
Aska:
Na
Aska:
Nana
Aska:
Bu dokter🙃
Anda:
Apa sih, Ka?
Aska:
Udah selesai shiftnya?
Anda:
Udah lah, kan shift malem kelarnya jam 7 pagi
Anda:
Kenapa?
Aska:
Mau nanya
Anda:
Nanya apaan? Nanya ya tinggal nanya, ngapain pake prolog segala?
Aska:
Hari ini gue dapet undangan nih, Na, kira-kira lo bisa gk nemenin gue?
Anda:
Hari ini banget?
Aska:
Iya. Siang atau sore aja kalau lo mau tidur dulu. nggak papa. santai.
Aska:
yang penting temenin ya? gue males soalnya dateng sendirian. Temenin ya?
Aska:
please!🥺
Anda:
sorry banget, ka, kalau hari ini gue gk bisa. udah terlanjur ada janji soalnya. next time aja ya?
Aska:
yah, gue kecewa🥴
Aska:
ya udah, gk papa. tapi bener ya, next time klo gue butuh temen kondangan lagi temenin gue?
__ADS_1
Anda:
iya. asal lo gk minta pas gue lagi praktek aja, pasti gue usahain deh
Aska:
siap, bu dokter🤗
Aska:
ya udah, take care ya pulangnya
Anda:
iya. selamat pergi kondangan sendirian buat lo🤪
Ayana langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah mengetik balasan untuk Aska. Ia kemudian keluar dari ruangan istirahat dokter jaga. Saat ia selesai menutup pintu namanya tiba-tiba dipanggil.
"Yan," panggil seseorang.
Ayana langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Saga dengan wajah kuyunya, berdiri di belakang sambil membawa ponsel. Batinnya bertanya-tanya, ngapain dia di sini? Jemput dirinya? Itu tidak mungkin. Persiapan pernikahan Jaka pasti sedang sibuk-sibuknya, tidak mungkin pria itu bela-belain datang kemari hanya demi menjemputnya. Bagi Saga hal itu pasti tidak efisien, karena dia punya supir yang bisa ia kirim untuk menjemputnya.
Jangan-jangan pria itu habis dapat emergency call semalam? Batin Ayana menebak.
"Abis dapat emergency call, Mas?" tanya Ayana ragu-ragu.
Saga mengangguk.
"Barusan?"
Saga menggeleng. "Semalem. Ada operasi cito. Baru kelar pas adzan subuh."
"Tapi di luar ada Mas Agus kan, Mas?"
Saga menggeleng.
Saga menggeleng. "Naik ojek." Ia kemudian menodongkan telapak tangannya. Meminta Ayana agar memberikan kunci mobil perempuan itu kepadanya.
"Mas Saga yang mau nyetir?" tanya Ayana tidak yakin.
Setelah mendapat anggukan sekali dari Saga, Ayana langsung menggeleng cepat. Pertanda kalau gadis itu tidak setuju dengan ide Saga.
"Kamu yang nyetir?" Saga balik bertanya.
Ayana mengangguk cepat. "Seenggaknya kondisiku lebih seger ketimbang Mas Saga."
Saga mengangguk setuju. Ayana benar, kalau seandainya dia memaksakan diri yang menyetir mungkin bisa jadi mereka tidak jadi menghadiri pernikahan Jaka, melainkan kembali ke rumah sakit dengan status sebagai korban kecelakaan. Cari aman dan malas berdebat, pria itu akhirnya setuju dan segera mengajak gadis itu untuk berangkat.
"Cari sarapan dulu nggak, Mas?"
Saga langsung melirik ke arah arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Saat dirasa sudah tidak memiliki banyak waktu, pria itu menggeleng.
"Sarapan di hotel?" tanya Ayana yang hanya dijawab anggukan sekali dari pria itu.
"Ya udah, oke." Ayana mengangguk setuju lalu mengajak Saga menuju parkiran, "Mas Saga kalau mau tidur, tidur aja. Kayaknya belum sempet tidur kan semalem?" tebaknya saat keduanya masuk ke dalam mobil.
"Nanti kamu ngantuk nggak?"
"Hah?"
"Karena nggak ada yang ngajak ngobrol."
"Oh. Enggak papa, santai. Kan biasanya juga kalau abis jaga malam pulang sendiri, lagian semalam aku tidur cukup kok."
Saga mengangguk paham lalu mulai mencari posisi ternyamannya untuk tidur. Semalam ia memang belum sempat tidur dan sekarang ia sangat mengantuk. Tak butuh waktu lama pria itu akhirnya masuk ke dalam mimpi. Hembusan napas teratur terdengar tak lama setelahnya, menandakan betapa nyenyaknya tidur pria itu. Tanpa sadar Ayana tersenyum saat melihatnya. Sepertinya ini pertama kalinya ia melihat pria itu tidur.
Ayana langsung menepikan mobilnya saat menemukan mini market. Hal ini ternyata mengusik tidur Saga. Pria itu langsung membuka matanya sambil menegakkan tubuh.
