Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Saran Tama


__ADS_3

"Mau sampai kapan lo numpang di rumah gue? Bantu-bantu kaga, ngerepotin iya? Lo itu udah gede, Na, udah nggak sewajarnya kalau gue masih nampung lo, apalagi tanggung jawab gue udah jadi 3, eh, lo malah nambah beban aja," cerocos Tama dengan wajah masamnya.


Pria itu baru pulang kerja. Baru selesai mandi dan sudah mengomel panjang lebar tiada henti. Memang setelah diputusin Aska dan ia mengakui semua perasaannya pada Saga, Ayana memutuskan untuk melarikan diri. Katakanlah dirinya terlalu pengecut, ia tidak akan marah karena kenyataannya memang demikian. Ayana bahkan tidak hanya merasa menjadi seorang yang pengecut, tapi ia juga merasa bodoh dengan sikapnya sendiri.


"Heh! Kalau dikasih tahu dijawab! Jangan diem aja!" Tama berdecak secara menendang kaki Ayana dengan pelan.


"Salah mulu perasaan gue, katanya kalau dikasih tahu itu nggak boleh jawab mulu, nggak sopan, eh, giliran diem aja masih aja salah. Udah kayak lagu Seventeen aja deh gue, Bang, selalu salah," gerutu Ayana dengan wajah juteknya. Moodnya masih belum membaik, eh, ini malah ditambah. Bagaimana ia tidak bertambah kesal?


"Kan gue ngelarangnya jawab mulu, berarti kalau jawab sekali boleh lah, Na. Lo itu disekolahin sampe jadi dokter, ngabisin banyak duit kenapa nggak pinter-pinter sih?" tanya Tama kesal.


"Bodo amat lah, Bang."


Ayana terlihat tidak peduli. Perempuan itu memilih langsung berdiri setelah meletakkan toples berisi camilan, kembali ke atas meja. Saat hendak meninggalkan ruang tamu, secara tidak terduga Tama tiba-tiba mencekal pergelangan tangan gadis itu. Hal ini tentu saja menimbulkan rasa heran dari dalam diri Ayana.


"Ngajak syuting drama apaan lo? Pake pegang tangan gue segala?" tanya Ayana dengan ekspresi datarnya. Kedua matanya menatap lurus ke arah pergelangan tangannya.


"Duduk dulu," balas Tama sambil menepuk sofa. Kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut.


Ayana masih pura-pura memasang wajah ketusnya. "Mau ngapain sih? Ngantuk gue, Bang. Pengen tidur."


"Gue mau ngomong."


"Soal apaan? Pulang ke rumah? Iya, iya, gue besok pergi dari rumah lo, lo nggak usah khawatir. Udah ini doang kan? Sekarang lepasin! Gue mau tidur."

__ADS_1


"Bukan. Tapi ini soal Saga."


Mendengar nama itu disebut, Ayana merasakan sensasi ngilu pada hatinya. Perasaan bersalah, marah dan juga kecewa terhadap dirinya sendiri mendominasi perasaannya. Tanpa bisa ia kontrol kedua matanya mendadak perih. Detik berikutnya ia merasakan pipinya basah.


"Lo kenapa sebut-sebut nama itu sih, Bang, hati gue ini lagi rapuh-rapuhnya tahu. Mewek kan gue jadinya. Sialan lo!" umpatnya kesal. Dengan gerakan kasar ia menarik selembar tisu untuk menyeka air matanya. Lalu tanpa disuruh kembali, Ayana langsung duduk di sebelah sang kakak, "mau ngomongin apaan lo?"


Bukannya iba melihat sang adik menangis sesegukan, Tama justru terbahak saat melihat Ayana menangis. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pria itu bahkan makin mengompori sang adik yang sedang mengalami patah hati.


"Mampus lo! Kena kurma kan, makanya kalau dikasih tahu orang tua jangan sok-sokan merasa paling benar. Sekarang kalau udah begini apa endingnya? Nangis-nangis juga kan lo, Na?" ledek Tama.


"Bang, gue itu lagi sedih, lagi patah hati, bisa nggak sih dihibur gitu adeknya?"


"Lah, ngapain? Biar apa? Ini kan salah lo sendiri, jadi lo harus terima resikonya. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Lo nggak boleh ngeluh apalagi minta dikasiani, Na. Hadapi! Jangan malah lari! Kalau lo-nya begini Saga juga males kali balik ke lo, lo-nya labil, cemen, terlalu mentingin kesenangan sesaat. Sumpah ya, Na, gue tuh nggak ngerti banget kenapa lo bisa jadi begini. Gue kayak ngerasa lo itu bukan adek gue tahu. Lo sayang beneran nggak sih sama Saga?"


