Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Bertemu Mantan


__ADS_3

"Enggak apa-apa kan, Na?" tanya Aska mengkonfirmasi.


Pandangan pria itu kemudian terfokus pada ujung kaki Ayana hingga ujung kepala, memastikan kalau memang tidak ada yang terluka dari tubuh gadis itu.


Ayana meringis canggung seraya mengangguk. Ia langsung memeriksa cup cakes-nya. Masih aman.


"Buat siapa?" tanya Aska heran.


Ayana meringis. "Buat..." ia garuk-garuk kepala, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan ia menjawab kalau cup cake buatannya buat calon adik ipar. Ya, meski keduanya putus secara baik-baik, tetap saja rasanya kurang sopan kalau ia jawab begitu.


Paham dengan gelagat salah tingkah sang mantan kekasih, Aska langsung mengangguk paham. "Oke, nggak perlu dijelasin. Gue ngerti kok."


Ayana tidak membalas dan hanya kembali meringis canggung. Rasanya benar-benar sungkan kalau harus mengiyakan.


"Sendiri?" tanya Aska kemudian. Keduanya kini sama-sama masuk ke dalam lift dan kebetulan hanya ada mereka berdua di dalam sana.


Ayana mengangguk. "Emang mau sama siapa lagi?"


Aska terkekeh sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya siapa tahu, siapa gitu?"


Ayana ikut tertawa. "Emang siapa?" ia kemudian malah balik bertanya dengan nada bercanda.


"Calon suami kamu mungkin." Aska langsung tertawa saat mendapati raut wajah tegang dari Ayana, "serius banget. Santai aja. Gosip di sini emang lumayan cepet sih, meski beliau nggak bekerja di sini."


"Kok bisa?" tanya Ayana kaget. Namun, pada detik kemudian ia juga tersadar tidak harusnya ia bertanya demikian. Karena bisa jadi pertanyaannya sedikit melukai sang mantan kekasih, "eh, sorry," sesalnya kemudian.


Aska kembali tertawa. "Lah, kenapa minta maaf? Pertanyaan lo kan wajar?"


"Tapi tetep aja kesannya gue kayak nggak menghargai lo sebagai mantan gue. Kan kita juga belum lama banget putusnya."


"Pacarannya juga nggak lama banget kan?" imbuh Aska membuat raut wajah Ayana makin terlihat sedih dan sekaligus bersalah. Ia merasa seolah seperti ditampar kenyataan.


"It's okay, Na, mungkin emang bukan jodohnya kan?" ucap Aska mencoba menenangkan. Lama kelamaan ia tidak tega juga melihat raut wajah penuh penyesalan dari gadis itu, "tidak semua kisah akan berakhir happy ending kan? Toh, kalau happy ending pun, belum tentu happy endingnya karena bersama. Jadi, lain kali kalau ketemu gue lagi, tolong, jangan giniin gue, ya," sambungnya kemudian, "gue serius nggak papa. Meski kisah kita gagal, pertemanan harus tetep jalan kan?"

__ADS_1


"Lo kenapa masih mau temenan sama gue? Kan sengaja nggak disengaja, gue udah nyakitin lo, Ka."


Aska tersenyum. "Karena gue tahu lo orang baik. Setiap orang pernah melakukan salah, termasuk lo, termasuk gue juga. Jadi, ya udah nggak sih? Ngapain juga gue harus menyimpan dendam? Mending menyimpan uang kan? Lebih berguna di masa yang akan datang."


Ting!


Pintu lift terbuka.


Aska langsung pamit duluan. "Semoga berhasil, ya, sorry karena sempet pacaran sama gue, bikin acara nikahan lo sedikit terhambat," ia meringis tidak enak lalu melangkah keluar, "good luck, Na! Gue tunggu undangannya. Eh, nggak usah deh, gue nunggu undangan dari kantor aja. Bye! Semoga berhasil."


"Thank you, Ka. Lo juga ya, apapun yang lagi lo usahakan semoga berhasil."


"Aamiin."


***


Sebelum masuk ke dalam ruangan Jaka, Ayana menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia melakukannya selama beberapa kali sampai ia merasa sedikit tenang. Setelah dirasa lumayan tenang, baru lah ia mengetuk pintu. Ia baru benar-benar masuk saat mendengar suara sahutan dari dalam yang mengizinkan dirinya masuk.


"Eh, lo, Na? Ada apa?"


Ayana gelagapan. "Emm... anu... itu.... gue ganggu lo nggak sih?"


"Tergantung. Kalau lo di sininya setengah hari ya, ganggu, tapi kalau cuma sepuluh atau lima belas menit doang, enggak ganggu kok." Jaka kemudian langsung berdiri sambil mengancingkan kancing jasnya, "yuk, silahkan duduk! Gue suruh sekertaris gue buat bikinin lo minum."


"Eh, nggak usah, gue nggak lama kok," cegah Ayana saat Jaka terlihat memegang ganggang telefon.


