
"Apa lo nggak ada niat buat jelasin sesuatu ke gue?"
Perempuan itu langsung menghentikan langkah kakinya, tubuhnya reflek menegang. Ia hafal betul siapa pemilik suara itu. Tubuhnya terasa berat untuk sekedar berbalik, keberaniannya tidak cukup tinggi. Maka ia memutuskan untuk kembali melangkah sampai akhirnya suara itu kembali terdengar.
"Udah lebih dari sebulan dan lo masih begini?" seru Malvin mulai kehilangan kesabarannya.
Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian Angel berbalik dan tersenyum tipis. "Gue rasa emang nggak ada yang perlu dijelaskan."
Telapak tangan Malvin mengepal kuat. Ia kemudian memutuskan untuk mendekat ke arah perempuan itu.
"Setelah bikin gue jatuh cinta kayak orang bego, terus lo bohongi gue, lo hancurkan hari-hari gue, lo mau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan pergi begitu saja? Apa emang lo aslinya sejahat ini?"
"Iya. Gue emang sejahat ini dan lo mau apa?"
"Nama samaran lo bahkan nggak cocok dengan kelakuan lo."
Kali ini giliran Angel yang mengepalkan tangan kuat. "Gue nggak peduli," balasnya kemudian.
Malvin mendesah frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. "Gue mau lo tanggung jawab, seenggaknya jangan giniin gue! Kasih gue kepastian, gue harus tahu isi hati lo. Gue nggak peduli meski nama lo Angel atau Yasmin, gue nggak peduli meski lo anaknya siapa, gue juga nggak peduli meski nyatanya karir lo lebih tinggi dari gue. Gue juga nggak peduli meski... harusnya gue panggil lo Mbak atau kakak. Gue nggak peduli sama semua itu. Intinya gue suka dan cinta sama lo. Dan gue butuh jawaban isi hati lo."
"Gue enggak," balas perempuan itu.
Malvin tertawa meledek. Ia melangkah makin mendekat ke arah Angel hingga tubuh perempuan itu membentur tembok. "Enggak apa? Enggak bisa hidup tanpa gue?"
"Bisa lo lebih sopan? Gue lebih tua enam tahun dari lo?"
Malvin pura-pura memasang wajah kagetnya. "Enam tahun? Astaga, Tuhan, lo vampir apa gimana sih, kok masih awet muda banget padahal udah kepala tiga."
"Malvin, jangan kurang ajar kamu!"
Malvin tersenyum penuh kemenangan. "Ah, aku-kamu kedengerannya lebih bagus."
Angel mulai kehilangan kesabarannya. Ia kemudian mendorong tubuh pria itu dengan kuat. "Mau lo apa sih sebenernya? Belum puas lo bikin sakit hati adek gue?"
"Ailee maksud lo? Gue nggak ngapa-ngapain dia, emang dia bukan selera gue. Soal hati dan perasaan itu nggak bisa dipaksa, gue nggak bisa sama adek lo. Tapi kalau sama lo, gue bisa, gue rasa kerja sama antara keluarga lo sama keluarga gue bisa berlanjut kalau kita meni--"
Plak!
"Jangan mimpi lo! Gue nggak bakal nikah, apalagi sama lo. Paham?"
Di luar dugaan, Malvin malah tertawa sambil memegang pipi bekas tamparan perempuan itu. "Ya, mungkin sebelum lo ketemu gue, lo nggak tertarik sama yang namanya pernikahan. Tapi hidup terus berputar, begitu juga perasaan. Tuhan bisa dengan mudahnya membolak-balikkan hati manusia, begitu juga hati lo."
"Omong kosong!"
Malvin langsung mencekal pergelangan tangan Angel, menahan perempuan itu agar tidak pergi begitu saja.
"Gue serius," ucap Malvin bersungguh-sungguh.
"Sorry, tapi gue nggak tertarik."
"Kenapa?"
"Lo nggak perlu tahu. Tapi selama gue kenal lo, gue nggak pernah nyesel. Thanks buat selama ini."
