
Setelah mendapatkan kabar kalau Ayana jatuh pingsan, Saga langsung bergegas menuju IGD dengan langkah terburu-buru. Pikirannya kalut. Khawatir, cemas, dan juga merasa bersalah. Beberapa kalimat 'kalau seandainya' terngiang di otaknya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu di antara keduanya.
Dengan deru napas yang terdengar sedikit ngos-ngosan, akhirnya Saga sampai di IGD. Saat ia sampai di sana, Ayana sedang ditangani Malvin.
Ia kemudian bertanya pada Eri, dokter yang tadi menghubunginya. Untuk menanyakan perihal kondisi sang istri sampai bisa pingsan begini. Apa karena Ayana terlalu memaksakan diri?
"Gimana ceritanya kok bisa sampai pingsan?"
Flashback on
"Na, minta tolong bentar! Tolong jahit pasien bed 3 dong, urgent nih. Gue mau cek kondisi pasien yang baru dateng."
Ayana segera berdiri dari kursinya begitu mendengar teriakan sang rekan sejawat sambil mengacungkan jempolnya. Ia kemudian segera bergegas menuju bed yang dimaksud Eri. Ia kemudian langsung memakai sarung tangan dan bersiap menjahit luka pasien.
"Halo, selamat siang, saya dokter Ayana--"
"Saya tidak mau dijahit, dok," ucap si pasien tiba-tiba, "biarin saya mati saja."
Ayana jelas kaget saat mendengar ucapan sang pasien. Ia pikir pasiennya tidak mau dijahit karena takut dengan jarum. Ia kemudian menoleh ke arah perawat.
"Dia korban percobaan bunuh diri, dok," bisik si perawat, "sengaja lompat ke jalan biar ditabrak mobil, tapi Tuhan berkata lain, jadi lukanya nggak terlalu serius."
Ayana mendadak cemas. Menangani pasien dengan kondisi mental yang sedang tidak stabil tidak lah mudah, apalagi mengingat dirinya tengah hamil. Dulu ia pernah diamuk pasien percobaan bunuh diri sampai mendapat luka memar.
"Duh, si Eri masa kasih gue pasien beginian. Ntar kalau gue diamuk gimana?"
"Makanya saya stand by di sini, dok. Jaga-jaga kalau pasien berontak. Tapi sejauh ini enggak kok, pasien masih tenang dari awal dateng."
Ayana mencoba tetap menenangkan diri. "Tapi saya dokter, saya nggak mungkin membiarkan pasien yang masuk begitu saja, apalagi kondisi pasien perlu penanganan."
"Kalau gitu biar saya pulang," balas si pasien. Tanpa ragu ia langsung bangun dari posisi berbaringnya.
"Eh, eh, anda mau ke mana? Luka anda harus segera dijahit."
"Saya bilang saya nggak mau," bentak si pasien.
__ADS_1
"Tapi kondisi anda perlu penanganan segera, jika lukanya tidak dijahit, darahnya akan terus keluar, anda bisa kehilangan banyak darah--"
"Memang itu tujuan saya! Saya bilang saya ingin mati!"
"Kalau anda benar-benar ingin mati tidak seharusnya anda melibatkan orang lain!" Ayana mendengus tidak percaya, "yang berniat mati hanya anda, tapi kenapa anda menyeret orang lain juga? Harusnya anda melakukannya sendiri, biar sekalian nggak ada yang nolongin."
Si pasien terlihat marah saat mendengar kalimat Ayana. "Anda menyebut diri anda dokter?" ucapnya sambil mendorong tubuh Ayana.
Ayana masih gentar, seolah tidak punya takut. Meski kenyataan hatinya sedang ketar-ketir. "Kenapa? Anda tersinggung? Kalau anda benar-benar serius berniat ingin mengakhiri hidup, kenapa memilih tempat yang ramai? Bukankah tempat yang sepi jauh lebih menjamin?" Ayana kemudian tersenyum tipis, "Karena bisa jadi sisi lain dari diri anda tidak benar-benar menginginkan hal itu. Sekarang belum terlambat, anda bisa menebusnya semuanya setelah ini. Jadi izinkan saya mengobati anda."
"Tidak usah sok peduli!"
