
Yasmin mematung sesaat, begitu ia membuka pintu apartemennya. Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum tipis dan membiarkan pria itu masuk. Suasana agak canggung sedikit.
"Udah makan?" tanya Yasmin.
Malvin menjawab dengan gelengan kepala. Perempuan itu mengangguk paham lalu mulai menawarkan makan.
"Mau indomie?" tawarnya kemudian.
"Boleh. Pake cabe, ya? Dua."
Yasmin kembali mengangguk paham. Ia kemudian mempersilahkan Malvin duduk di sofa, sementara dirinya bergegas ke dapur untuk membuatkan mie rebus pria itu. Selama ia memasak, tidak ada obrolan di antara keduanya. Padahal jarak dapur dan sofa tidak lah jauh. Malvin sibuk dengan ponselnya, otomatis Yasmin harus iku menyibukkan diri agar suasana tidak semakin canggung. Perempuan itu membuat dua mangkuk, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk pria itu.
Padahal jelas-jelas Yasmin baru selesai makan, perempuan itu bahkan tidak yakin apa piring yang dicuci sudah kering betul atau belum.
Setelah mie rebus-nya matang, Yasmin langsung memanggil Malvin. Tanpa banyak berpikir, pria itu langsung meletakkan ponselnya dan berjalan menuju dapur. Keningnya mengkerut heran saat di meja bar tersedia dua mangkuk mi rebus yang satu dengan topping sayur dan yang satu dengan topping telur.
"Tumben dua mangkok? Belum makan?"
Yasmin mengangguk. "Udah."
"Terus?"
"Lagi pengen aja. Ayo, duduk!" ajak Yasmin sambil menggeser mangkuk mie dengan topping telur, agar lebih dekat dengan pria itu.
"Gue lama nggak makan sayur nih, tuker, ya?"
Tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik, Malvin langsung menukar mangkok mereka begitu saja. Hal ini langsung mengundang decakan sebal dari perempuan itu.
"Kenapa tadi nggak bilang kalau mau pake sayur?"
"Ya, kamu nggak nawarin."
Yasmin dapat merasakan desiran aneh saat mendengar kata 'kamu' keluar dari mulut pria itu. Ia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya dengan jelas, tapi satu hal yang pasti ia senang saat mendengarnya.
"Yas," panggil Malvin, "buruan dimakan sebelum mie-nya ngembang, keburu dingin, nanti nggak enak. Indomie itu enaknya dimakan pas lagi panas-panasnya, harusnya sih sama pas lagi ujan, tapi malam-malam begini juga cukup enak. Lo pasti jarang banget kan menikmati itu?"
"Belum pernah," ucap Yasmin sebelum menyendok kuah mie rebus buatannya.
Malvin terlihat sedikit bingung. "Belum pernah apa?"
"Makan indomie malem-malem pas ujan maupun enggak."
Malvin mengangguk paham. "Oh, paham gue. Kenapa? Lo ngerasa berdosa, ya, karena makan mie rebus malem-malem?"
"Dikit." Yasmin mengangguk dan membenarkan.
"Terus biasanya lo makan-nya pas apa? Jaga malam? Eh, lo dokter apa sih?"
"Pas ada lo."
Malvin melongo dengan ekspresi kebingungan. "Tapi biasanya gue selalu makan sendiri." kedua matanya seketika melotot kaget saat menyadari sesuatu, "jangan bilang?"
Sambil menyuapkan mie ke dalam mulut, Yasmin mengangguk untuk membenarkan.
"Kok bisa?" tanya Malvin dengan ekspresi shock sekaligus tidak percaya, "jadi ini pertama kalinya lo makan Indomie?"
Lagi-lagi perempuan itu hanya mengangguk, sepertinya ia masih terlalu menikmati cita rasa mie instan kebanggaan Indonesia yang satu ini.
"Oke, oke, maksudnya ini pertama kalinya lo makan Indomie karena selama ini, lo bukan tim Indomie kan? Lo tim merk lain? Iya, gitu kan maksudnya?"
Kali ini Yasmin menggeleng. "Ini pertama kalinya gue makan mie rebus."
__ADS_1
"Kok bisa? Enggak percaya gue, gue tahu lo keluarga lo tajir, gue tahu lo dokter, tapi masa iya ada manusia yang umurnya lebih dari 30 tahun, tinggal di Indonesia tapi belum pernah makan mi rebus sebelumnya?" Malvin mendengus, "lo pikir gue bakal percaya? Enggak, lo kan pinter bohong."
