima ponsel yang Yasmin sodorkan dan menerima panggilan tersebut.
"Ya, halo, Bang?"
"..."
"Hah? Yana udah mau lahiran?"
Malvin langsung menoleh ke arah Yasmin.
"..."
"Enggak, gue lagi nggak tugas. Tapi, iya, gue bakal ke RS sekarang."
"..."
"Oke, Bang, gue matiin."
Klik.
Malvin menatap Yasmin ragu-ragu. Perempuan itu kini sedang menghindari tatapan sang kekasih.
"Kita ke RS sekarang, masalah rencana nikah kita bisa obrolin kapan-kapan."
Malvin mengangguk paham. "Maafin kalau sikap aku barusan bikin kamu kecewa, aku janji untuk ke depannya aku bakal lebih introspeksi diri. Aku beneran sayang sama kamu, Yas. Maaf kalau aku masih terlalu gampang terbawa emosi."
__ADS_1