"Saya tidak sok peduli, saya hanya ingin menjalankan tugas. Kalau anda benar-benar berniat pergi, setidaknya anda harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa, karena pihak rumah sakit tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan anda nantinya."
Di luar dugaan, pasien itu kembali duduk dan berbaring tanpa mengeluarkan suara. Ayana tersenyum lega setelahnya, tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Kenapa anda yang berterima kasih?" tanya pasien itu sedikit sinis.
"Tidak semua orang mampu bertahan, masing-masing orang ada masanya capek dengan hidup mereka dan ingin sekali mengakhiri semuanya, seperti yang anda lakukan. Tapi anda memilih bertahan setelah saya marahi, tentu saja saya harus berterima kasih."
Ayana mulai menjahit luka si pasien sebelum tadi sempat menyuntikkan anestesi.
"Anda bisa. Saya yakin anda bisa."
"Anda saja tidak tahu apa yang sedang saya hadapi kenapa anda percaya diri sekali kalau saya bisa?"
"Anggap saja ini instingnya perempuan."
Si pasien mengangguk. "Semoga saja anda benar," gumamnya kemudian.
Ayana tersenyum. "Aamiin."
Setelah selesai menjahit luka sang pasien, Ayana langsung menempelkan perban anti air pada luka tersebut. Ia kemudian meminta si pasien menunggu sang wali karena pihak rumah sakit tadi sudah sempat menghubungi keluarga.
"Dokter Yana barusan keren banget sumpah," puji perawat yang sedari tadi membantunya.
__ADS_1
"Keliatannya doang, aslinya ya sama aja, takut juga sebenernya tadi. Mana tadi kan gue sempet didorong gitu, deg-degan banget gue sumpah, takut anak gue kenapa-kenapa."
"Eh, iya, tadi saya juga kaget banget pas dokter Yana didorong tiba-tiba, tapi sekarang dokter nggak papa kan? Nggak ada yang luka atau bikin dokter nggak nyaman? Kekuatan cowok meski nggak gede-gede banget yang dikeluarin, tetep aja beda kalau dibandingin kekuatan cewek, dok."
Ayana mengangguk seraya mengacungkan jempol. "Aman. Itu ada pasien baru masuk, lo tangani dulu, gue mau ambil minum bentar."
"Siap, dok."
Eri langsung menghampiri Ayana yang kini sedang meneguk air minum dari botol. "Na, lo nggak papa kan?"
"Enggak, aman kok."
"Sorry, banget ya, gue pikir ya pasiennya nggak bakal berulah karena emang dari awal dateng sampe gue observasi tenang. Makanya pas ada pasien baru yang kondisinya lebih serius, ya gue lempar ke lo."
Ayana menutup botol minumnya seraya menggeleng. "Halah, iya, nggak papa, santai. Gue cek pasien dulu ya," pamitnya kemudian.
Baru melangkah Eri tiba-tiba menahan lengan Ayana. "Na, lo serius nggak papa?"
"Serius, astaga, Tuhan! Enggak papa, Ri, gue aman. Sehat wal afiat."
"Tapi itu..." Eri menunjuk ke antara dua kaki perempuan itu yang nampak mengeluarkan darah.
Wajah Ayana seketika berubah panik. Lalu tak lama setelahnya ia kehilangan kesadaran.
Flashback off
Saga langsung meraup wajahnya begitu selesai mendengar penjelasan Eri. Pikirannya bertambah kacau, ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan sang istri maupun sang calon bayi.
"Eh, Bang, lo udah di sini?" tanya Malvin begitu selesai memeriksa Ayana.
Saga mengangguk. "Gimana kondisi Yana sama anak gue?"
"Enggak papa, bayinya tadi cuma shock bentar karena benturan ringan, alhamdulillah nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Cuma meski gitu gue tetep saranin rawat inap sehari atau dua hari dulu, ya, Bang, buat observasi lanjutan. Sekalian nanti nunggu dokter Ine datang. Sama biar Yana-nya bed rest dulu lah, mungkin faktor pikiran tekanan darah dia lebih tinggi dari biasanya. Gue udah kasih cairan infus penurun darah." Malvin menepuk pundak Saga, "temui dulu, Bang, biar gue bantu urus administrasinya."
"Thanks, ya."
__ADS_1
Malvin mengangguk tidak masalah.