Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Percobaan Yang Gagal


__ADS_3

"Gimana, Ma?" tanya Ayana harap-harap cemas.


Hari ini ia sedang bereksperimen untuk membuat kue nastar. Saga beberapa hari yang lalu request dibikinin sesuatu olehnya, karena setelah hubungan mereka diresmikan Ayana tidak pernah membuatkan sesuatu lagi untuk pria itu. Ya, bagaimana orangnya udah luluh sih. Ayana dan jiwa asli magerannya ya, tentu saja kembali lagi.


"Lumayan sih untuk percobaan pertama. Masih bisa dimakan lah, Na," komentar Kartika, "isiannya udah lumayan enak sih menurut Mama, jadi ketolong," sambungnya kemudian.


Kebetulan Kartika paling anti kalau disuruh bikin kue nastar, kalau kue apapun ia masih mau, tapi kalau kue khas lebaran ini, Kartika menyerah duluan. Karena sejak muda dulu, ia lumayan sering coba-coba membuat kue nastar saat jelang lebaran. Namun, hasilnya tidak pernah berhasil sekalipun.


Setelah mendengar komentar sang Mama, baru lah Ayana merasa lebih percaya diri dan langsung memutuskan untuk segera membawanya ke rumah Saga. Dengan penuh semangat, ia langsung menata kue nastar buatannya ke dalam toples. Setelah dirasa sudah cantik dan rapi, ia langsung ke rumah Saga. Enaknya kalau rumah kekasih dekat tuh begini, ia tidak perlu repot-repot terjebak macet hanya demi bertemu sang pujaan hati.


"Mas Saga!" teriak Ayana masuk ke dalam rumah Saga, "udah jadi nih."


"Bikin apa?" Saga yang terlihat tertarik langsung meletakkan laptopnya dan menyambut Ayana. Karena kalau tidak demikian, perempuan itu pasti akan merajuk sepanjang hari.


"Nastar."


Ekspresi ragu-ragu langsung terlihat pada wajah pria itu. "Emang bisa?" tanyanya tidak yakin. Karena setahunya membuat nastar termasuk kategori cukup rumit. Apalagi untuk tipe yang agak pemalas seperti sang calon istri. Mendadak ia ragu.


"Ya, kan namanya baru belajar. Cobain, ya, Mas, kata Mama sih lumayan."


"Yakin?" Saga masih terlihat ragu-ragu dan tidak yakin, "kamu udah nyoba?"


Dengan wajah polosnya, Ayana langsung menggeleng cepat. "Aku bikin ini khusus buat Mas Saga. Jadi Mas Saga dulu aja yang nyobain."


"Curang," komentar Saga dengan ekspresi sedikit tidak terimanya. Namun, meski demikian ia tetap mengambil kue tersebut dan mulai memakannya.


"Gimana?" tanya Ayana mulai harap-harap cemas. Apalagi wajah Saga yang datar sulit sekali ia tebak.


Saga tidak langsung berkomentar. Pria itu malah berdiri lalu bergegas meninggalkannya.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Ayana heran. Namun, pria itu tidak membalas dan terus melangkah. Tak lama setelahnya, pria itu kembali sambil membawa sebotol air mineral dingin.


Oh, mau ambil minum ternyata.

__ADS_1


"Gimana, Mas?" tanya Ayana masih harap-harap cemas, karena ia tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi.


Calon suaminya ini memang paling jago bikin dirinya over thinking dan penasaran.


"Mau jawaban jujur atau nggak?" tanya Saga hati-hati.


"Ya, jujur dong, Mas," jawab Ayana cepat, kemudian ia mulai khawatir kalau nastar buatannya benar-benar tidak enak, "Kenapa, Mas? Emang seburuk itu ya, nastar buatan aku? Enggak enak banget?"


Saga menggeleng lalu menegak air minumnya sekali lagi.


Ayana tidak paham maksud dari gelengan kepala pria itu.


"Enggak enak apa nggak seburuk itu?" tanya Ayana tidak sabaran. Ia mulai sedikit kesal karena Saga seolah seperti sedang memainkannya.


"Enggak enak," jawab Saga jujur pada akhirnya.


Ayana tercengang. "Serius nggak enak, Mas?" tanyanya seolah tidak percaya. Sang Mama saja menjawab lumayan, tapi justru sang calon suami langsung menjawab enggak enak?


