Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Gara-gara Axel


__ADS_3

"Sore, Kak."


Ayana nyaris tersedak kuah bakso yang baru saja ia seruput, karena sapaan Axel tiba-tiba. Perempuan hamil itu langsung melotot tajam.


"Lo harus banget ya nyapa gue pake acara ngagetin gini? Gue nyaris keselek tahu," omel Ayana dengan nada kesal, ia kemudian memperhatikan anak tetangganya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, "baru pulang kampus lo?"


Axel mengangguk lalu duduk di sebelah perempuan itu. Ia kemudian memanggil si abang penjual bakso untuk memesan.


"Sendirian aja, Kak. Laki lo kemana?"


"Kerja lah, cari duit. Ngapain nanya-nanya suami gue? Naksir lo?"


"Sembarangan! Gue masih suka cewek cantik nggak suka cowok ganteng."


Ayana terkekeh sebelum menyendok. "Ya, kali aja lo masuk sekte baru, yang ganteng suka yang ganteng juga."


"Jadi menurut lo gue ganteng, Kak?" tanya Axel sambil menopang dagu menggunakan sebelah tangannya. Ekspresi pria ini terlihat sedikit mencurigakan, setidaknya itulah yang Ayana pikirkan.


Ibu hamil itu mengerutkan dahi heran. "Bukannya semua pria emang ganteng kan?"


"Belum tentu, Kak, tergantung sudut pandang perempuan yang melihat."


Ayana tidak peduli. Ia memilih fokus menghabiskan baksonya yang tinggal sedikit.


"Lo belum hamil juga, Kak? Masa udah setengah tahun lebih nikah, udah hampir setahun malah, masa belum hamil-hamil juga. Kasian banget."


"Lo sengaja mau menyinggung perasaan gue, ya?"


"Eh, enggak kok, Kak, sama sekali enggak. Gue cuma nanya. Maksud gue gini, kan kalian sama-sama dokter, harusnya lebih cepet kan?"


"Wahai, anak muda gue kasih tahu ya. Lo kalau nggak tahu apa-apa, minimal mending diem deh, daripada komentar sesuka hati lo, berlagak paling tahu, padahal nggak tahu apa-apa."


Ayana mendengus sebal. Ia sering kali kesal saat diperlakukan seperti ini. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamanya, kemarin saat ia menemani Saga pergi kondangan ke salah satu keluarga kerabat pria itu, Ayana terus-terusan disangka belum hamil. Bahkan tidak sedikit yang menyuruhnya resign sekalian hanya karena diri belum keliatan hamil. Padahal ia sudah mengandung, perutnya memang memang belum terlalu terlihat, apalagi yang mengingat tubuhnya sedikit kecil, jadi memang orang kebanyakan akan mengira kalau dirinya belum hamil.


"Jangan-jangan suami lo bermasalah, Kak--"


Brak!!


Emosi Ayana meradang. Kini ia sudah tidak tahan, apalagi suaminya yang dijelek-jelekkan. Tentu saja ia tidak terima. Ia langsung berdiri dengan wajah emosi.


"Heh, lo kalau ngomong jangan sembarangan, ya! Pake ngatain suami gue lagi, gue udah hamil, udah lima bulan, minggu depan udah masuk bulan ke enam, lo bisa nggak jangan ngatain kalau nggak tahu apa-apa?"


Ekspresi Axel langsung berubah penuh penyesalan. "Sorry, Kak, gue nggak tahu kalau lo udah hamil, soalnya, lo--"


"Makanya kalau nggak tahu apa-apa jangan komentar sok paling tahu segalanya. Paham?"


"Sorry, Kak, gue nggak maksud begitu. Gue beneran nyesel, sorry, kalau kalimat gue tadi menyinggung."


Ayana terlihat abai. "Bodo amat. Gue mau pulang, lo bayarin bakso gue."


"Gue anterin, Kak," tawar Axel.


"Gue nggak butuh," tolak Ayana tegas. Toh, jarak rumahnya dekat jadi ia bisa berjalan kaki sambil jalan sore.


"Emang lo ke sini naik apaan? Mobil lo mana?"

__ADS_1


"Lo gila ya, Xel? Jarak komplek kita ke sini aja deket, ya kali gue naik mobil."


"Lo jalan kaki, Kak? Gue anter, tunggu bentar, gue bayar bakso lo dulu, ibu hamil nggak boleh kecapekan."


"Sok tahu lo! Ibu hamil itu harus banyak gerak, nggak boleh mageran, kalau jarak komplek ke sini mah deket, jadi jangan khawatir lo. Enggak bakalan bikin gue sampe kecapekan."


"Jadi lo nolak gue lagi, Kak?"


Ayana hanya mampu mengerutkan dahinya heran saat mendengar kata 'lagi' yang pria ini sebutkan. Malas berkomentar, ia memilih untuk langsung pergi begitu saja. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih karena sudah membayarkan baksonya. Sekesal-kesalnya dirinya, tidak mungkin kan ia bersikap seperti orang tidak tahu terima kasih?


***


Saga memiringkan kepalanya saat menatap sang istri yang sedang asik menonton acara televisi, sambil memangku satu cup es krim ukuran besar. Pandangannya kemudian beralih pada arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul sembilan lewat lima belas menit dan istrinya itu belum tidur tapi masih asik menikmati es krim dan acara televisinya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Saga heran.


Padahal biasanya juga bilang mau menunggu tapi kalau ia sudah sampai rumah, Ayana sudah terlelap di dalam mimpinya. Tapi ini tumbenan masih terang sekali kedua matanya.


