
Angel merasa sedikit kesulitan menahan senyumnya, saat ia membuka pintu apartemen dan menemukan Malvin berdiri di sana. Pria itu tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Hai!"
"Ngapain?" tanya Angel.
Malvin meringis tipis sambil memeluk perutnya sendiri. "Hehe, minta makan dong. Di rumah nggak ada apa-apa buat dimakan nih. Lo masak apa?"
Angel mendengus sambil menggeleng. "Gue baru pulang dari Bandung, jadi nggak masak. Go-Food aja udah," sarannya kemudian. Kedua tangannya menyilang di depan dada.
"Kelamaan. Keburu pingsan ntar gue." Kepala Malvin sedikit melongok ke dalam apartemen gadis itu, "kulkas gue beneran nggak punya apa-apa nih buat dimasak. Masa lo nggak punya sesuatu gitu? Mie rebus juga boleh."
Angel mengangguk paham lalu masuk ke dalam.
Malvin melongo karena perempuan itu masuk begitu saja, tanpa membiarkan dirinya ikut masuk. Bahkan pintunya pun kembali tertutup.
Tak butuh waktu lama, pintu apartemen Angel kembali terbuka. Perempuan itu kemudian menyerahkan sebungkus mie rebus mentah kepada Malvin. Pria itu tidak langsung menerimanya, dan justru malah memasang wajah bingungnya.
"Cuma nggak punya bahan untuk dimasak kan? Mie rebus doang nggak papa kan? Ya ini, gue kasih mie rebus mentah, lo tinggal masak sendiri."
"Ya elah, bikinin sekalian lah, lagian mie rebus itu paling enak kalau dibikinin orang ketimbang bikin sendiri. Berbuat baik sama tetangga itu ada etikanya, jangan setengah-setengah."
Angel berdecak sebal. "Kata siapa?"
"Kata gue. Buruan, ayo, masakin! Gue serius beneran udah laper banget nih, mau lo kalau gue pingsan di sini?"
Angel mendengus. Akhirnya secara terpaksa ia membiarkan pria itu masuk ke dalam apartemennya.
"Lo itu emang paling jago ya, dalam urusan ngerepotin tetangga lo?"
Malvin menggeleng. "Enggak juga. Liat-liat sikon juga kok, masa iya, tetangga sibuk gue repotin terus. Ya, enggak enak."
"Terus maksud lo gue nggak sibuk makanya lo rusuhin terus?"
Dengan tampang tidak bersalahnya, Malvin mengangguk dan mengiyakan. Bahkan tanpa perlu menunggu dipersilahkan duduk, ia langsung menjatuhkan tubuhnya pada bed sofa yang tersedia di sana. Harus ia akui kalau bed sofa milik Angel sangat nyaman. Ia bahkan sampai kepikiran buat ikut beli.
"Lo beli bed sofa ini di mana?"
"Kenapa?"
"Pengen punya juga gue. Nyaman banget. Jadi kalau gue males pindah kamar enak. Langsung merem, tidur nyenyak, paginya nggak khawatir sakit punggung." Malvin langsung bangkit dari posisi berbaringnya, lalu menghadap ke arah dapur, yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Sama seperti di apartemennya, dapur mereka tanpa sekat, jadi masih kelihatan dari ruang tamu, "beli di mana? Kapan-kapan temenin gue nyari, yuk!"
Angel mendengus seraya memasukkan mie ke dalam air mendidih. "Modusin gue ya lo? Jelek banget, Vin, sumpah. Kalau emang mau ngajakin jalan, ajakin aja lah, nggak usah sok belaga mau beli bed sofa," cibirnya kemudian.
Malvin terkekeh. "Ya udah, ntar akhir minggu jalan, yuk! Lo udah ada rencana belum?"
"Males lah kalau jalan sama lo."
"Kenapa emang? Perasaan gue nggak jelek-jelek banget deh buat diajakin jalan."
"Males ntar kalau tiba-tiba lo ditelfon suruh jagain bini orang mau lahiran lagi."
Seketika Malvin langsung terbahak kencang. "Ya, kan waktu itu urgent, karena gue punya utang tuker shift sama temen, jadi mau nggak mau gue harus ke sana buat gantiin dia. Kalau minggu ini aman kok. Mau, ya?"
"Lihat ntar!"
"Ya elah, kasih gue kepastian dong! Jangan digantung, lo kata gue jemuran apa."
"Daripada ntar gue, lo bilang tukang PHP, bilang iya, tahu-tahu nggak bisa. Jadi mending liat ntar. Ntar gue kabari bisa apa enggaknya."
"Bener, ya?"
"Iya. Ini udah mateng, buruan ke sini!" perintah Angel sambil meletakkan semangkuk mie rebus di atas meja bar.