"Terserah lo. Tapi emang gitu faktanya, gue tipe yang sangat menjaga pola makan, mie instan masuk daftar makanan terlarang bagi gue. Kalau lo inget pertama kalinya nanya punya Indomie apa enggak, gue bilang enggak ada kan? Ya, itu karena gue nggak pernah mau berurusan dengan mereka makanya gue nggak pernah menyetok. Gue baru beli setelah lo nanyain."
"Lo serius?"
"Gue nggak minta lo untuk percaya, karena dibohongi bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan dari orang itu." Yasmin tersenyum maklum, "gue paham, Vin."
"Enggak, bukan gitu, maksud gue lo nggak masuk akal. Gue cuma heran kok masih ada manusia kayak lo yang bisa hidup tanpa makan mie instan."
Yasmin terkekeh. "Tapi setelah nyobain, kayaknya gue nggak bisa hidup tanpa mie instan. Sekarang gue ngerti dan paham kenapa kalian begitu mengagungkan makanan satu ini."
Malvin mendadak salah tingkah sekaligus merasa tidak enak. "Waduh, berarti ini secara tidak langsung, gue menjerumuskan lo dong?"
"Bisa dibilang begitu."
Malvin terbahak saat mendengar jawaban lugas Yasmin. "Terus lo ngerasa nyesel nggak?"
"50-50 sih."
"Kalau kenal gue, lo nyesel juga nggak?"
"Kalau soal ini, bukannya gue pernah bilang? Meski kita nggak berending happy pun, gue nggak pernah merasa nyesel sekalipun."
"Menurut lo ending dari kisah kita bakal happy atau enggak?"
Yasmin mengangguk tanpa keraguan. "Bagi gue harus happy. Tapi versi gue, kebahagiaan itu nggak melulu tentang kebersamaan atau bersatu. Bisa jadi keputusan untuk saling melepaskan adalah keputusan terbaik."
Raut wajah Malvin mendadak berubah. Perasaannya tidak enak. "Lo berencana melepas gue?"
"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa enggak?"
Yasmin diam. Mangkuk mie mereka sama-sama masih tersisa, namun, sepetinya keduanya kehilangan selera untuk menghabiskannya.
"Gue nggak akan ngelepasin lo, Yas. Meskipun lo yang minta," ucap Malvin serius.
"Lo nggak harus kasih gue harapan bila akhirnya nanti kita berdua yang akan jatuh, Vin. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan! Kalau nggak mau kita saling menyesal nantinya."
"Kenapa gue harus menyesal? Dan, asal lo tahu, gue pikirin semua ini matang-matang, lo pikir gue asal nemuin lo gitu aja? Enggak, Yas, gue bahkan udah diskusi sama nyokap gue dan beliau bilang nggak masalah."
"Terus lo sendiri? Apa menurut lo, lo sendiri nggak masalah dengan semua ini?"
Malvin menggeleng tegas. "Gue nggak masalah, kalau hal ini bisa jadi masalah, gue jelas nggak mungkin duduk bersandingan sama lo. Udah jelas gue bakalan tebar pesona ke wanita lain untuk mendapatkan hati mereka. Tapi lihat gue! Gue di sini, Yas, gue di sini buat lo. Buat hubungan kita."
"Tapi, Vin--"
"Perkaranya cuma lo yang nggak bisa kasih gue keturunan kan? Cuma itu kan? Bukan karena lo yang nggak mau jadi ibu? Kalau cuma karena itu, kita bisa cari solusi, nyari anak di panti asuhan dan yayasan semisal. Bisa kan? Dengan begini kita bahkan bisa membantu pemerintah mengurangi jumlah angka kelahiran yang terus meningkat. Selain itu kita juga bisa ikut membantu anak-anak yang kurang beruntung itu. Toh, anak itu hanya titipan, Yas, mau dititipin lewat apa, biar itu jadi urusan Tuhan. Kita sebagai manusia tinggal menerima, berusaha, ikhtiar, dan berdoa kan?"
Yasmin tidak menyangka. Di balik sifat Malvin yang selama ini cenderung lebih sering slengean, ternyata pria ini cukup bijak dan dewasa. Ternyata benar kata orang, umur itu hanya lah angka. Karena tidak banyak yang umurnya sudah dewasa tapi sering kali bertindak kekanak-kanakan. Dan Yasmin merasa bangga karena jatuh cinta dengan pria ini.