"Kan nunggu kamu, Mas."


"Tumben?"


"Udah malem, mending tidur. Besok shift pagi kan? Nanti kesiangan aku lagi yang disalahin."


Ayana mengangguk. "Bentar lagi."


"Es krimnya udah, nggak usah banyak-banyak nanti batuk."


"Dokter apaan kamu, Mas, kata siapa makan es krim bikin batuk?"


Saga menghela napas panjang. "Aku. Kamu kalau kebanyakan makan es krim kan pasti langsung sakit tenggorokan, abis itu apa? Batuk kan?"


"Iya, nanti dibujuk, aku mandi dulu."


Dengan bibir merengut Ayana menggeleng. "Mau sekarang, ntar keburu ngantuk, Mas," rengeknya manja.


Kalau sang istri sudah mode begini, Saga bisa apa selain menurut? Maka dari itu, ia langsung duduk di sebelah Ayana sambil merangkul pundak sang istri. Sebelah tangannya yang menganggur ia gunakan untuk mengelus perut Ayana yang mulai terlihat sedikit membuncit.


"Jadi siapa yang bikin bete?"


"Axel. Orang-orang."


Saga mengerutkan dahi tidak paham. Merasa sedikit tidak asing dengan nama itu. "Axel itu siapa? Kayak pernah denger."


"Itu anaknya Tante Lusi, yang depan rumahnya ada pohon gede itu loh, yang dulu nolongin aku waktu jatuh dari sana. Kamu inget, Mas?"


Saga langsung mengangguk paham setelah berhasil mengingat orang yang Ayana maksud.


"Kenapa sama dia?"


"Masa dia ngatain kamu bermasalah."


Saga mengerutkan dahi tidak paham. "Soal?"


"Soalnya Axel ngira kamu belum bisa menghamili aku, Mas."

__ADS_1


"Yan, harus banget kamu pilih kosa kata itu?" Saga sedikit meringis, merasa canggung dengan pemilihan kata sang istri.


"Emang masalahnya apa? Sama aja kan? Pokoknya intinya dia ngira aku belum hamil karena perut aku belum keliatan gede." Ayana merengut kesal, "Mas Saga inget juga, waktu minggu lalu aku nemenin kamu kondangan di salah satu kerabat Mas Saga?"


"Kenapa?"


"Sodara kamu banyak yang ngira aku belum hamil karena pas waktu itu aku pake baju yang longgar. Ah, aku rasanya kesel banget deh, Mas, awal-awal ya nggak masalah kalau satu dua, tapi lama kelamaan aku bosen dan juga muak, Mas."


"Ya udah sih, nggak usah terlalu dipikirin," komentar Saga.


"Kamu mah enak, nggak kena tegur, kamu juga orangnya bodo amatan lagi, tapi ini aku loh, Mas, aku nggak bisa kayak kamu. Aku muak juga kalau diginiin lama-lama. Mana aku pas bilang udah hamil malah diceramahin katanya masa hamil kok begitu bla bla bla. Kayak kesannya aku salah jadi ibu hamil."


"Salah yang gimana?" tanya Saga lembut.


"Iya, katanya aku yang nekat nggak mau makan cuma karena mual dan nggak coba minum susu hamil. Padahal kan ya aku nggak begitu, Mas, meski mual aku selalu makan kok, bahkan apa yang aku makan jarang juga sampe keluar meski aku mual. Susu hamil juga aku minum terus meski rasanya udah eneg, tapi masih aja salah. Kesel aku tuh, Mas."


Saga mengangguk sambil mengelus pundak sang istri. "Berarti yang salah siapa?"


"Mereka lah. Kan mereka nggak tahu."


"Nah, kalau yang salah mereka kenapa kamu pusingin? Seperti yang kamu bilang, mereka nggak tau, Yan. Kita manusia biasa kan? Tangan kita cuma dua, nggak bakalan cukup buat nutup mulut mereka. Tapi setidaknya cukup buat nutup kedua telinga kita kan?"


"Aku lebay ya, Mas?"


Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Tergantung sudut pandang."


"Menurut Mas Saga?"


"Biasa aja."


"Mas Saga bilang gitu buat nyenengin aku, ya?" tanya Ayana sambil menatap Saga curiga.


Saga menghela napas sambil mengeratkan rangkulan pada pundak sang istri. "Tiap orang sensitifnya beda-beda, apalagi dia perempuan, si bungsu yang suka dimanjain abang sama papanya dan sedang hamil pula. Jadi menurut aku sangat wajar."


"Emang aku manja ya, Mas?"


Saga berpikir sejenak. "Tergantung situasi dan kondisi sih sebenarnya."


"Udah sana mandi, kamu bau, Mas."


Saga menampilkan ekspresi datarnya. "Tadi mau mandi nggak kamu bolehin, giliran aku udah males malah disuruh."


Ayana melotot kaget lalu menjauhkan tubuhnya dari sang suami. "Kamu bisa males mandi juga, Mas?"


"Apa itu aneh?"


Ayana langsung mengangguk cepat. "Ya udah, nggak usah mandi sekalian kalau gitu," sarannya kemudian.


"Jorok," balas Saga langsung berdiri, "aku mandi dulu, kamu beresin semua terus naik ke atas."


"Kalau udah di atas ngapain?"


"Tidur lah. Udah malem."


"Enggak mau nengokin adek?"

__ADS_1


Saga hanya merespon dengan lambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.


Ayana mendengus. "Halah, sok nolak, padahal juga mau. Jadi orang kok seneng banget nyiksa diri," gerutunya kemudian.


__ADS_2