
______________________________________
Saga baru selesai melakukan rutinitas paginya, yaitu treadmill. Saat ia hendak bergegas untuk mandi dan siap-siap berangkat ke rumah sakit, Darti memberitahu kalau ia mendapat tamu. Keningnya langsung berkerut heran saat mendengarnya. Sekarang masih pukul setengah 6 pagi, tamu dari mana yang berkunjung pagi-pagi. Mungkinkah Ayana? Tapi gadis itu kan sedang sakit.
Tak ingin semakin dibuat penasaran, Saga kemudian memutuskan untuk keluar. Bola matanya membulat sempurna saat pria itu menemukan Ayana di teras depan rumahnya.
"Kenapa?"
Ayana langsung menunjuk kepalanya yang diperban. "Tolong bantuin lepas dong, aku hari ini dinas pagi nih."
"Besok."
Ayana berdecak tidak setuju. "Kok besok sih, Mas, aku dinas paginya hari ini loh. Kamu nggak nyuruh aku pergi ke rumah sakit begini kan? Enggak lucu banget tahu, Mas, masa dokter periksa pasien kepalanya diperban. Gengsi dong, Mas, udah ayo bantuin lepas!" rengeknya kemudian.
"Aku mandi dulu," ucap Saga pada akhirnya.
Ayana berdecak gemas seraya menahan lengan Saga yang tadinya hendak masuk ke dalam rumah begitu saja. "Kelamaan dong, Mas, aku bilang aku dinas pagi, jam 7 udah harus sampai RS, ini aku juga belum mandi dan lainnya. Kamu kan dokter spesialis, berangkatnya siangan, mandinya ntar, yang penting bantuin aku dulu."
"Aku bau, Yan."
Ayana mendengus. Kebanyakan alasan sekali pria ini. Gerutunya dalam hati.
"Sama aja, Mas. Aku juga belum mandi kali."
"Beda. Aku habis treadmill."
"Buset, rajin banget, Om," goda Ayana sambil menekan perut Saga. Detik berikutnya Ayana langsung menutup mulutnya, ekspresinya terlihat shock. Ia sedikit mendongak ke arah pria itu, "Mas," panggilnya dengan kedua pipi yang bersemu, "Mas Saga rajin banget treadmill?"
"Lumayan."
"Wow," seru Ayana takjub, "punya roti sobek dong?"
Saga menggeleng sambil menggenggam telapak tangan Ayana. "Adanya roti tawar. Nanti minta Darti sebelum pulang." Lalu mengajak gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
"Boleh sekalian minta selainya nggak ntar?" gurau Ayana.
Lalu dengan wajah andalannya, Saga mengangguk. "Nanti aku bilang Darti biar disiapin."
"Bercanda, Mas, serius banget sih," decak Ayana sedikit sebal, calon suaminya ini benar-benar tidak memiliki selera humor yang bagus.
Saga tidak membalas, pria itu lebih memilih pergi meninggalkan ruang tamu untuk mengambil peralatannya. Setelah mendapatkan yang ia cari, ia kembali ke ruang tamu.
"Yakin mau dinas?"
"Kenapa?" Ayana balik bertanya seraya menahan senyumnya.
"Ambil cuti," saran Saga, "minimal sehari."
"Cieee, khawatir banget, Mas, kalau calon istrinya kenapa-kenapa?"
Kali ini Saga memilih untuk tidak menjawab, pria itu fokus melakukan pekerjaannya. Yaitu melepas perban yang tadinya membalut luka Ayana. Lalu membersihkannya dengan telaten.
"Oh ya, Mas, nanti kira-kira aku bawain apaan ya buat bilang makasih ke Axel?"
"Nanti aku suruh Agus buat nyari, kamu tinggal kasih."
Ayana langsung membalikkan badannya. "Serius, Mas?"
Saga mengangguk yakin. "Tapi sekarang kamu pulang."
Wajah Ayana langsung berubah cemberut. "Diusir nih?"
"Dinas pagi," ucap Saga mengingatkan dengan ekspresi kalemnya.
Masih dengan bibir cemberut, Ayana mengangguk paham lalu berdiri. "Ya udah kalau gitu aku pulang duluan, nanti berangkatnya aku nebeng ya?"
Di luar dugaan pria itu menggeleng.
"Lha kok?" protes Ayana hampir naik pitam.
__ADS_1
"Aku antar," ucap Saga ikut berdiri lalu mengantar Ayana pulang ke rumah gadis itu sendiri.
"Ya ampun, Mas, hobi banget bikin su'udzon calon istri," keluh Ayana.
Saga mengangkat kedua bahunya acuh tidak acuh. "Enggak ada yang nyuruh," ucapnya kemudian.
Ayana langsung mendengus. "Ya emang nggak ada yang nyuruh, tapi Mas Saga-nya yang mancing duluan."
______________________________________
Axel tidak dapat menahan kerutan di dahinya, saat membuka pintu gerbang dan menemukan Ayana di sana sambil menenteng kantong plastik bertuliskan nama toko bakery.