"Cinta sama dia?" tanya Tama sekali lagi.


Tanpa perlu berpikir, Ayana kembali mengangguk cepat.


"Kalau lo sayang dan cinta sama dia, kenapa lo malah di sini? Bukannya usaha nunjukin keseriusan lo sama Saga?"


"Maksud Bang Tama?" Ayana menunjukkan wajah tidak pahamnya.


"Ya, lo tunjukin dong kalau lo itu beneran serius. Lo nggak main-main, nggak bakal khilaf-khilafan lagi juga. Pepet terus sampet dapat sebelum dia dipepet yang lain. Masalahnya Saga itu inceran kaum mertua loh, Na, mahasiswanya juga cakep-cakep, muda-muda, belum anak pasiennya yang warisannya di mana-mana, lo kalau dibandingin sama mereka jelas nggak ada apa-apanya. Apalagi image lo di mata Saga lagi nggak bagus-bagusnya karena lo udah nyakitin dia. Nah, sekarang lo harus kasih lihat ke Saga versi terbaik yang lo punya. Kasih tahu kalau lo adalah pilihan yang terbaik di antara yang baik. Sampai di sini paham?"

__ADS_1


Ayana masih loading. Otaknya berpikir sejenak. Namun, ia masih belum cukup mengerti betul.


"Nggak mau sekalian kasih contoh spesifiknya, Bang?" tanya Ayana sambil garuk-garuk kepala bingung.


Tama berdecak kesal, helaan napas berat terdengar tidak lama setelahnya. "Ya elah, punya otak dipake kenapa sih, Na? Jangan cuma dijadiin pelengkap doang." Namun, meski demikian ia tetap memberikan saran untuk sang adik semata wayang, "contoh yang paling simple, nih, ya. Bikinin sarapan kek gitu buat dia, buat dia luluh sama masakan lo. Lo kan gini-gini kalau masak sebenernya lumayan, cuma pemalas aja makanya keliatannya nggak bisa masak."


Ayana kembali mengerutkan dahi sesaat. Ini sang abang sedang meledeknya atau memujinya sih?


"Lo niat ngeledek apa muji sih, Bang?" dengus Ayana sedikit kesal.


"Kasih saran, Na, ide gue bagus loh ini."


Sekali lagi Ayana kembali mendengus. "Bagus apanya? Saga kan ada pembantu, Bang. Susah. Mau gue bangun pagi pun gue rasa masih bakalan kalah cepet sama ART dia. Lo kalau kasih ide yang bagusan dikit kenapa sih? Masa gitu doang? Nggak kreatif banget."


"Buset, udah dikasih ide masih aja sempet-sempetnya ngatain." Tama mendengus sambil memutar kedua bola mata kesal. Otaknya kembali berpikir serius, "gini aja, gimana kalau tetep ilmu memasak lo itu, tapi lo kasihnya buat yang jam makan siang aja, gimana?" usulnya kemudian, "lo besok shift apa?"


Senyum Ayana langsung terbit. "Nah, kalau itu baru ide yang bagus, Bang. Kebetulan gue besok shift siang, Bang." Ia langsung memeluk Tama erat, "thanks, Bang, lo emang Abang terbaik gue. Thanks buat sarannya. Mulai sekarang gue nggak bakal lari, mau Mas Saga nolak gue kayak apapun, gue bakal terus berjuang buat meluluhkan hatinya lagi."


"Nah, gitu dong kan kalau begini baru namanya adek gue. Pokoknya tolong, ya, Na, jadikan Saga adik ipar gue. Gue ogah kalau Malvin yang harus jadi ipar gue. Oke?"


Ayana langsung mengangguk semangat. "Oke. Gue juga ogah kalau Malvin yang harus jadi Bapak dari anak-anak gue." Lalu keduanya tertawa bersama.


Sementara di tempat lain, Malvin yang baru saja mengecek pembukaan pasiennya tiba-tiba merasakan telinganya gatal dan panas. Cepat-cepat ia melepas sarung tangannya.

__ADS_1


"Anjir, lagi diomongin siapa nih gue, kok kuping gue panas gini," gerutunya kemudian.


__ADS_2