
“Maaf, Mas, Masnya mau ketemu Mbaknya yang tinggal di unit ini ya?”
Malvin spontan menoleh ke asal suara dan menemukan perempuan yang ia ketahui itu adalah tetangganya. Ia tersenyum simpul lalu mengangguk untuk mengiyakan. Mungkin karena jarang kelihatan membuatnya tidak dikenal tetangga sendiri.
“Setahu saya penghuni di situ udah pindah deh, Mas. Kemarin saya lihat orang-orang mindahin barang-barang gitu.” Perempuan itu kemudian menunjuk unit apartemen milik Malvin, “coba deh Mas-nya nanya sama penghuni unit itu. Denger-denger sih penghuni unit itu pacar Mbaknya. Cuma emang orangnya sibuk banget, Mas, jarang keliatan, saya aja mungkin lupa sama mukanya karena saking jarang ketemu sama dia.”
__ADS_1
Mau tidak mau Malvin kembali meringis. “Mohon maaf, Mbak, orang yang Mbaknya maksud itu saya loh.”
“Astaga, ya ampun, jadi Masnya pemilik unit itu?” tanya perempuan itu dengan ekspresi tidak percayanya. Wajahnya terlihat kaget. Malvin meringis lalu mengiyakan.
“Oalah, pantesan ayak nggak asing muka Mas-nya.” Perempuan itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, “saya Olivia, panggil saja Olive,” imbuhnya malah memperkenalkan diri.
Malvin tersenyum lalu menjabat tangan perempuan itu. “Gue Malvin.”
Olive manggut-manggut paham, tapi beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu, “loh, kalau Mas-nya yang tinggal di unit itu berarti Mas-nya pacarnya Mbaknya yang tinggal di unit itu dong?”
Malvin meringis lalu garuk-garuk kepala salah tingkah kala mengingat statusnya yang kini sudah berubah menjadi mantan.
“Oh, saya tahu. Mas-nya sama Mbaknya pasti lagi berantem ya?” tebaknya kemudian.
“Lebih dari itu, saya bahkan diputusin pacar saya yang itu,” curhatnya tanpa sadar.
Malvin merasa nasibnya sedikit tragis sekaligus miris, sudah tidak dikenali tetangganya dan sekarang ia bahkan ditinggal sang mantan ke kasih entah kemana.
Malvin merasa terganggu dengan panggilan Mas yang dipakai perempuan itu. Ia kurang suka karena menurutnya dirinya belum setua itu untuk dipanggil Mas. Dan ia tidak terbiasa dengan itu.
“Liv, kan lo udah tahu nama gue, alangkah baiknya kalau lo panggil nama aja. Jangan panggil Mas-nya deh.”
“Ya nggak sopan dong Mas kalau saya panggil nama. Nanti dikiranya ibu saya tidak bisa ngajarin saya bahasa yang sopan. Kalau sama yang lebih tua itu memang harus manggil Mas.”
Malvin terkekeh gemas. “Emang lo yakin banget kalau gap years kita beda jauh?”
Olivia menggaruk kepalanya salah tingkah. “Lumayan sih, Mas, soalnya kata kakak saya, saya itu boros muka.”
Malvin mengerutkan dahi heran, kayaknya mereka baru kenalan beberapa menit lalu tapi kenapa bahasaan mereka sudah tentang umur saja? Padahal ia pikir perempuan itu akan langsung pergi begitu saja. Tapi ternyata dugaannya salah.
__ADS_1
“Memang umur lo berapa?” tanya Malvin mulai kepo,”17? 18?”
“Kalau umur segitu mana boleh saya tinggal di apartemen sendirian. Masih disuruh ngekos sih saya pasti.”
“Terus berapa?”
“23.”
Malvin tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali tertawa. “23 lo bilang boros muka?”
Olivia mengangguk cepat untuk mengiyakan.
Kali ini giliran Malvin yang menggeleng cepat. “Enggak lah, sesuai kalau segitu. Kalau umur lo masih 17 tahun, baru deh beneran boros muka lo. Serius.”
“Tapi aku suka dikira ibu anak satu tahu kalau lagi sama ponakan aku. Itu tandanya emang akunya yang punya muka boros kan?”
“Ya, belum tentu juga lah, bisa jadi karena emang muka lo aja yang mirip sama ponakan lo. Lagian jaman sekarang banyak anak muda yang hamil di usia dini. Gue bahkan pernah bantu lahiran yang umurnya masih 14 atau 15 kalau nggak salah, gue lupa sih, tapi yang jelas dia belum punya ktp gitu. Terus lucunya pas bayinya udah lahir dan gue panggil ibu nggak mau dong. Aneh banget kan, kan bayinya udah lahir, otomatis udah jadi ibu kan.”
Malvin reflek menutup bibirnya rapat-rapat, bukankah ia terlalu cerewet terhadap perempuan yang baru saja dikenalnya?"
"Jadi Mas-nya ini bidan?"
Malvin tertawa. "Emang ada ya bidan cowok?"
"Lah iya bener juga ya, Mas, terus berarti kalau bukan bidan berarti dokter kandungan ya?"
"Calon."
Olivia garuk-garuk kepala bingung. "Maksudnya calon? Oh, saya tahu, masih magang gitu ya?'
__ADS_1
Kali ini giliran Malvin yang garuk-garuk kepala. Bingung bagaimana harus menjelaskannya. "Ya semacam itu lah. Ya udah, kalau gitu gue duluan ya."
Tbc,