Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Anti Mual


__ADS_3

Ayana merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, kemarin saat ia belum mengetahui dengan pasti kalau dirinya sudah hamil, ia merasa baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda apapun yang terjadi pada dirinya. Namun, tepat setelah ia mengetahui kalau dirinya sedang hamil, pagi harinya Ayana langsung mengalami tanda-tanda seperti orang hamil pada umumnya.


Ayana yang biasa susah dibangunkan saat subuh, mendadak rajin bangun lebih awal karena rasa mual yang menyerang. Saga bahkan tidak tahu harus bersyukur atau merasa kasian dengan sang istri.


Seperti saat ini, adzan subuh belum berkumandang tapi Ayana sudah stand by di depan wastafel, sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Padahal hasilnya nihil, tidak ada yang keluar kecuali air liurnya sendiri.


Tak berapa lama Saga kemudian langsung menyusul Ayana. Kedua matanya masih belum terbuka sempurna, tapi sudah sigap membantu sang istri yang sedang berusaha keras mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di dalam isi perutnya.


"Ada yang keluar?" tanya Saga sambil memijit tengkuk Ayana.


Matanya kembali terpejam karena masih mengantuk. Maklum, semalam ia pulang larut malam dan Ayana merengek minta ditemani menonton. Lalu ditambah sekarang, belum adzan subuh berkumandang tapi ia sudah kembali bangun. Meski sudah terbiasa dengan jam tidur berantakan sejak kuliah, tapi tetap saja ia manusia normal yang merasa mengantuk kalau kurang tidur.


Ayana menggeleng sebagai tanda jawaban. Ia kemudian menegakkan tubuhnya lalu membasuh wajah agar lebih segar. Berharap rasa mualnya sedikit hilang.


Saga langsung membuka kedua matanya begitu merasakan pergerakan sang istri secara tiba-tiba. Kedua matanya sekarang sepenuhnya terbuka.


"Mau air madu lemon?" tawar Saga, "biar mualnya ilang."


Ayana menggeleng. "Air putih hangat aja deh, Mas." ia kemudian berjalan keluar dari kamar mandi dibantu Saga.


"Tunggu sebentar, aku ambilin."


Saga kemudian langsung bergegas turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Begitu mendapatkan yang dicari, ia langsung membawanya kembali ke kamar.


Saat ia kembali ke kamar, Ayana sudah tidak ada di ranjang lagi. Padahal sebelum ia turun, sang istri terlihat kembali berbaring di atas ranjang. Saga kemudian memutuskan untuk mengecek di kamar mandi. Dugaannya benar, Ayana kembali ke sana.


"Ada yang keluar?"


Lagi-lagi Ayana menggeleng. Selama beberapa hari mengalami morning sick, ia hanya merasakan mual-mual saja, tidak ada sesuatu yang benar-benar dimuntahkan perempuan itu.


Saga kemudian mengajak Ayana keluar dari kamar mandi. Menyuruh sang istri agar duduk lalu menyuruh perempuan itu agar segera minum air hangat yang ia bawakan.


"Masih mual banget?" tanya Saga tidak tega. Meski sadar gejala yang dialami istrinya adalah hal yang umum terjadi pada wanita hamil, tapi tetap saja ia merasa khawatir sekaligus tidak tega melihatnya.


Ayana menggeleng. Namun, detik berikutnya ia langsung membungkam mulutnya lagi karena rasa mual yang tiba-tiba menyerang.


"Itu masih mual."


"Maksudnya nggak papa, Mas. Bukan karena udah nggak mual."


"Pusing?"


Ayana mengangguk. "Ternyata hamil berat ya, Mas?" ujarnya sambil menyandarkan kepalanya pada dada Saga, "padahal baru berapa hari ngerasainnya, kok rasanya udah pengen ngeluh aja bawaannya."


"Justru karena baru, makanya perlu penyesuaian. Kalau udah lama, ya udah terbiasa," balas Saga. Tangannya kemudian membantu memijat pelipis sang istri.


"Jadi aku nggak lebay kan, Mas?"


"Enggak. Kamu butuh penyesuaian. Kan ini baru kehamilan pertama kamu."

__ADS_1


Ayana mengangguk paham. Sepertinya memang begitu.


"Dua anak cukup ya?"


Ayana langsung menegakkan tubuh. "Kok mendadak berubah? Katanya minimal tiga?"


Saga menggeleng. "Dua aja."


"Kenapa?"


"Enggak tega liat kamu begini."


"Astaga, Mas, gitu banget kamu. Lagian belum tentu ntar di semua kehamilan aku bakal begini kan?"


Saga tetap menggeleng kekeuh. "Dua aja," ucapnya tidak ingin dibantah.


"Serius dua? Kayaknya kalau dua rumah ntar masih sepi nggak sih, Mas?"


"Enggak. Nanti mereka teriak-teriak kamu ngomel, nggak bakal sepi kan?"


"Oh, jadi aku tukang ngomel?"


Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Bukannya semua suka begitu?"


"Siapa yang kamu maksud semua itu?"


"Istri dan ibu." Saga berpikir ragu, "kayaknya kamu juga bakal begitu."