"Kalau lo begini, yang ada gue yang nyesel." Malvin menatap perempuan itu sinis.
Angel tidak berkomentar, perempuan itu hanya tersenyum.
"Jangan coba-coba tersenyum setelah lo bikin gue begini!" ucap Malvin tidak suka.
"Sorry," ucap Angel dengan nada penyesalan.
"Gue nggak bakal maafin lo."
Angel mengangguk tidak masalah. "Itu hak lo, gue nggak bakal maksa."
__ADS_1
Malvin tidak berkomentar, pria itu kemudian memilih pergi dengan perasaan kecewanya. Baru beberapa melangkah, Angel langsung memanggilnya. Malvin memutuskan untuk berhenti, lalu Angel menyusulnya.
Telapak tangan perempuan itu kemudian ia tempelkan pada tengkuk Malvin, lalu beralih pada dahi dan pipinya.
"Lo demam?" tanya perempuan itu khawatir.
"Bukan urusan lo."
"Gue bertanya sebagai tetangga."
"Gue bakal pindah abis ini, jadi--" tubuh Malvin tiba-tiba oleng. Angel dengan sigap menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh.
"Muka lo pucet, Vin, ayo ke dalam biar gue periksa!"
Malvin mendengus sinis. "Apa lo mau pamer soal kemampuan lo karena udah spesialis?"
"Vin!"
"Kalau lo emang nggak ada rencana untuk tinggal, lebih baik pergi sekarang! Daripada gue makin sakit." Malvin menatap Angel sinis, "gue nggak lagi ngomongin demam gue. Tapi hati gue. Kalau lo nggak pergi sekarang, gue benar-benar bakal lebih hancur lo tahu. Gue anak tunggal, gue satu-satunya harapan keluarga. Gue nggak mungkin menghancurkan harapan mereka hanya karena patah hati kan?"
"Sorry," ucap Angel penuh penyesalan.
Malvin tidak menggubris. Pria itu kemudian memilih masuk ke apartemennya begitu saja.
***
Malvin benar-benar merasa terkejut saat membuka kedua mata dan mendapati dirinya di tidak berada di apartemennya sendiri. Spontan ia bangun, langsung mengaduh kesakitan karena bangun secara tiba-tiba. Ia semakin merasa terkejut saat mendapati ada jarum infus yang menancap pada punggung tangannya. Seingatnya tadi ia habis berdebat dengan Angel lalu masuk ke apartemennya, lalu kenapa tiba-tiba malah di rumah sakit dan statusnya sebagai pasien.
"Ada keluhan?"
Malvin langsung menoleh ke asal suara. Di sana ada Saga tengah duduk di sofa panjang sambil memegang i-Padnya.
"Atau mau gue panggil dokter?"
Malvin menggeleng. "Kok gue bisa ada di sini, Bang?"
Pria itu kemudian menggeleng sebagai respon.
"Lo demam tinggi. Terus pingsan. Lalu Yasmin bawa lo ke sini."
"Yasmin?" beo Malvin masih dengan wajah shocknya.
Saga mengangguk. "Ah, Angel maksud gue," ralatnya kemudian.
"Terus orangnya ke mana, Bang?"
"Pulang."
Ekspresi Malvin langsung berubah sedih. "Kenapa nggak lo cegah, Bang?"
"Hak gue?"
"Ya, emang bukan sih." Malvin menggeleng, ia kemudian celingukan mencari keberadaan seseorang, "Yana mana, Bang?"
"Kenapa?"
Malvin berdecak kesal. Dari tadi ia bertanya tapi pria itu terus-terusan melempar balik pertanyaan terhadapnya. Tentu saja ia kesal.
"Buset, Bang, mentang-mentang bini lagi hamil lo jadi posesif, ya?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mungkin lo nanti juga begitu."
Malvin menggeleng dengan ekspresi sedihnya. "Gue nggak yakin, Bang, orang yang pengen gue posesifin nggak mau diposesifin."
