
Ayana tersenyum melihat Saga begitu telaten mengurus putri mereka. Ia merasa beruntung karena meski Saga super sibuk, suaminya itu masih mau membantu tanpa perlu repot-repot ia suruh. Bahkan kalau boleh jujur untuk beberapa hal, Saga lebih andal ketimbang dirinya. Mungkin karena waktu awal-awal kelahiran Saga lebih banyak mengurus Mala, karena dirinya masih dalam proses pemulihan kala itu. Jadi Saga lebih terampil ketimbang dirinya.
Nama putri mereka Nirmala Afsheen Gavaputri dan lebih sering dipanggil Mala. Usianya kini sudah masuk bulan kedua dan Ayana sudah kembali aktif bekerja. Mereka tidak menggunakan jasa baby sister, ia lebih sering menitipkan sang putri kepada sang Mama. Toh, sang Mama juga menganggur dan senang-senang saja karena mengurus baby.
"Kenapa?"
Lamunan Ayana seketika langsung buyar. "Hah? Apanya yang kenapa, Mas?"
"Kamu senyum-senyum sendiri."
Ayana kembali tersenyum sambil menggeleng. "Enggak papa, cuma ngerasa heran aja kamu kok nambah ganteng sih, Mas, kalau ngurusin Mala?"
"Biasanya? Enggak?"
Ayana berdecak kesal. "Kan aku bilang nambah ganteng, Mas. Iiiih, Papa kamu nggak perhatiin Mama sekarang, Nak. Mentang-mentang sekarang punya cewek baru."
"Kamu cemburu?"
"Aku cemburu? Sama anak sendiri?"
Saga mengangguk untuk mengiyakan.
Ekspresi Ayana yang tadinya terlihat seperti orang tidak percaya, kini berubah masam. "Dikit sih."
Saga terkekeh samar sambil menggeleng tak habis pikir. Kenapa sang istri harus mencemburui anaknya sendiri?
"Ada-ada aja kamu," komentar Saga kemudian.
"Ntar kalau anak kedua kita cowok kira-kira kamu bakal begini banget nggak ya, Mas? Aku agak kepo deh."
"Enggak ada anak kedua, anak kita cukup Mala. Kita pernah bahas ini kan waktu kamu hamil?"
Ayana melongo dengan ekspresi tidak percayanya. Tidak ada anak kedua? Maksudnya pengalaman mengandung dan melahirkan Mala adalah pengalaman pertama sekaligus pengalaman terakhirnya? Tunggu sebentar, suaminya ini sedang bercanda bukan?
"Mas, kamu nggak serius kan?"
Saga balik bertanya. "Keliatannya?"
__ADS_1
"Hah? Enggak bakalan ada adik buat Mala?" tanya Ayana dengan ekspresi tidak percayanya, "kamu nggak kasian? Nanti dia kesepian dong, Mas, kalau nggak punya adik."
"Aku nggak bisa, Yan, cukup sekali kamu ngerasain semuanya. Aku nggak yakin cukup kuat kalau harus ngelihat kamu ngerasain semuanya sekali lagi. Jadi aku mau kita fokus ngebesarin Mala aja tanpa harus membaginya dengan yang lain."
Ayana tidak akan mendebat. Ia langsung menghampiri sang suami dan mengelus lengan pria itu. "It's okay, nggak papa kalau buat Mas Saga masih berat. Kita bisa pikirin lagi setelah Mala mulai masuk Playground."
"Aku nggak akan berubah pikiran, Yan. Keputusan aku bulat. Anak kita cukup Mala aja, begitu kamu udah siap, kamu bisa langsung steril."
Astaga, suaminya seserius ini?
Ia melirik sang putri yang kini mulai terlelap di gendongan sang Papa. "Mas, apa nggak sebaiknya kita mikirin ini nanti-nanti, oke, kalau kamu maunya nanti kita cuma punya anak satu, aku nggak papa. Tapi nanti kalau seandainya Mala yang pengen punya adik gimana? Jangan langsung steril dulu, ya?" bujuknya kemudian.
