Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 22


__ADS_3

***


Pulang dari rumah kedua orang tuanya, Malvin bingung sendiri. Sekarang ia menyesali mulutnya sendiri, yang dengan bodohnya mengarang cerita bebas. Nasibnya saja belum jelas begini kok, pake acara ngibul udah punya calon lagi. Lantas kalau sudah terlanjur begini ia harus apa? Masa iya nyari di jasa sewa pacar? Kan nggak mungkin soalnya yang diinginkan kedua orangtuanya itu adalah calon menantu.


Haruskah ia mengarang cerita dan bilang kalau hubungannya kandas?


Malvin langsung menggeleng tegas tak lama setelahnya. Tidak mungkin. Sang Papa pasti langsung curiga kalau ia sebenarnya berbohong. Lalu sekarang ia harus bagaimana?


Apa mengaku saja?


Tapi kalau mengaku nanti pasti, ia akan dipaksa untuk menemui beberapa anak kenalan sang Papa.


Big no!


Ia tidak mau. Sudah cukup. Ia tidak berminat lagi untuk mengikuti kemauan sang Papa dalam urusan percintaan.


Langkah kakinya mendadak terhenti saat ia bertemu dengan Olivia, tetangganya. Senyum cerah seketika langsung terbit.


"Kenapa, Mas?" tanyanya heran.


"Lo udah makan belum?" Bukannya menjawab, Malvin malah balas balik bertanya. Ekspresinya bahkan terlihat mencurigakan di mata perempuan itu.


"Kamu sakit ya, Mas?" Olivia terlihat mulai khawatir sekaligus was-was, "sakit jiwa?"


"Ikut gue! Gue traktir lo makan enak."


Olivia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. "Aku masak, Mas, jangan boros kenapa sih. Dikit-dikit jajan, dikit-dikit jajan. Ayo, ikut makan di tempat aku, dibanding buat jajan mending uangnya buat ditabung. Buat beli rumah sama buat modal nikah. Jangan pemborosan kecuali kamu anaknya pemilik rumah sakit tempat kamu kerja."


Malvin spontan tertawa. "Ya, tempat kerja gue bukan punya bokap gue sih--"


"Nah, makanya, jangan pemborosan," potong Olivia cepat, ia tidak membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya, "kita sebagai orang biasa hanya perlu bersikap biasa-biasa aja, Mas, yang boleh boros itu orang-orang berduit yang orang tuanya punya perusahaan sendiri, atau punya rumah sakit sendiri," sambungnya kemudian.

__ADS_1


"Berarti--"


"Ya, nggak boleh," sambung perempuan itu cepat tanpa membiarkan Malvin menyelesaikan kalimatnya.


Pria itu tertawa simpul lalu manggut-manggut tak lama setelahnya. Padahal kan kedua orang tuanya punya rumah sakit sendiri, dan harusnya kalau untuk dirinya boleh lah boros sesuai yang disebutkan perempuan itu. Tapi berhubung kalimatnya dipotong terus, ya udah lah. Yang penting bukan dirinya yang nggak mau ngaku kalau orangtuanya punya rumah sakit sendiri, melainkan karena perempuan itu yang membuatnya tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya. Jadi kalau kemudian hari perempuan ini menyalahkannya karena tidak langsung memberitahu, ia punya pembelaan.


Keduanya kemudian langsung masuk ke dalam lift.


"Btw, lo tumben jam segini baru pulang?" tanya Malvin mengubah topik pembicaraan. Kebetulan ia juga merasa heran karena biasanya perempuan itu selalu tertib pulang sore, makanya ia heran saat melihat Olivia baru pulang.


"Lembur, Mas, capek banget kerjaan nggak kelar-kelar. Jadi terpaksa lembur." Perempuan itu berdecak sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "jadi karyawan begini banget ya, Mas, pengen resign deh aku. Tapi sadar diri kalau aku miskin. Kamu kadang ngerasa capek nggak sih, Mas?"


"Ya capek, gue nggak cuma kerja loh ini, tapi masih sekolah karena gue belum lulus."


Olivia manggut-manggut paham. "Bener juga sih, kan Mas Malvin dokter ya, jadi sekolah terus. Eh, tapi kan biaya masuk kedokteran itu mahal banget, Mas Malvin dapet beasiswa full?" tanyanya mendadak kepo.