Saga merasa tidak tega melihat Ayana muntah-muntah sejak subuh tadi. Tubuh istrinya itu bahkan sekarang sangat dingin karena sejak tadi belum juga keluar dari kamar mandi. Tidak seperti hari-hari kemarin yang hanya mual-mual saja, pagi ini Ayana memuntahkan semua isi perutnya. Saga jadi tidak tega melihat wajah pucat sang istri.


"Mau ke rumah sakit?" tawar Saga, semakin tak tega melihat kondisi sang istri. Tubuh Ayana bahkan saat ini sampai terlihat sedikit gemetar.


Ayana menggeleng lemah. Tubuhnya oleng sedikit, lalu dengan gerakan sigap Saga kemudian membopong tubuh lemah sang istri dan membawanya keluar dari kamar mandi.


"Lemes banget?"


Ayana bahkan seperti tidak memiliki tenaga untuk sekedar berkata iya. Perempuan itu hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Kepalanya bersandar nyaman pada dada sang suami, matanya pun ikut terpejam dengan kedua tangan yang melingkar pada leher Saga.


Saga kemudian menurunkan tubuh Ayana di atas ranjang, membenarkan posisi berbaring sang istri agar lebih nyaman.


"Mas," panggil Ayana dengan suara lemahnya, saat perempuan itu menyadari pergerakan Saga yang berniat melangkah pergi.


"Bentar, nggak ke mana-mana, cuma ambil tensi."


Setelah mendapatkan barang yang dicari, Saga kemudian mengecek kondisi sang istri. Ternyata tekanan darah sang istri cukup rendah.


"Beneran nggak mau ke rumah sakit?"


Ayana menggeleng.

__ADS_1


"Kalau gitu aku infus, ya? Biar nggak lemes."


Lagi-lagi Ayana hanya menggeleng sebagai tanda jawaban. Lalu beberapa detik kemudian ia merentangkan kedua tangannya. Saga yang paham akan kode itu otomatis langsung ikut berbaring dan memeluk sang istri.


"Namanya hamil muda, Mas, ya begini."


"Tetep aja nggak tega liatnya."


Ayana terkekeh. Ia kemudian teringat sesuatu. "Oh ya, Mas, arisan nanti di rumah siapa?"


"Jaka."


"Kita berangkat jam berapa?"


Mendengar pertanyaan sang istri, reflek Saga meregangkan pelukan mereka. Ia menatap Ayana tidak percaya, kedua mata sang istri yang tadinya terpejam kini mendadak terbuka.


"Kenapa?" tanya Ayana heran.


"Kamu lagi lemes begini masih mikirin ikut arisan?" Nada bicara Saga terdengar sedikit ketus.


"Ya iya lah, kan sekarang aku udah hamil."


"Ayana," panggil Saga tidak suka, "kamu berniat pamer?"


"Lah, bukannya emang acara arisan itu cuma kedok? Aslinya emang buat ajang pamer dan banding-bandingin orang kan? Si A udah begini bla bla bla, tapi si C masa begitu-begitu aja, si F malah udah bla bla bla. Arisan keluarga mah harusnya mempererat silahturahmi bukannya malah jadi ajang pamer dan banding-bandingin orang."


Saga menghela napas. "Oke, mulai sekarang kita nggak usah ikut arisan."


"Loh, enak aja, enggak mau. Nanti apa kata orang-orang dari keluarga kamu? Pasti nanti mereka bakal bilang 'itu si Saga abis nikah sekarang udah nggak mau ikut arisan lagi' pasti gara-gara istrinya."


Dari nada bicara Ayana, sepertinya energi perempuan itu sudah kembali lagi.


"Aku emang nggak pernah ikut bahkan sebelum nikah."


"Ya pokoknya tetep nggak boleh, nanti pasti aku yang diomongin mereka. Meski ada pepatah yang bilang 'perempuan itu nggak pernah salah' tapi kenyataannya jadi perempuan itu salah mulu, Mas. Udah berumur nggak nikah-nikah salah dibilangnya terlalu pemilih, masih muda udah nikah masih salah juga, dibilang ngebet. Abis nikah nggak kerja masih salah juga dibilang sayang ijazah sama sekolah tinggi-tingginya, masih tetep kerja tetep salah itu, dibilangnya lebih sayang karir daripada suami. Punya anak..."


Ayana menghentikan kalimatnya karena melihat ekspresi Saga. "Kenapa senyum-senyum?"


Saga menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ternyata anti mual terampuh kamu ngomel, ya?"


"Ngeledek kamu, Mas?"


Saga kembali menggeleng. "Memuji."


Seketika Ayana langsung mendengus. "Memuji?" beonya tidak percaya, "memuji apaan kamu begitu?"


"Istri aku keren, ngomel doang tapi langsung ilang mual muntahnya." Saga tersenyum bangga sambil mengelus pipi Ayana, "bahkan langsung segeran."


"Ah, Mas Saga! Udahan, jangan ngeledek gitu! Aku malu."

__ADS_1


"Kenapa?"


Ayana melotot kesal sambil mencubit pinggang Saga. Pria itu tidak mengaduh atau protes, tapi malah terkekeh samar. Tolong, siapapun jangan berpikir kalau pria itu akan terbahak.


__ADS_2