Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 48


__ADS_3

***


Setelah memeriksa pasiennya Ayana memutuskan untuk langsung bergegas menuju ruang inap Malvin. Tapi tentu saja setelah ia menelfon sang suami. Prinsipnya ia akan selalu memberitahu sang suami saat hendak membantu Malvin, bukan apa-apa, ia hanya tidak mau terjadi kesalah pahaman di antara mereka, mengingat dirinya dan Malvin sangat akrab dan terkadang beberapa orang sering kali salah mengartikan kedekatan mereka. Maka dari itu untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan, ia selalu cerita. Apalagi sekarang ini ia sedang benar-benar khawatir pada  pria itu yang terdengar sangat tidak baik-baik saja. Tentu saja ia khawatir.


Saat ia masuk ke dalam ruang inap, pria itu langsung menyapanya dengan mengangkat sebelah tangannya yang tidak terluka sambil memasang senyum super tipisnya.  Bukannya lega, Ayana justru merasa kasian karena terlihat sekali kalau pria itu sedang mencoba memaksakan diri. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum, berharap sedikit menghibur pria itu.


Pria itu tertawa geli lalu berdiri dan menghampiri perempuan itu dan langsung memeluknya. Untuk sesaat tidak ada yang membuka suara, keduanya sama-sama diam seolah sedang menikmati waktu. Hingga tak lama setelahnya Malvin membuka suara.


“Thanks udah dateng, Na. Yang paling setia emang Cuma lo doang sih,” komentarnya kemudian, "gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo. Atau mungkin kalau suami lo bukan Bang Saga kita kayaknya nggak bisa begini deh ya."


Ayana mengangguk untuk mengiyakan. “Baru nyadar lo? Emang perempuan jaman sekarang kesetiannya perlu dipertanyain, beda banget sama gue, yang setia Cuma satu orang.”


Malvin langsung tertawa. “Mana dari bocil banget lagi ya,” sambungnya kemudian.


Ayana ikut tertawa lalu mengangguk dan mengiyakan. “Iya, bener banget. Emang didikan Mama Tika itu orangnya setia, Vin. Nyesel nggak lo nggak dapetin gue?”


Malvin menggeleng cepat. “Mungkin justru kalau gue dapetin lo, baru nyesel deh. karena yang gue butuhin begini."


Ayana kemudian mencoba melepaskan pelukannya, tapi Malvin menolak.


“Bentar dulu, Na," cegah Malvin.


Ayana mengangguk paham lalu memilih mengelus punggung pria itu. Malvin sejujurnya ingin protes karena elusan pada punggungnya membuat kedua matanya tiba-tiba memanas tiba-tiba.


“Na, udah!”


Ayana mengangguk paham lalu mencoba menjauhkan diri dari pria itu, tapi dengan cepat ditahan pria itu.


Malvin menggeleng cepat. "Bukan itu.”

__ADS_1


“Terus apa?” tanya Ayana bingung, “anjir, gue nggak ngerti. Coba ngomong yang jelas biar gue nggak bingung," sambungnya kemudian.


“Tangan lo.” Malvin sedikit mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak benar-benar jatuh.


Ayana makin mengerutkan dahinya bingung. “Tangan gue kenapa? Lo kenapa sih? Mau nangis tapi gengsi kalau gue liat?”


“Iya,” aku Malvin jujur.


Ayana tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa. “Ya elah, kayak sama siapa aja sih, Vin.  Lepas!”


Mau tidak mau akhirnya Malvin melepas pelukan mereka. Ia ikut tertawa lalu mengumpat samar tak lama setelahnya, sebelah tangannya kemudian mengusap kedua matanya yang sedikit menitihkan air mata.


Ayana terlihat shock dan mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar menangis atau tidak.


“Anjir, Vin, lo beneran nangis?”


Meski sudah dapat melihat kedua mata memerah dan sedikit basah pria itu, Ayana masih terlihat seperti orang yang kurang percaya.


Ayana mengangguk. “Apa yang baru aja terjadi sampai bikin lo begini?” tanyanya heran.