Saga menghela napas sambil mengangguk setuju pada akhirnya. Ayana bisa tersenyum lega setelahnya.
Dua tahun kemudian
Malvin tersenyum cerah sambil merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan hangat dari sang keponakan tercinta.
"Om Avin!" teriak Mala sambil berlari kecil menghampiri Malvin.
Ditegur, Mala langsung memperlambat larinya, Malvin yang tidak sabar langsung gantian yang berlari, begitu sang keponakan sudah di depan mata, ia langsung mengangkat tubuh bocah berumur dua tahun itu tinggi-tinggi. Ayana yang melihatnya langsung berteriak marah. Padahal Mala sendiri justru tertawa kesenangan.
"Malvin! Anak gue jangan digituin!" teriaknya kesal.
Mendengar teguran Ayana, Malvin langsung berhenti dan menurunkan Mala. Hal itu membuat sang bocah protes.
"Dimarahin Mama itu, La, nggak boleh. Nanti Om dijewer sama Mama kamu gimana? Kamu mau Om dijewer?"
Mala langsung menggeleng cepat dengan bibir manyun. Malvin yang melihat itu seketika gemas dan tak tahan untuk menggendong si kecil. "Duh, anak siapa sih gemes banget? Om cium ya?"
Mala langsung mencium kedua pipi Malvin secara bergantian dilanjut kening.
Malvin terbahak protes. "Kan Om nggak minta cium, La, maunya nyium pipi bakpao kamu." dengan gemas ia kemudian mencium kedua pipi gembil Mala sehingga sang Mama protes kesal dengan menjewer telinga pria itu.
"Jangan digituin anak gue, ntar pipinya iritasi, Vin."
"Pelit banget buset," dengus Malvin sambil menurunkan Mala dari gendongannya, ia kemudian celingukan mencari keberadaan seseorang, "laki lo kemana? Belum balik?"
__ADS_1
Ayana mengangguk. "Udah, lagi mandi di... eh, itu dia." ia kemudian menunjuk ke arah anak tangga.
"Kenapa?"
"Enggak papa, Bang. Nany doang, nggak keliatan gue pikir lo belum balik."
"Ngapain?"
"Main dong, Bang, kangen sama ponakan gue lah."
Saga mendengus saat mendengar jawaban Malvin. Pasalnya Malvin teramat sangat sering berkunjung kemari, bahkan dua hari yang lalu pria itu menginap di sini.
"Lo nggak nungguin anak gue gede kan?"
Malvin yang kurang paham memutuskan melirik Ayana, bermaksud meminta penjelasan perempuan itu.
"Kalau iya, awas aja lo!" kini malah giliran Ayana yang mengancam pria itu, "anak gue nggak boleh dapet tua bangka bangkotan kayak lo. Paham?"
"Buset dah, kalimat lo kejam amat, Na, ngatainnya. Sakit hati banget gue dengernya."
"Move on makanya," sahut Saga, "udah dua tahun juga kan?"
"Asem, bisa nggak sih kalian jangan mengorek luka lama gue? Sakit beneran ini ati gue."
Setahu Malvin, Mala tadi sedang asik main dengan mainannya. Ia sedikit tersentak kaget waktu itu bocah tiba-tiba datang dan menyentuh wajahnya, seolah sedang mengecek suhu tubuh pria itu.
"Om Avin satit?"
Sambil tertawa Malvin langsung mengangkat tubuh Mala dan memangkunya. "Iya, Om Avin lagi sakit, Ala mau nggak sembuhin Om?"
Dengan wajah polosnya Mala mengangguk. "Nanti talau Ala udah besal, Ala mau sembuhin Om."
"Serius, ya, janji? Nanti kalau Ala udah besar berarti nanti Mala mau nikah sama Om?"
Masih dengan wajah polosnya Mala kembali mengangguk. Malvin langsung tertawa kesenangan sedangkan pasangan suami-istri hadapannya tengah memasang wajah galaknya.
"Malvin Prawicaksana!!"
__ADS_1