Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Promil, yuk!


__ADS_3

Secara spontan Ayana langsung menghentikan langkah kakinya, senyumnya seketika langsung terbit saat kedua netranya menangkap pasangan suami-istri, yang menurutnya masih cukup muda, berjalan lewat di hadapannya. Sang suami tengah menggendong anak kecil, yang menurutnya bahkan terlihat belum genap dua tahun, tapi sang istri perutnya terlihat sudah membucit lagi. Tak dipungkiri perasaan iri hinggap pada dirinya.


Ia sedang menunggu Saga, yang masih harus menyelesaikan visit sorenya. Yang katanya tinggal beberapa pasien. Namun, sampai sekarang belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Ayana!"


Lamunan perempuan itu seketika langsung buyar. Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke belakang sampai akhirnya jatuh ke atas tanah. Telapak tangannya sedikit tergores hingga menimbulkan sensasi perih di sana.


"Mas Saga, iiih, ada masalah apa sih? Kok aku tiba-tiba didorong sampai jatuh gini? Emangnya aku troli super market yang suka didorong-dorong itu," gerutu Ayana, ia kemudian menunjukkan telapak tangannya yang sedikit tergores, "liat ini, sampai kegores. Perih tahu."


Saga berdiri lebih dahulu, sebelum akhirnya membantu sang istri ikut berdiri. "Harusnya aku yang ngomel," balasnya tidak terima.


"Loh, kenapa harus Mas Saga yang ngomel? Yang salah siapa emang?"


"Kamu." Saga menunjuk wajah sang istri secara gemas, "kamu nggak nyadar nyaris keserempet karena nggak fokus?" ia kemudian menghela napas tidak percaya.


"Lah, emang iya?"


"Ngelamunin apaan sih sampe nggak nyadar?"


Ayana langsung menggeleng cepat. "Enggak ngelamun, Mas, cuma tadi nggak sengaja liat pasutri lewat bawa anak kecil, kayaknya anaknya belum genap dua tahun, tapi istrinya udah hamil lagi aja. Padahal keliatannya masih muda banget loh, Mas."


"Terus?"


"Ya, enggak ada terusannya. Hehe, pengen juga, ntar anak-anak kita jarak usianya nggak usah jauh-jauh ya, Mas?"


"Terserah. Kan yang hamil sama melahirkan kamu." Saga kemudian meraih telapak tangan sang istri yang tergores, "masuk ke IGD dulu, yuk, buat bersihin lukanya."


"Enggak usah, nggak papa, Mas. Pulang aja lah! Kegores dikit doang gini kok. Nanti dibersihin di rumah."


"Kelamaan."


"Enggak." Ayana menggeleng lalu merangkul lengan Saga, mengajak suaminya itu untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Mas, ayo program aja, yuk, biar dikasih cepet. Aku rasanya bosen deh kalau tiap shift pagi, sore harinya pasti gabut nungguin kamu pulang. Kalau kita punya anak kan seru."


Saga menaikkan sebelah alisnya. "Terus PPDS-nya gimana?"


Ayana menggeleng. "Mas Saga ada masalah nggak kalau punya istri dokter umum?"


"Kalau ada, aku nggak mungkin jadi kepala keluarga di kartu keluarga kita, Yan."


Ayana tersenyum sambil mengangguk. "Berarti kalau gitu aku nggak jadi ambil program spesialis."

__ADS_1


"Mau jualan?"


"Eh, kok jualan?"


"Biar nggak gabut. Katanya temen-temen Ibu pada suka masakan kamu, biar nggak gabut kenapa nggak coba itu?" saran Saga.


"Mas Saga nggak pengen punya anak?"


"Kok nanya gitu?"


"Ya abis diajakin progam hamil malah nyuruh aku jualan." Ayana merengut kesal, "nanti kalau aku capek yang ada aku nggak hamil-hamil lah, Mas. Atau emang Mas Saga sengaja biar aku nggak cepet hamil?"


"Kok jadi nuduh?"


Ayana tidak menjawab. Perempuan itu merajuk, rangkulan tangannya kini sudah lepas.


"Maaf. Enggak maksud begitu, Yan, ya udah besok kita konsul buat ikut promil. Gimana?"


Seketika ekspresi wajah Ayana langsung berbinar cerah. "Asik, makasih, Mas."


Saga tersenyum tipis seraya mengangguk sekali. Ia ikut senang melihat ekspresi berbinar sang istri.


***


"Mas, ntar suntik HCG sekalian, ya?"


"Yan, nggak usah aneh-aneh! Terakhir konsul kan dokter bilang semua baik-baik saja, kamu nggak ada masalah dengan kesuburan."