Tanpa banyak berpikir, Yasmin langsung memeluk Malvin. Awalnya Malvin sedikit kaget dengan sikap perempuan itu yang secara tiba-tiba, tapi setelah beberapa saat kemudian ia tersenyum sambil balas memeluknya.
"Aku bodoh banget ya, Vin, sempet punya pikiran buat ngelepas kamu, padahal kamu sebaik ini."
Malvin sontak tertawa. "Lo udah sedikit banyak tau jeleknya gue, Yas, kenapa masih mikir gue sebaik ini."
Yasmin menggeleng. "Gue nggak tahu, tapi yang jelas bagi gue lo yang terbaik. Gue nggak pernah ngerasa jadi sespesial ini sebelum ketemu sama lo. Makasih, ya?"
Malvin lalu mengurai pelukan mereka. Ditatap wajah cantik Yasmin secara intens, sebelah tangannya menyingkirkan anak rambut perempuan itu yang sedikit menjuntai.
"Karena lo emang sespesial itu, Yas, lo aja yang nggak sadar."
__ADS_1
"Perempuan yang akan merasa spesial kalau tidak ada menspesialkan mereka. Makasih, ya?"
"Sama-sama. Jadi, mulai sekarang kita pacaran nih?" goda Malvin sambil menahan senyum malu-malu.
"Gue udah 35 tahun, dan lo masih ngajakin gue pacaran?" tanya Yasmin dengan ekspresi tidak percayanya.
"Iya, iya, nanti kalau KUA-nya udah buka kita ijab sah langsung. Lagian nih, ya, age just number, sayang. Meski umurmu udah 35 tahun, tapi muka kamu beneran masih keliatan kayak umur 25, serius aku beneran kaget pas tahu kamu udah umur 30 tahun lebih. Ngaku deh, kamu suntik botok di mana?"
"Enak aja, suntik botok, ini itu hasil dari hidup sehat. Emangnya kamu, makan sembarangan, umur belum sampe 30 tahun tapi udah keliatan kayak 32 tahun."
"Ya, bagus kan, jadi orang nggak akan ngira kalau aku berondongnya kamu."
Yasmin mendengus. Malvin terkekeh, ia kemudian kembali melanjutkan makan mie yang sudah dingin dan juga mengembang.
"Kenapa dilanjut makannya?" tanya Yasmin heran.
"Kamu udah?"
Yasmin langsung mengangguk untuk mengiyakan. Malvin kemudian menuang sisa mie milik perempuan itu ke dalam mangkuknya.
"Mubazir, sayang, nanti Tuhan marah."
"Kamu ini bener-bener, ya."
"Eh, ngomong-ngomong aku belum tahu deh, kamu ini dokter spesialis apa sih?"
"Aku? Kamu belum tahu?"
Dengan wajah polosnya Malvin menggeleng.
"Kamu ngajakin aku nikah tapi kamu bahkan belum tahu profesi aku?"
"Waits, sabar dulu dong, sayang. Kan aku tahu profesi kamu dokter. Cuma yang nggak aku tahu spesialisasi kamu di bidang apa. Lagian nih, ya, aku nggak tahu bukan karena nggak mau tahu, tapi kamunya yang nggak mau kasih tahu aku. Curang."
"Oh, iya, juga ya."
"Kan, makin nggak percaya aku kamu itu udah 35 tahun. Kamu sebenernya palsuin umur di ktp kamu kan?"
"Apaan sih? Ngaco!"
"Jadi spesialis apa?"
"Kulit dan kelamin. Sp.KK. Fokusku di kulit dan kecantikan sih."
"Oh, pantesan kulit kamu terawat banget, ya. Praktek di rs mana?"
"Klinik."
"Masa cuma klinik?"
"Cuma?"
Kedua mata Malvin spontan membulat saat menyadari sesuatu, mulutnya menganga, sehingga mi yang baru saja masuk ke dalam mulut dan belum sempat ia kunyah, terpaksa harus kembali jatuh ke dalam mangkok.
"Malvin jorok!" amuk Yasmin.
Malvin langsung menyandarkan diri. Ia mengambil segelas air dan menghabiskannya dalam sekali teguk. "Tunggu, sebentar, ini maksudnya klinik kamu sendiri? Kamu udah punya klinik?"
Yasmin mengangguk. "Ada masalah?"
"Besar. Ini masalah besar, Yas, aku bahkan belum kelar spesialis tapi karir kamu udah sebagus ini? Nikahnya ntar-ntar aja, ya, minimal nunggu biar nama belakang aku, ntar udah ada gelar spesialisnya di kartu undangan.
__ADS_1