Calon suaminya ini penjunjung tinggi kejujuran atau memang tidak bisa sedikit menyenangkan pasangannya? Batin Ayana heran bercampur kesal.


Ayana masih terlihat seolah tidak percaya. Apa yang baru saja pria itu katakan? Tidak bisa makan lagi? Jadi seburuk itukah hasil nastar buatannya?


"Tapi kata Mama isian selainya udah lumayan loh, Mas, masa kamu komentarnya jahat banget, langsung bilang nggak enak." Ayana merengut sedih, namun, dominan kesal.


Saga mendadak merasa bersalah. Ia menghela napas pendek. "Aku nggak suka nastar, Ya," ucapnya beralasan. "Enakan pie buah buatan kamu yang kemarin. Aku biasanya nggak pernah suka pie dari toko manapun, tapi bikinan kamu enak. Besok bikin itu aja, ya?" bujuknya kemudian.


Ayana langsung menatap Saga galak. "Enak aja. Kamu pikir aku pengangguran yang nggak punya kerjaan, lagian besok jadwal kita fitting baju pertama kita, Mas. Seenaknya aja main nyuruh-nyuruh," gerutunya kesal.


Tentu saja ia kesal.


"Ya udah, kapan-kapan kalau gitu," balas Saga pada akhirnya.


Ekspresi Ayana masih terlihat kesal. "Enggak ada kapan-kapan, ya. Enak aja kamu, abis ngatain kue nastar aku nggak enak, sekarang minta dibikinin pie? In your dream boy! Tahu lah, mau pulang aja aku," rajuknya kemudian.

__ADS_1


Saga mengangguk tidak masalah. "Tapi jangan minta dibujuk dulu, ya. Kerjaan aku masih belum beres."


Helaan napas langsung terdengar dari mulut Ayana. Meski dengan wajah cemberut, namun, pada akhirnya ia tetep mengangguk dan mengiyakan. "Tapi kalau udah beres langsung dibujuk. Nggak usah nungguin dikode, ngerti?" ancamnya kemudian.


"Iya. Mau dibujuk pake apa ntar?"


Ayana langsung melotot tajam. "Astagfirullah, Mas, masa begituan pake tanya segala? Inisiatif dong! Itu otaknya dipake, jangan cuma dibuat nyari duit doang," gerutunya kemudian. Wajah gadis itu terlihat sangat kesal.


"Malu bertanya sesat di jalan, sayang," balas Saga sambil meraih laptopnya kembali.


Ayana mengusap kedua lengannya ngeri. "Nggak usah pake sayang-sayangan, Mas, bikin merinding."


Pasalnya Saga tipe pasangan yang jarang memanggil dirinya sayang. Ia pikir ia akan merasa berbunga-bunga saat dipanggil sayang oleh pria itu, tapi ternyata ia salah. Yang ada ia malah merinding dan ngeri.


Saga langsung berdecak. "Salah lagi? Kan kamu yang minta, giliran dipanggil sayang, protes juga? Terus aku harus gimana?" Mendadak ia merasa serba salah.


Ayana sedikit terkekeh. "Kamu sekarang cerewet ya, Mas?"


Saga menghela napas panjang. "Ini kamu mau ngajakin debat dulu apa biarin aku selesaiin kerjaan aku dulu?"


"Ya udah, lanjut! Aku pulang. Inget nanti ke rumah. Dan aku mau dibujuk nggak pake cara mainstream."


"Hm."


Ayana berdecak kesal. "Jawab yang ikhlas dong, Mas!"


"Iya."


"Huft, cemburu banget gue sama laptop dia. Tiap hari dipangku, gue-nya kapan coba?" gumam Ayana sambil geleng-geleng kepala dan menatap nastar buatannya yang ditolak Saga.


"Nanti malem," balas Saga tiba-tiba. Keduanya masih fokus menatap layar laptop, "kalau kamu udah nggak tahan," sambungnya iseng menggoda Ayana. Namun, ekspresinya terlihat datar.


"Kerja, Mas! Bayar resepsi mahal," sinis Ayana lalu segera pulang.

__ADS_1


Saga hanya melirik Ayana sekilas lalu kembali fokus pada laptopnya setelah memastikan perempuan itu benar-benar pulang.


__ADS_2