__ADS_1
"Udah sampai?"
Ayana menggeleng sambil melepas seat beltnya. "Belum. Mau mampir beli minum dulu. Mas Saga nitip apa?"
Saga kemudian merogoh kantong dan langsung menyerahkan dompetnya kepada Ayana. Gadis itu mengerutkan dahi sesaat, meski pada akhirnya menerima dompet itu dengan senang hati, tanpa perlu sok-sokan menolak, karena itu bukan gayanya. Ayana gadis normal yang suka dijajanin cuma-cuma.
"Kafein."
Ayana langsung mengacungkan jempolnya dan segera turun dari mobil, saat memahami maksud Saga yang menginginkan minuman berkafein. Saga ikut keluar dari mobil tak lama setelahnya, hanya saja bukannya ikut masuk ke dalam mini market, Saga malah mengitari mobil lalu kembali masuk dan duduk di bagian bangku kemudi. Demi menghilangkan sisa mengantuknya, pria itu memilih memainkan ponsel. Trik paling jitu yang ia miliki adalah menonton. Kalau kalian berpikir Saga akan menonton film atau video yang ada di youtube berarti kalian salah. Karena yang selalu sukses membuatnya menghilangkan kantuk iyalah menonton video operasi.
Benar, selera pria itu memang sedikit anti mainstream.
Saga langsung mematikan ponselnya saat melihat Ayana keluar dari mini market. Ia langsung menurunkan kaca mobil dan menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil di bagian bangku penumpang.
"Loh, kok pindah?"
"Biar gantian tidur."
Ayana tidak memprotes dan mengangguk paham. Karena kalau ia perhatikan wajah Saga terlihat sedikit lebih segar ketimbang tadi. Setelah menutup pintu mobil, ia langsung mengembalikan dompet Saga, tak lupa mengucapkan terima kasih.
Baru setelahnya ia menyodorkan botol minuman berkafein. Pria itu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Membuka botol dan menegaknya hingga tersisa setengah. Setelahnya ia langsung mengemudikan mobil.
"Aku beli roti, Mas Saga mau nggak?"
Saga menggeleng. "Ribet. Nanti aja."
Ayana mengangguk paham dan memilih menikmati sarapan ala kadarnya. Tidak ada obrolan di dalam sana, sampai akhirnya ia merasakan ponselnya bergetar. Buru-buru ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Nama Bianca tertera pada layar.
"Mas, Bianca nelfon nih." Ayana menyodorkan ponselnya mendekat ke arah Saga.
Pria itu melirik sekilas dan menyuruhnya untuk langsung menjawabnya.
"Ya, halo, Bia. Ada apa?"
"Aduh, Mbak Yana, ini masih di mana? Kok belum keliatan? Ini MUA-nya udah ready loh."
"Sorry, Bia, ini gue lagi on the way. Nggak sampe 15 menit sampe kayaknya, udah deket kok."
"Ya udah, oke, sama Mas Saga kan, Mbak? Soalnya kata Jaka Mas Saga semalam dapet telfon dari RS."
"Iya, ini gue sama sama Mas Saga. Mau ngomong."
"No, Mbak. Thanks. Gue tutup ya kalau gitu, take care! Bye!"
Klik.
Ayana buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi. Kemudian ia membuka bungkusan roti baru dengan yang tidak kalah buru-buru. Padahal rotinya yang tadi ia buka belum habis. Hal ini mengundang kerutan heran di dahi Saga.
"Satu-satu," tegur Saga.
"Ini buat Mas Saga." Ayana langsung menyodorkan secuil roti ke dekat bibir pria itu, "buka mulutnya, Mas!"
"Nanti saja." Saga menggeleng tegas, masih dengan kedua bibir tertutup rapat-rapat.
"Iiih, Mas Saga, nanti kalau nggak sempet gimana? Ini kita lagi buru-buru banget loh, ya minimal Mas Saga itu harus makan sesuatu lah. Kan nggak lucu ntar kalau Mas Saga tiba-tiba pingsan."
Saga langsung menampilkan wajah datarnya. "Kita nggak lagi syuting ftv, Yan, yang nggak sarapan langsung pingsan." Terlihat sekali kalau pria itu sedang berusaha meredam emosinya agak tidak terpancing.
"Ya, aku tahu, Mas. Cuma apa salahnya sih nggak ngelewati sarapan? Kamu dokter loh, jadi tahu banget kan pentingnya sarapan itu?"
"Yan, aku bilang nanti," balas Saga berusaha tetap tenang.
Ayana berdecak kesal. "Emang apa susahnya sih, Mas, tinggal buka mulut, kunyah, udah beres, kok malah ngajak ribut?" Ia melirik Saga sini, "kenapa? Takut banget gue racunin apa gimana sih, Mas?"
"Astagfirullah!" Saga mengangguk pasrah, "ya udah, oke."
"Gitu kek dari tadi, ribet banget," gerutu Ayana sambil menyuapi Saga dengan roti yang dibelinya tadi.
__ADS_1