"Ngapain ke sini?"
"Gue mau ngucapin makasih, kan kemarin gue lupa belum bilang makasih karena udah nolongin gue dan bawa gue ke klinik. Sama ini, mau kasih ini. Gue nggak tahu sih lo suka apa enggak, cuma terima aja ya," ucap Ayana seraya menyerahkan katong plastik itu.
Axel menerimanya dengan wajah datar padahal dalam hatinya pria itu tengah bersorak kegirangan. "Jadi ngerepotin. Harusnya nggak usah sih, Kak, kan gue cuma bawa lo ke klinik doang, yang bayar tagihannya kan Abang lo sendiri jadi harusnya ini nggak perlu sampai bawa ginian ke sini. Kan kebalik jadinya, harusnya gue yang ke rumah lo terus jengukin lo sama bawa bingkisan apa gitu."
Ayana mengibaskan tangannya. "Enggak perlu, gue baik-baik aja kok. Tadi aja gue praktek juga, nggak izin. Terus kita juga nggak seakrab itu kali buat lo jengukin gue, dan yang paling penting itu calon suami gue yang beliin jadi nggak ngerepotin sama sekali."
"Dari calon suami lo?" tanya Axel mencoba memastikan, kali saja ia salah dengar.
Dengan wajah cerianya, Ayana mengangguk dan membenarkan. "Yang kemarin itu loh, yang dateng sama Bang Tama. Kalian sempet ketemu kan?"
Axel mendengus tiba-tiba. Ekspresinya berubah sinis. "Oh, jadi ini ucapan terima kasih dari 'calon suami lo' bukan atas inisiatif lo sendiri?" Ia kemudian memberikan bungkus plastik itu kepada Ayana kembali, "bilang ke calon suami lo, gue nggak butuh."
"Wah, kok lo nggak tahu terima kasih banget sih jadi bocah? Ya, gue tahu lo anak sultan, lo bisa beli apapun yang lo mau dan pemberian gue ini nggak ada apa-apanya, tapi hargai sedikit dong usaha orang yang udah kasih lo sesuatu dengan tulus, bukan begini. Kayak nggak pernah diajarin sopan santun sama orang tua aja lo."
"Emang enggak," balas Axel enteng.
Ayana gemas saat mendengar nada bicara pria itu yang terdengar menyebalkan, apalagi dengan ditambah ekspresi bocah itu. Rasanya ingin sekali ia menjambak rambut pria yang lebih muda darinya itu, lalu membenturkannya ke tembok.
"Kalau nggak inget lo itu anaknya Tante Livy, udah gue jedotin itu kepala lo ke tembok, Xel."
"Lo ke sini mau jedotin kepala gue apa mau bilang makasih sih? Nggak jelas. Nggak penting. Buang-buang waktu gue aja," ucap Axel dengan wajah tidak bersahabatnya. Tanpa permisi pria itu langsung masuk ke dalam rumah begitu saja dan menutup pintu gerbang. Padahal jelas-jelas Ayana masih di sana.
Gadis itu hanya mampu memasang wajah shock-nya saat diperlakukan demikian. Detik berikutnya Ayana langsung mengomel panjang lebar. Sampai ada suara klakson mobil yang menghentikan omelannya.
Secara otomatis Ayana menoleh ke asal suara dan menemukan Malvin di sana.
"Ngapain?" ulang Malvin karena tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Ayana menggeleng lalu mendekat ke arah mobil pria itu. "Mau ke rumah gue kan? Nebeng. Buka pintunya!"
"Kan rumah lo deket, ngapain nebeng?"
"Ya elah, gue lagi sakit nggak boleh kecapekan. Lo mau jengukin gue kan? Udah buruan buka pintunya!"
Diiringi decakan tidak terlalu rela, Malvin akhirnya membiarkan pintu mobil terbuka dan Ayana langsung masuk ke dalam dengan leluasa.
"Bawa apa lo buat jengukin gue?" tanya perempuan itu begitu masuk ke dalam mobil.
Malvin mendengus. "Pede gila lo, ngapain juga gue jengukin lo yang sehat walafiat begini?"
"Eh, gue sakit tahu, Vin. Nih, kepala gue abis dijahit tahu," protes Ayana tidak terima.
Malvin terlihat tidak peduli. Pria itu langsung melepas seat beltnya begitu selesai memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ayana. Perempuan itu mengikutinya tidak lama setelahnya.
______________________________________
"Gimana, Na, enakan punya pasangan dokter kan? Paginya ngerawat pasien, eh, malemnya dirawat calon suami. Coba kalau lo pacaran sama yang bukan dokter juga, perlu repot-repot ke dokter lo buat lepas jahitan di kepala lo itu."
Ayana hanya mampu mesem-mesem tidak jelas saat mendengar perkataan Tama. Abangnya itu kalau ngomong memang suka benar ya. Coba kalau ia masih kembali menjalin hubungan dengan yang berbeda profesi dengannya, pasti Malvin lagi yang kena untuk melepas jahitan di kepalanya.
