
****
Ayana nampak senang karena Ivana sangat ramah dan humble. Gadis itu sama sekali tidak sungkan, mulai dari bantu-bantu dan berbaur dengan Mala. Bahkan putrinya terlihat menyukai sang calon Tante. Meski awalnya ia meragukan ide pria itu, tapi melihat keakraban keduanya membuat Ayana merasa jauh tenang. Sepertinya ia bisa untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pria itu.
"Oke, juga yang ini, Vin," komentar Ayana dengan nada sedikit berbisik, karena takut mungkin gadis itu akan mendengarnya. Meski sebenarnya Ivana terlihat seperti perempuan yang santai dan tidak mudah mempermasalahkan sesuatu, tapi tetap saja ia merasa sungkan.
"Iya kan? Makanya gue yakin banget karena mau nikahin dia," balas Malvin sambil tersenyum dan menatap perempuan itu dari kejauhan.
Ayana manggut-manggut sambil tersenyum lega. "Akhirnya lo nemuin orangnya juga ya, Vin, ya meski caranya agak konyol, dijodohin, pertama kali ketemu langsung ngomongin nikah. Menurut gue agak nggak wajar sih," balas Ayana sambil tertawa, "tapi meski gitu, keliatannya dia orangnya baik sih. Cocok juga," sambungnya kemudian.
"Thanks," ucap Malvin tulus.
Ayana kembali tersenyum dan sekarang ia tersenyum tak kalah tulus. "Harus bahagia beneran ya sama yang ini, jangan patah hati, patah hatian lagi kayak yang udah-udah," pesannya kemudian.
Kali ini respon Malvin hanya berupa ketawa. Ia tidak membalas dengan suara dan hanya menangguk seadanya.
"Vin, kayaknya gue mau rumah di sini deh," ucap Ivana tiba-tiba menghampiri mereka, "gue pengen tetanggaan sama Yana sama Mala. Pasti seru," sambungnya sambil menatap kedua sahabat itu.
Ayana dengan wajah antusiasnya mengangguk setuju. Sedangkan Malvin hanya mampu memasang wajah datarnya lalu menatap keduanya secara bergantian.
"Emangnya ada yang kosong?" tanya Malvin pada akhirnya.
Ayana kembali mengangguk. "Ada. Kelewat satu rumah dari sini. Nggak papa, yang penting kita bisa tetanggaan, Vin. Emang sih katanya harganya agak mahal, tapi kan kalau mau ke rumah sakit lebih deket kali, Vin."
"Tuh, di sini aja, Vin. Gue suka di sini, enak, kalau pengen punya anak banyak tempatnya luas. Ntar gue ngomong sama nyokap-bokap gue, lo juga ya?"
Mendengar jawaban Ivana, Malvin langsung mendengus. "Katanya pengen punya satu aja?"
Ayana langsung tersedak. Sudah membicarakan anak saja? Serius sekali ya hubungan mereka. Batinnya takjub.
"Kenapa lo?" tanya Malvin heran.
Ayana menggeleng cepat sambil mengibaskan kedua tangannya. "Enggak, enggak apa-apa kok diem aja kan gue?"
Malvin mendengus tidak puas dengan jawaban perempuan itu. "Bilang aja kali, nggak papa." ia lalu terkekeh geli tak lama setelahnya.
"Serius nggak papa?" tanya Ayana pada akhirnya.
Keduanya kemudian mengangguk kompak, tanda tidak masalah. Ayana hanya mampu tersenyum masem-masem lalu menggeleng cepat.
"Enggak jadi," ucapnya kemudian.
"Kenapa?" tanya Ivana heran. Perempuan itu terlihat kebingungan. Lalu menatap Malvin dan Ayana secara bergantian, berharap salah satunya mau mengatakan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ya, nggak papa."
__ADS_1
Ayana menggeleng cepat lalu menatap keduanya yang terlihat begitu akrab. Padahal mereka baru kenal, tapi kenapa keduanya sudah begitu optimis hendak menikah. Ia benar-benar tidak habis pikir.
"Tanya aja kali, Na, kalau kepo, daripada ntar malem nggak bisa tidur lo."
Malvin kemudian menoleh ke arah Ivana, dan perempuan itu pun mengangguk tak lama setelahnya.
"Serius boleh?" tanya Ayana mulai tergiur. Ia tertawa tak lama setelahnya, merasa geli dengan sikapnya sendiri yang terkesan seperti seorang yang plin-plan.
"Boleh. Tanya aja." Ivana mengangguk cepat.
Ayana berpikir sebentar lalu menatap keduanya secara bergantian. "Oke, gue bakal nanya. Gue penasaran deh, apa yang bikin kalian yakin buat nikah? Maksud gue kan kalian masih baru kenalannya, tapi kok udah nggak sabar ngegas," tanyanya kepo.
Bukannya langsung menjawab, keduanya malah saling bertukar pandang dan saling menyuruh untuk menjawab.
"Lo aja yang jawab, Vin," ucap Ivana menyarankan.
Malvin kemudian menggeleng tidak setuju. "Lo aja," balasnya kemudian.
Ayana mendengus sebentar sebelum akhirnya berkata, "Menurut gue dua-duanya perlu jawab sendiri-sendiri, kan ya nggak mungkin kalau jawabannya sama kan?" ia menatap keduanya secara bergantian.