Kali ini respon Malvin langsung tertawa. "Emang muka gue tipe yang pinter banget ya sampe bisa dapet beasiswa full?"


Perempuan itu langsung menggeleng sebagai tanda jawaban. "Tapi kan bisa aja Mas Malvin tipe yang nggak keliatan pinter, tapi aslinya pinter banget."


Kali ini Olivia merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Tapi denger-denger orang yang masuk kedokteran tuh pinter sih. Dan aku setuju, Mas."


"Jangan percaya! Enggak semua orang yang masuk kedokteran itu pinter, karena orang yang pinter bakalan kalah sama orang yang rajin. Karena kita dituntut belajar, belajar, dan terus belajar."


"Oh, berarti Mas Malvin orangnya rajin dong karena bisa masuk kedokteran?"


"Bukan. Aslinya sih gue pemalas, cuma berhubung masuk kedokteran jadi rajin dikit. Hehe."


"Dulu kenapa milih masuk kedokteran, Mas? Serius aku kepo sih, Mas Malvin bayar berapa buat masuk sana? Terus, terus, biaya ukt-nya berapa? Boleh spill nggak sih, Mas? Aku beneran kepo."


"Buset, Liv, gue udah lulus S1 lama banget loh, ya kali masih inget berapa biaya masuknya. Udah lupa lah."

__ADS_1


"Tapi masa iya gampang dilupain sih? Kan katanya biayanya mahal banget, Mas, pasti masih membekas lah di otak."


Malvin manggut-manggut setuju. "Ya emang mahal, tapi sama sekali nggak membekas lah di otak. Ngapain juga, orang gue awalnya nggak mau masuk sana, yang jelas gue minta lebih sih sama bokap gue, buat biaya tambahan. Hehe." ia terkekeh geli kala mengingatnya, sang Papa tahu kelakuan putra tunggalnya ini, tapi anehnya Damar sama sekali tidak marah.


"Emang kerjaan orang tua Mas Malvin apa? Kok sampai berani minta uang lebih? Kamu anak orang kaya ya, Mas?" tanya perempuan itu dengan wajah was-wasnya.


"Enggak, biasa aja kok, orang tua gue dokter juga. Dua-duanya."


"Oalah, pantesan."


Malvin kembali terkekeh dan keduanya pun keluar dari lift karena sudah sampai.


"Pantesan kenapa?"


"Pantesan bisa masuk, lha wong dua-duanya dokter. Berarti kalau kedua orang tua Mas Malvin dokter semua, keluarga Mas Malvin kaya dong?"


Malvin menggeleng. "Biasa aja, yang lebih kaya banyak."


"Kalau yang lebih kaya banyak, wajar, tapi menurut aku kalau keluarga dokter semua dan meski nggak punya rumah sakit sendiri tuh tetep kaya, menurut aku, Mas."


"Terus kalau punya rumah sakit sendiri?"


"Kaya banget lah. Nih, ya, Mas, aku kayaknya nggak bisa deh temenan sama kamu, kalau semisal keluarga kamu punya rumah sakit sendiri."


Spontan Malvin langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Olivia tidak terima. "Kenapa begitu?" protesnya kemudian.


Olivia terkekeh. "Ya, aku insecure lah, Mas, ibu aku itu cuma guru Madrasah, bapak aku perangkat desa. Kayak macem nggak sebanding itu loh. Dua-duanya dokter aja aku udah lumayan insecure kok apalagi ditambah punya rumah sakit. Kabur duluan lah aku."


"Ya elah, kamu ini lebay banget sih, Liv, masa temenan kok pandang harta kekayaan orang tuanya. Enggak tulus itu namanya."


"Yee, Mas Malvin anak orang kaya sih, mana ngerti rasanya insecure. Udah lah, ayo, masuk, aku udah masak masakan spesial nih," ajak perempuan itu.

__ADS_1


Malvin mendesah pasrah sambil manggut-manggut. "Awas aja ya kalau masakan spesial kamu cuma telur!" ancamnya lalu ikut masuk ke dalam.


Tbc,


__ADS_2