Jaka mengangguk paham lalu duduk di sofa single yang ada di ruangannya. Ia kemudian menyuruh Ayana ikut duduk tak lama setelahnya.


"Jadi, ada apa?"


"Lo udah nggak marah sama gue?"


Bukannya menjawab, Ayana malah balik bertanya. Hal ini mengundang kerutan di dahi Jaka selama beberapa saat. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama setelahnya ia mengangguk paham.

__ADS_1


"Oh, ini lo lagi ngomongin hubungan lo sebelum sama Mas Saga, ya? Yang sempet macarin karyawan gue?"


Ayana hanya mampu meringis canggung dengan kalimat frontal sang calon adik ipar.


"Kalau boleh jujur, sebenernya gue lumayan kesel sih, Na, sama sikap lo kemarin. Lo kasih harapan ke kita semua, eh, tapi lo-nya malah pacaran sama karyawan gue. Ya, tentu saja gue marah dan nggak terima. Gue juga nggak setuju karena Mas Saga tiba-tiba mau ngelamar lo, padahal jelas-jelas lo udah bikin kecewa kita semua. Terutama Mas Saga." Jaka menghela napas, "gue takut dan khawatir kalau lo nggak serius atau bakalan berakhir nyakitin kakak gue sekali lagi. Gue trauma, Na. Meski Mas Saga nggak banyak omong dan sering banget nyebelin, kita lumayan deket. Dulu dia pernah hampir menikah dan berujung gagal karena calon istrinya lebih milih sang mantan. Jujur, gue takut nanti lo juga gitu."


Ayana mengangguk paham. "Gue ngerti kekhawatiran lo, kalau gue jadi lo, gue pasti juga bakalan bersikap kayak lo. Tapi bisa lo percaya sama gue, kalau gue nggak akan ngelakuin ini ke kakak lo? Gue beneran sayang sama dia, gue pernah ngelakuin kesalahan, tapi gue tipe yang selalu mau belajar dari kesalahan kok, gue nggak bakalan ngulangi lagi. Bisa lo percaya sama gue?"


Jaka tersenyum sopan. "Sorry, untuk kembali percaya sama lo nggak semudah itu, Na. Lo harus buktiin dulu sampai gue bener-bener bisa percaya lagi sama lo."


Mendengar jawaban Jaka, Ayana tidak bisa menutupi kesedihannya. Jaka yang melihat itu berusaha untuk menghiburnya.


"Tapi tenang aja, Na, gue nggak bakal halangi rencana pernikahan kalian. Lamaran lo tetep bakal dilakuin akhir minggu ini dan kalian bisa mempersiapkan acara pernikahan kalian setelah itu. Karena mau bagaimanapun yang ngejalani Mas Saga, selagi dia percaya dan mau sama lo, gue rasa itu bukan masalah." Jaka menyilangkan sebelah kakinya, "bakal jadi masalah kalau lo sampai nyakitin kakak gue sekali lagi, Na. Yah, meski hubungan kami nggak sedekat hubungan antar saudara pada umumnya, tapi tetap saja gue bakalan maju paling depan kalau sampai lo bikin dia kecewa."


"Tenang aja, gue nggak bakalan ngelakuin itu," balas Ayana yakin.


"Jadi lo jauh-jauh ke sini cuma buat ini?"


Ayana tersenyum lalu menyerahkan kotak kecil berisi cup cakes buatannya. "Sama ini. Bagi lo mungkin ini cuma, tapi enggak bagi gue. Gue bikin ini semaleman sendiri dan semoga lo suka."


"Lo bikin sendiri?" tanya Jaka takjub. Menurutnya Ayana tidak terlihat jago dalam urusan dapur. Ia kemudian membuka kotak itu dan kembali takjub dengan hasil cup cakes yang Ayana sebut buatan gadis itu sendiri, "boleh gue coba?"


Ayana mengangguk yakin. "Silahkan!"


Dengan gerakan cukup semangat, Jaka langsung mencicipinya. "Wow, ini enak, Na. Seriusan lo bikin sendiri? Kok gue nggak percaya."


Ayana tidak tersinggung. Perempuan itu hanya terkekeh sambil menggulung lengan kemejanya. "Nih, kalau lo nggak percaya. Semalam gue nggak sengaja nyenggol loyang yang masih panas."


Jaka meringis ngilu. "Ya ampun, mampus gue, Na. Itu kalau sampai ketahuan Mas Saga bisa digantung gue karena bikin calon istrinya ampe luka begitu."


"Tenang aja, gue nggak bakal kasih tahu Mas Saga kok. Asal kasih restu buat nikahan kita."


"Deal." Jaka mengangguk setuju sambil mengajak Ayana untuk berjabat tangan, "ya, kalau dilihat dari usaha lo begini, gue mana bisa nggak kasih restu sih? Nanti mau langsung ijab qobul pun juga silahkan."

__ADS_1


Ayana meringis seraya menggeleng. "Kalau itu gue rasa nggak perlu deh, soalnya gue belum sengebet itu."


__ADS_2