"Yasmin?" Saga mendadak tertarik, pria itu kemudian berdiri dan menghampiri Malvin, "lo serius suka sama dia?"
__ADS_1
"Ya, menurut lo, gue begini karena siapa, Bang?"
"Karena siapa?"
Malvin menatap Saga tajam. "Lo serius nanya apa ngeledek sih, Bang?"
"Nanya."
"Wah, gila, Yana kok bisa sih ngadepin lo selama ini? Gue belum ada sejam sama lo rasanya udah emosi tahu."
"Ngawur!" respon Saga, "lo bahkan tidur lebih dari dua jam."
"Tapi gue bangunnya belum ada sejam, Bang. Astaga, Tuhan! Ini sejam ke depan gue sama lo doang bisa-bisa darah tinggi gue rasa."
"Bagus."
"Apa lo bilang, Bang?"
"Bagus," ulang Saga dengan wajah santainya, "soalnya tekanan darah lo tadi rendah."
"Ini kameranya di mana sih? Gue pengen melambaikan tangan deh rasanya."
"Ngapain lo nanyain kamera?" tanya Ayana heran. Ia baru selesai jaga shift-nya, langsung ke sini karena kasian dengan Malvin. Kedua orangtuanya jelas tidak mungkin akan langsung bergegas meski tahu anak semata wayangnya jatuh pingsan. Mengandalkan sang pujaan hati pria itu lebih tidak mungkin lagi mengingat hubungan keduanya yang tidak begitu bagus.
Ayana berdecak sambil geleng-geleng kepala. Tangannya kemudian terulur untuk mengecek suhu tubuh Malvin. "Kenapa bisa sampe begini? Malu-maluin klan kedokteran lo, patah hati gegara cewek doang sampe bikin lo pingsan dan heboh IGD."
"Ini bukan gegara cewek."
"Terus gegara cowok?"
"Anjir, gue belum selesai. Bukan cewek tapi wanita. Itu maksud gue."
Saga dan Ayana kemudian saling bertukar pandang. "Oh," respon Ayana.
"Selera lo yang begituan, ya?" Ayana sedikit meringis saat bertanya.
"Kenapa sama selera gue? Lo nggak sadar diri? Selera kita sama. Laki lo seumuran sama gebetan gue. Paham?"
"Ya, wajar, gue perempuan. Makmum. Ya jelas butuhnya yang dewasa, biar ada yang mengayomi gue. Membimbing gue. Gitu. Lah lo?"
Malvin langsung diam.
"Kenapa? Gue salah ngomong?"
"Enggak, lo bener kok. Emang dasar gue yang bego."
"Vin," panggil Ayana hati-hati, "gue seriusan nggak maksud begitu."
"Santai. Lagian gue sama dia juga nggak ada harapan."
"Kenapa?"
Bukan, bukan, yang bertanya barusan bukan Ayana, melainkan Saga.
"Kayaknya nggak perlu gue jelasin pun kalian udah paham kan?"
"Lo mau nyerah gitu aja?"
Malvin menggeleng. "Gue nggak tahu. Tapi kayaknya iya. Sebagai pria gue harus tahu kapan harus berjuang dan kapan harus berhenti kan?"
Ayana mengangguk setuju. "Tapi menurut gue saat ini bukan saat yang tepat buat lo berhenti. Karena lo belum ngapa-ngapain, Vin, masa mau nyerah?"
"Yana benar," sahut Saga ikut mengangguk, tangannya kemudian melingkar pada pinggang sang istri. Melihat ini Malvin langsung menatap pasangan suami-istri itu secara sinis.
"Anjir, gue pikir lo bukan yang tipe pamer kemesraan, Bang."
__ADS_1
Saga menggeleng polos. "Gue enggak."
"Ya, enggak, emang enggak, emang dasar guenya yang lagi sensitif makanya baperan," balas Malvin sinis. Berniat menyindir awalnya tapi justru diangguki oleh Saga. Detik berikutnya Malvin langsung menyesal.