Ivana mengangguk setuju. "Kalau gitu lo dulu deh, Vin. Baru abis itu gue."
"Gue?" Malvin bertanya dengan nada tidak yakin sambil berpikir sejenak, ia kemudian menjawab, "kalau gue sih karena dia yakin," jawabnya sambil menunjuk ke arah Ivana, "soalnya kalau ini orang nggak mau, gue nggak akan seyakin ini, Na. Dia yakin banget, Na, sumpah, jadi gue berasa yang lagi diyakinin, jadi ya gue nggak pake mikir lagi, langsung ngeiyain terus cerita sama nyokap-bokap. Ya udah, disuruh nikah beneran."
"Kalau gue karena emang udah tua," jawab Ivana, "beneran, kayak, udah di fase mau ngapain lagi kalau nggak nikah, tapi males nyari pacar. Ngerti nggak?"
"Iya, maksudnya gue juga nanya ke lo, masa iya gue nanya ke Yana. Ya enggak lah."
"Kalian nggak takut?"
"Takut apa?" kali ini giliran Malvin gantian bertanya, "emang kenapa?"
"Pernikahan berat, yang udah kenal lama aja berakhir kandas kok setelah naik ke pelaminan, eh, kalian baru banget loh. Serius nggak takut?"
"Dikit," aku Malvin jujur, sedangkan Ivana langsung menggeleng cepat. Hal ini membuat Ayana semakin takjub dibuatnya. Sepertinya perempuan ini tidak ada takut-takutnya. Sangat pemberani. Harus ia akui kalau Ayana benar-benar takjub dengannya. Saking salutnya ia sampai mengacungkan kedua jempolnya.
"Keren sih kalian, gokil, semoga langgeng ya pernikahan kalian, lancar juga acaranya." Ayana mendadak berubah melow, "huhu, kok gue jadi agak baper ya sohib gue akhirnya nemuin tambatan hatinya. Bro, selamat, ya, jaga Ivana baik-baik, jangan kecewain dia apalagi bikin dia kesel. Ngerti lo?"
"Iyaaa."
***
Setelah pulang dari rumah Ayana, Malvin kemudian mengantarkan Ivana pulang.
"Mampir dulu nggak gue?"
__ADS_1
"Terserah sih, kalau mampir ya, ayo! Kalau enggak ya pulang," balas Ivana sambil memasang seat beltnya sambil menguap tapi tidak ditutup. Sampai Malvin mengulurkan telapak tangannya guna membantu menutup mulut perempuan itu yang sedang menguap.
"Kaget gue, Vin," ucap Ivana spontan.
Malvin terkekeh lalu meminta maaf. Tak lama setelahnya ia ikut melepas seat beltnya lalu turun.
"Yuk, buruan, gue sapa nyokap-bokap lo bentar terus pulang."
"Kalau cuma bentar mending langsung pulang," ucap Ivana menyarankan.
Tapi Malvin menggeleng tidak setuju. "Rasanya nggak sopan kalau anterin anaknya tapi orang tuanya nggak disapa. Takut dicoret dari daftar menantu bokap lo kan serem."
Ivana terbahak lalu mengangguk. "Ya, terserah lo sih. Pokok jangan salahin gue ya ntar kalau nggak bisa pulang."
"Enggak, tapi lo harus bantuin gue lah."
Perempuan itu menggeleng tidak setuju. "Enak aja, kan aku udah saranin kamu buat pulang, ya udah pulang, kan udah nganter ya udah. Mau ngapain lagi sih, Vin? Heran."
Malvin tiba-tiba tersenyum malu-malu saat menyadari kalau Ivana baru saja menggunakan aku-kamu saat mengobrol.
"Aku-kamu bagus juga, Va, mau nyoba?"
"Dapet apa?"
Spontan Malvin tertawa. "Dapet gue sih yang pasti."
Ivana kemudian menggeleng tidak setuju. "Cuma lo nggak usah ganti nama panggilan juga elah."
"Enggak papa, aku-kamu lumayan loh, coba, yuk, kalau mulai besok."
Ivana langsung menggeleng cepat tanda kurang setuju. Mau tidak mau, Malvin pun pada akhirnya mengangguk pasrah lalu keduanya masuk ke dalam rumah Ivana.
Rumah besar Ivana nampak sepi saat mereka masuk ke dalam, tidak jauh berbeda dengan rumahnya.
"Mami Papi-mu ke mana?"
Ivana menggeleng tidak tahu. "Enggak di rumah sih kayaknya. Gimana, mau langsung pulang, atau nginep dulu?"
Malvin melotot tajam. "Nginep di mana? Bareng siapa?"
"Ya di sini, cuma ya tidur di kamar sendiri-sendiri." Ivana menggeleng dengan ekspresi seriusnya, "gue nggak suka kalau pake DP DP-an, lebih seneng langsung bayar cash," sambungnya sambil memainkan kedua alisnya naik turun.
Malvin geleng-geleng kepala lalu memilih pamit pulang. "Cabut aja deh gue, besok kalau butuh dianter ke rumah sakit telfon aja, kalau bisa gue anter."
Ivana mengangguk paham lalu mengantar pria itu untuk pulang.
__ADS_1
"Kalau udah sampai rumah jangan lupa kabarin, belum sampai juga jangan lupa kabarin," pesan perempuan itu sebelum Malvin pergi meninggalkan rumah perempuan itu.
Tbc,