"Kan biar cepet, Mas." Ayana bersikukuh dengan keinginannya.


"Nanti juga kalau udah waktunya dikasih. Sabar dong."


Saga langsung menghela napas berat, saat melihat ekspresi cemberut Ayana. Saga suka pusing kalau istrinya ini sedang mode demikian. Dituruti, tapi kok permintaannya aneh-aneh, enggak dituruti nanti dibilang nggak sayang istri.


"Yan, sama kayak kamu, aku juga pengen kamu cepet hamil--"


"Nah, makanya biar aku cepet hamil suntik HCG, temen aku kemarin beneran langsung hamil loh, Mas," potong Ayana cepat, "kita coba juga, yuk, namanya ikhtiar, Mas. Siapa tahu langsung dikasih juga. Usaha nggak akan mengkhianati hasil."


"Dengerin dulu! Jangan dipotong!" decak Saga sedikit kesal, "semua ada masa dan waktunya, Yan. Usaha emang nggak akan mengkhianati hasil, tapi kalau Tuhan bilang enggak, ya, enggak, mau kita usaha kayak apapun juga. Jadi, nggak usah ya?"


"Emang dasar kamu kan yang nggak pengen aku cepet hamil." Ayana kembali merajuk. Ia langsung membelakangi sang suami.


Saga menghela napas frustasi. Oke, kesabarannya sedang diuji, ia tidak boleh marah. Harus tetap sabar.

__ADS_1


"Sayang," panggil Saga hati-hati.


Ayana langsung meliriknya sinis. "Enggak usah pake sayang-sayangan!"


"Oke. Maaf. Gini, dengerin aku dulu! Kita sama-sama tenaga kesehatan kan? Kita sama -dokter kan? Kamu tahu kan kalau suntik HCG ada efek sampingnya?" tanya Saga lembut dan sesabar mungkin.


Ayana mengangguk cepat.


"Masih inget?"


Perempuan itu langsung melotot kesal. "Ya inget lah, Mas, kamu pikir aku setua itu untuk bisa lupa?"


Saga menatap Ayana datar. "Nanya. Yang lupa itu bukan perkara tua, tapi karena nggak inget."


Ayana mendengus.


"Kalau inget dan belum lupa, berarti tahu dong kenapa aku begini?"


Astaga, suaminya ternyata sedang posesif mode on?


"Ya ampun, Mas, namanya orang berjuang. Ya emang harus rela berkorban kan?"


Kali ini Saga melirik Ayana sedikit tajam. "Ini namanya bukan berkorban, tapi nyari penyakit. Kondisi kamu baik, Yan, nggak memerlukan suntik kesuburan. Kamu ngerti nggak sih?"


Beberapa bulan menikah dengan Saga, ini pertama kalinya bagi Ayana melihat sang suami begitu kesal menghadapinya. Nyali Ayana mendadak menciut seketika.


"Mas Saga marah?" tanya Ayana hati-hati. Ia berjalan mendekat ke arah sang suami, berniat membujuk pria itu. Namun, pria itu masih bergeming.


Saga masih diam saja. Hal ini membuat Ayana semakin khawatir kalau suaminya ini benar-benar marah padanya. Waduh bisa gawat, nih.


"Mas Saga beneran marah ya?" Ayana sedikit memiringkan kepalanya, "Mas, jangan diem aja dong, kamu bikin aku takut, tahu. Ngomong apa gitu kek!"


Saga melirik sang istri sekilas. "Aku nggak tahu harus ngomong apa. Kamu bikin aku pusing. Kamu ngerti nggak sih, kenapa aku begini?"


Ayana mengangguk cepat. "Ngerti kok. Aku ngerti banget, Mas, cuma gini loh. Kan nanti yang suntik kesuburannya aku, yang ngalamin efek sampingnya aku juga--"


"Justru itu!" potong Saga. Ia menghela napas frustasi. Ia tiba-tiba pasrah. "ya udah lah, Yan, terserah kamu maunya gimana. Kalau emang segitu nggak sabarnya, ya udah, oke, kamu sudah cukup dewasa untuk tahu konsekuensi ataupun resiko yang bakal kamu hadapi nanti."


Ekspresi Ayana seketika langsung berbinar senang. "Serius, Mas, boleh?"


Saga menatap sang istri datar. "Kamu maksa," ucapnya jujur.


Ayana terkekeh melihat ekspresi Saga yang masih terlihat lumayan kesal. "Enggak papa, namanya demi anak, Mas."

__ADS_1


"Terserah," respon Saga pasrah.


Mendebat keinginan istrinya memang sulit, apalagi berharap mengharapkan hasil akhirnya yang memuaskan. Ya, jangan harap!


__ADS_2