"Jadi ini gimana, Ga? Kapan lo mau bawa keluarga lo ke sini?" Tama kemudian beralih pada Saga.
"Minggu depan."
Tama langsung tertawa puas. "Gue suka jawaban tegas lo, bro. Ini nih alasan kenapa gue pengen banget lo jadi adek ipar gue, soalnya Yana tuh butuh yang tipe macem lo gini."
__ADS_1
Berbeda dengan Tama, Ayana terlihat terkejut. Bahkan perempuan itu langsung protes. "Kok minggu depan, Mas? Enggak kecepetan?"
"Lebih cepat lebih baik, Na. Biar lo nggak oleng ke sana-sini lagi," sahut Tama mewakili, "niat baik tuh nggak boleh ditunda-tunda. Bener kan, Ga?"
Saga langsung mengangguk setuju.
"Tapi gue belum siap, Abang. Duh, kok gue jadi deg-degan," ucap Ayana sambil memegang dada sebelah kirinya.
"Halah, lebay lo. Kayak belum pernah ketemu keluarga Saga aja lo, Na, kan lo juga udah kenal mereka. Santai aja kali. Lagian kan ini baru pertemuan antar kedua belah pihak keluarga, Na, ibarat katanya kan ini lamaran resmi gitu lah. Terus belum tentu juga loh kalian abis itu langsung dikawinin dalam waktu dekat, bisa jadi nunggu tahun depan dulu, soalnya kan Jaka baru abis nikah belum lama ini. Jangan kegeeran dulu lo?"
Ayana langsung menoleh ke arah Saga. Kebetulan pria itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Bener gitu, Mas?"
Saga hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban. "Mungkin."
Jawaban singkat Saga mampu membuat Ayana langsung bernapas lega entah bagaimana bisa.
"Kenapa lo? Enggak mau banget nikah cepet?"
"Ya, bukan gitu, Bang. Maksud gue--"
"Berarti mau?" sahut Saga tiba-tiba bertanya.
Ayana menaikkan kedua alisnya dan balik bertanya. "Mau apa?"
"Nikah cepet."
Sambil tersenyum cerah Ayana langsung mengangguk. Jawaban ini benar-benar di luar ekspektasi Saga maupun Tama.
"Mau nikah secepatnya atau nanti-nanti bagi aku nggak masalah, Mas, yang penting mempelai prianya tetep kamu."
Tama yang mendengar itu seketika langsung memasang wajah ingin muntahnya.
"Sirik aja lo, Bang," balas Ayana sambil menjulurkan lidah. Tangannya dengan luwesnya langsung merangkul lengan Saga, tak lupa kepalanya juga disandarkan di sana.
"Najis!"
Tama menatap sang adik sinis lalu pergi dari ruang tamu. "Enggak tahan gue lama-lama sama kalian, mending gue pulang."
"Pulang aja sana lo! Enggak ada yang nyuruh lo tetep di sini kali, Bang, lo juga udah dicoret dari kartu keluarga," usir Ayana.
Tama hanya mendengus tidak peduli lalu berpamitan pada Saga. "Gue cabut duluan, bro. Iket aja itu bocah kalau masih banyak tingkah."
"Wah, ngajak ribut itu Bapak dua buntut. Sini lo maju, Bang, kalau berani," tantang Ayana dengan wajah yang mulai tersulut emosi. Ia kemudian langsung berdiri, namun, dengan cepat ditahan Saga.
"Yan," tegur Saga sambil menggeleng, hal ini kemudian langsung dimanfaatkan Tama untuk melarikan diri, "kamu ini nggak bisa banget ya akur sama Tama."
"Ya, gimana, Mas, namanya juga saudara. Kalau lagi bareng pasti ribut, berantem, giliran ditinggal dicariin. Biasa yang begituan, Mas, kamu kayak nggak punya saudara aja. Kayak nggak pernah gitu."
Dengan wajah santainya Saga menggeleng.
Ayana menyipitkan kedua matanya curiga. "Enggak percaya tuh."
Saga hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Suara kamu mahal banget ya, Mas?" Ayana memiringkan kepala sambil menatap wajah Saga serius.
"Kenapa?"
"Ya, itu kalau jawab pake bahasa isyarat terus. Kalau nggak ngangguk, ya geleng doang."
"Maaf. Kebiasaan."
Ayana merengut lalu mengangguk. "Pengen protes sebenernya, tapi ya mau gimana, nggak mau dibilang calon istri yang tukang ngatur."
Saga tersenyum tipis sambil mengelus rambut Ayana. "Nanti dicoba buat berubah ya pelan-pelan."
"Duh, so sweet banget sih, Mas. Kan aku jadi salting." Ayana tersenyum malu-malu sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Saga yang melihat itu hanya mampu memijit pelipisnya seraya terkekeh geli.
"Duh, ganteng banget suami aku kalau lagi senyum gini."
__ADS_1
"Masih calon, Yan," koreksi Saga dengan wajah andalannya. Hal ini langsung membuat Ayana cemberut dibuatnya.