"Kenapa nggak makan di sini aja sih?" protes Malvin.
"Ntar bed sofa gue kotor kena kuah mie. Buruan! Sebelum gue buang."
"Galak banget sih, lo, kayak temen gue. Persis. Maunya menang sendiri."
Dengan sedikit ogah-ogahan, Malvin akhirnya berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Angel. Duduk di samping perempuan itu sambil mengambil sendok dan garpu.
"Siapa temen lo? Cewek?"
Malvin menyeruput kuah mie-nya sambil mengangguk.
__ADS_1
"Temen apa demen?" ledek Angel kemudian.
"Beneran temen. Udah kayak sodara sendiri--"
"Sodara ketemu gede?"
Malvin mengangguk. "Iya. Sodara angkat, soalnya kan gue anak tunggal. Bahkan gue manggil nyokap-bokapnya Mami-Ayah." ia kemudian teringat sesuatu, "sama satu lagi, dia udah jadi bini orang. Ya kali gue naksir. Gue anti sama istri orang."
"Kalau belum jadi istri orang, bisa dong naksir?"
"Ya, enggak juga. Soalnya kita beneran kayak sodara banget, terus besti banget, ya ogah sih gue naksir. Kalau pun di dunia ini udah nggak ada perempuan lain, dan cuma ada Yana, gue tetep masih mikir ribuan kali buat naksir dia."
Angel mendengus seraya menuang air putih untuk dirinya sendiri. "Tapi gue nggak percaya pertemanan antara laki-laki dan perempuan nggak pernah ada adegan saling naksir."
"Sama. Gue juga awalnya nggak percaya, tapi setelah ngalami sendiri, baru percaya. Ternyata beneran bisa kok."
"Masa sih? Lo nggak pernah naksir gitu?"
Malvin menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Terus temen lo?"
"Apalagi--"
Kalimat Malvin langsung terpotong karena ponselnya berbunyi. Ia meringis sebentar sebelum pamit berdiri dan menghampiri ponselnya yang tergeletak di meja yang ada di ruang tamu. Ia sedikit bernapas lega karena itu bukan panggilan dari rumah sakit.
"Dari rumah sakit?"
Malvin menggeleng sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Angel. "Lakinya temen gue. Bentar, gue angkat dulu."
"Ya, halo, Bang?"
"Posisi?"
"Hah? Posisi apa ya ini maksudnya, Bang?"
Terdengar helaan napas dari seberang. "Di mana?"
"Oh, maksudnya posisi gue lagi di mana gitu ya, Bang?"
"Lagi di apartemen sih, kenapa ya, Bang?"
"Bisa ke sini?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah menatap Angel. Seolah meminta izin, perempuan itu hanya mengangkat kedua bahunya karena tidak paham.
"Urgent, Bang?"
"Iya."
"Ya udah, oke, gue ke sana, Bang."
"Thanks."
Klik. Tanpa menunggu jawaban dari Malvin, Saga langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Dalam hati ingin menggerutu kesal.
"Kenapa?"
Malvin meletakkan ponselnya lalu melanjutkan makannya. "Kayaknya bininya bikin ulah, gue disuruh bantuin. Thanks, ya, buat mie-nya. Enak. Kapan-kapan lagi ya? Gue pamit."
Tanpa menunggu respon dari perempuan itu Malvin langsung bergegas pergi begitu saja dari unit apartemen Angel.
***
Malvin tidak dapat menahan keterkejutannya saat melihat kondisi Ayana yang terlihat memprihatikan. Perempuan itu tampak terlihat lemas, bahkan, berjalannya pun sampai harus dipapah Saga. Wajahnya pun pucat, beberapa kali Ayana juga terlihat seperti menahan muntah. Apa jangan-jangan sahabatnya ini sedang hamil muda makanya mual-mual?
"Jangan ditahan, kalau mau muntah, muntahin aja!" tegur Saga lalu melihat Ayana beberapa kali menahan agar tidak muntah.
Ayana menggeleng lalu memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil Malvin. Dengan gerakan sigap, Saga langsung membantu sang istri memasangkan seat belt.
"Titip Yana, ya, gue langsung balik begitu operasi kelar," ucap Saga setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman.
Malvin mengangguk paham. "Tapi kalau boleh tahu Yana kenapa, Bang? Apa udah isi?"
Saga menggeleng.
__ADS_1
"Oh, masuk angin biasa. Gue kirain--"
"Abis suntik HCG."
"Apa?! Lah, emang ada masalah apa sama kesuburan Yana?"
Saga menghela napas panjang. "Lo tanyain sendiri lah orangnya. Gue cabut duluan, titip Yana, ya."
"Oh, oke, Bang, aman."