“Gue abis ketemu Yasmin.”


Ekspresi Ayana kali terlihat lebih terkejut. Sebelum bertanya lebih lanjut atau membiarkan pria itu  melanjutkan ceritanya, ia mengajak pria itu untuk duduk. 


“Terus?”


Kali ini Malvin tersenyum getir. “Dia bilang dia bahagia tanpa gue, Na.”


Ayana mengangguk paham. “Berarti bukan dia orangnya, Vin,” ucapnya kemudian. 

__ADS_1


Malvin mengangguk setuju. “Lo bener, Na. Tapi di sini rasanya kayak nyesek yang nggak bisa dijelasin dengan kata-kata,” ucapnya sambil memegang dada kirinya. Ia menggeleng lalu menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, “gue nggak tahu, tapi rasanya nggak nyaman banget, Na.”


“Enggak papa, Vin, pelan-pelan gue yakin lo bakalan bisa ngelupain dokter Yasmin kok. Jangan terlalu memaksakan diri!” saran Ayana.


Malvin kembali mengangguk.


“Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Di luaran sana masih banyak perempuan yang secantik dokter Yasmin dan juga lebih muda dari beliau banyak kok, meski kebanyakan dari mereka belum tentu ada yang mau sih. Tapi nggak papa lah, Vin, yang penting jumlah mereka banyak dulu ntar tinggal dipilih mana yang kira-kira bisa kita pelet. Iya nggak?” gurau Ayana sambil memainkan alisnya naik-turun.


“Orang gila,” komentar Malvin disertai dengusan tidak percaya. Tapi tak lama setelahnya ia pun tertawa lalu menatap perempuan itu serius, “thanks ya, Na. Meski lo agak gila gue beneran sayang banget sama lo. Gue ngerasa masih bisa ngehadapi dunia yang kejam ini asal lo masih ada buat gue. Gue nggak papa kalau semisal nggak bisa nikah abis ini, yang penting jangan pernah tinggalin gue,” ucapnya serius tapi respon Ayana justru di luar dugaannya.


Dengan wajah menyebalkannya, perempuan itu malah memasang wajah pura-pura ingin muntah dan itu membuat Malvin langsung mengumpat kasar untuk aksi protesnya.


“Mala udah mau punya adek ya?” godanya kemudian.


Dengan wajah galaknya Ayana langsung mengacungkan jari telunjuknya. Sedangkan Malvin langsung terbahak puas.


“Iiiihh, kasar, gue aduin laki lo biar lo-nya kena omel mampus lo.”


“Lo juga,” balas Ayana tidak mau kalah, “gue aduin laki gue kalau lo peluk-peluk gue dan nggak mau lepas.”


Malvin langsung mencibir. “Najis, ancemannya jelek banget kayak laki lo bakal peduli aja. Kalau cowok lain mungkin akan berakhir babak belur, tapi kalau gue kan nggak bakal. Paling juga Cuma nggak dibolehin main ke tempat lo sebulan aja,” ucapnya sambil terbahak.


Kali ini Ayana tersenyum. “Feel better, Vin?” tanyanya hati-hati.


Raut wajah pria itu seketika berubah selama beberapa saat, tapi tak lama setelahnya pria itu tersenyum lalu mengangguk cepat. “Yes,” ucapnya yakin, “thanks ya. Mungkin kalimat gue terdengar basi tapi makasih banget masih mau nemenin gue, ngehibur gue dan nggak coba buat menghakimi gue.”


“Sebagai sahabat dan saudara itu memang udah jadi tugas gue. Dan menghakimi bukan tugas gue, Vin, jadi gue nggak mungkin ngelakuin itu.”


 Malvin terlihat takjub dengan sang sahabat. “Gue salut sama lo deh, setelah nikah dan melahirkan lo jadi semakin dewasa dan bijak. Keren,” pujinya tulus, “meski gila-gilanya masih suka nongol mendadak sih ya,” sambungnya kemudian membuat keduanya sama-sama tertawa.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2