Malvin masih sedikit shock. Ia hanya mengacungkan jari membentuk O sambil manggut-manggut. Setelah memastikan Saga masuk kembali ke gedung rumah sakit, baru lah ia masuk ke dalam mobil.
"Na, lo utang cerita sama gue."
"Bodo amat, nanti gue cerita. Sekarang yang penting anterin gue pulang. Gue lemes banget, anjir. Enggak kuat rasanya."
Malvin langsung melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Ekspresinya menatap iba sang sahabat yang terlihat begitu lemas. Ia penasaran ingin bertanya, namun, di satu sisi ia juga tidak tega melihatnya.
"Vin, kayaknya gue mau muntah deh. Lo ada apa gitu buat wadah muntahan gue?"
Malvin panik. Ia langsung menepikan mobilnya. "Bentar, Na, bentar, dulu! Gue cariin, jangan dimuntahin di mobil gue, baru gue cuci kemarin, anjir." ia semakin panik saat tidak menemukan wadah yang bisa dijadikan muntahan Yana, "ini." ia akhirnya bisa bernapas lega saat menemukan kantong plastik yang bisa digunakan.
Dengan gerakan sigap, ia langsung membantu Ayana memijat tengkuk perempuan itu.
"Udah lega?"
"Lumayan."
Ayana akhirnya bernapas lega dan langsung menyandarkan punggungnya.
"Udah? Mau muntah lagi nggak lo?"
Ayana menggeleng. "Enggak. Kayaknya udah."
"Gue buang dulu deh kalau gitu ini bekas muntahan lo."
Malvin langsung keluar dari mobil dan membuang bekas muntahan Ayana di tempat yang aman. Setelah itu ia memutuskan untuk membeli air minum dan juga tisu di warung. Karena kebetulan stok tisu di mobilnya sudah habis.
"Nih, gue beliin minum sama permen. Lo minum buat ngilangin rasa eneknya."
"Thanks."
Selesai membukakan botol air minum untuk Ayana, Malvin langsung membuka tisu dan menarik beberapa lembar. Ia kemudian langsung membantu mengelap ujung mata Ayana yang sedikit berair.
"Ini gimana sih ceritanya sampai lo bisa suntik kesuburan segala? Emang ada masalah apa sama kesuburan lo? Bukannya sebelum nikah udah cek, dan emang nggak ada masalah?"
"Ya namanya pengen cepet hamil."
"Hah?!" Malvin melongo tidak percaya, "bukannya lo sendiri yang bilang kalau nggak mau cepet-cepet punya anak? Kenapa sekarang malah jadi ngebet sampai suntik kesuburan segala?"
"Namanya hidup. Orang bisa berubah kapan aja."
"Tapi tetep aja..." Malvin benar-benar kehilangan kata-kata, "mana lo sampai suntik kesuburan lagi. Kata gue lo itu gila, kan lo dokter, Na, tahu dong efek samping dari suntik kesuburan? Dan kenapa tetep lo lakuin?"
"Ya, karena seperti yang gue bilang tadi, gue pengen cepet hamil."
"Ya, kalau lo nggak ada masalah kesuburan, tanpa suntik kesuburan pun, lo bisa cepet hamil, Na. Astaga! Kalau begini siapa yang susah? Lo kan?" Malvin kemudian mendengus, "mana gue juga ikutan kena lagi," sambungnya kemudian.
"Ya elah, sama temen sendiri kok begitu. Jahat banget deh lo. Cuma dimintai tolong gini doang, gimana kalau gue sampai ganggu lo pacaran."
Malvin langsung menatap Ayana sinis. "Masalahnya emang lo ganggu."
"Hah? Maksudnya gue ganggu lo pacaran?" Ayana langsung menegakkan tubuhnya, "lo ada pacar? Siapa? Kok nggak dikenalin ke gue?"
"Ya, gimana mau kenalin kalau lo aja hobinya ganggu terus."
"Oh, jadi belum pacaran?"
Malvin menggeleng pelan. "Gue mah main santai, nggak kayak lo, nggak sabaran tapi ujung-ujungnya diputusin."
"Sialan!" Ayana langsung menepuk pundak Malvin dan menyuruh pria itu agar segera menjalankan mobilnya, "ayo, buruan, jalan! Gue lemes banget nih, pengen cepet-cepet tidur."
"Banyak maunya lo," decak Malvin kesal. Meski demikian pria itu tetap menurut.
Ya, soalnya tidak mungkin juga kan dia tega menurunkan Ayana di tepi jalan, dengan kondisi perempuan itu yang lemas begitu. Tentu saja ia masih perikemanusiaan. Selain itu, ia juga takut dengan amukan Saga tentu saja.
__ADS_1