Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 18


__ADS_3

***


Malvin tersenyum tipis saat mendapati Olivia tengah berdiri di depan unitnya sambil menyadarkan punggungnya di tembok. Kepala perempuan itu menunduk dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada, sebelah kakinya dimainkan dan pikirannya entah sedang berkelana ke mana. Ia tebak sih kayaknya perempuan itu habis bertengkar lagi dengan sang pacar.


"Ngapain?"


Olivia spontan langsung menegakkan tubuhnya sambil tersenyum tipis. "Nungguin kamu lah, Mas."


"Anjir, udah dibilang berapa kali sih, Liv, panggil gue nama aja kenapa? Jomblo nih gue, ntar kalau gue baper lo mau tanggung jawab?"


"Enggak sopan lah, Mas. Kalau manggil yang lebih tua tuh emang gitu harus manggil Mas."


Malvin seketika langsung mendengus. "Kan masih ada panggilan lain, Liv, semisal Abang kek, Kakak, Aa. Tuh, macem-macem, nggak cuma Mas. Jadi mending panggil yang lain," ucapnya menyarankan.


Olivia mendengus. "Sama aja kali, Mas, lagian kenapa sih pake acara protes segala? Biasa juga enggak."


"Enggak apa? Hampir tiap hari gue protes ya, emang dasar lo aja yang sukanya mengabaikan gue. Masak apa lo hari ini?"


"Terong balado sama tahu walik. Kenapa? Belum makan? Ya udah, ayo, makan di tempat aku aja."


Malvin langsung mengangguk setuju dan mengekor di belakang perempuan itu. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya saling mengunjungi unit masing-masing, tolong kalian jangan terlalu overthinking tentang hubungan mereka. Karena Olivia sendiri sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong lo kenapa tadi di depan unit gue? Mana tampang lo kayak mau ngutang duit lagi," ledek Malvin langsung bergegas menuju dapur. Tanpa menunggu dipersilahkan pria itu langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya, "lah, katanya tahu walik, kok ada isinya?" tanyanya heran saat menyadari gorengan yang terhidang.


"Ya, enggak papa kan?"


"Apa nih isinya?"


"Daging cincang sama sayur terus aku kasih tepung dikit. Enggak tahu sih enak apa enggak, aku tadi nyoba oke, chili oil sih enak kok. Coba dulu.


Malvin manggut-manggut paham lalu mulai menikmati makanannya. Enaknya kalau makan di sini tuh ya begini, masakan Olivia sangat memuaskannua.


"Enak juga ya," komentarnya kemudian.


"Ya kalau enak ya dimakan," balas Olivia sambil membawa segelas air dingin ke hadapan pria itu.


Respon Malvin pertama kali berupa kekehan. "Kenapa? Disuruh balik kampung terus mau dinikahin lo?"


"Bukan, Mas. Kayaknya kalau kalau aku digituin aku bakalan langsung pulang deh, dari pada di sini nggak jelas juga."


"Enggak jelas gimana sih? Bukannya udah jelas ya?"


Olivia merenggut. "Jelas apa? Jelas-jelas bikin pusing."

__ADS_1


"Kalau bikin pusing putusin aja udah, ngapain sih sama yang bikin pusing? Bikin capek aja."


Kali ini Olivia diam. Malvin kemudian tertawa karena pria itu dapat menebak kadar bucin sang tetangga yang sulit untuk melepas kekasihnya itu. Keduanya sudah sangat sering ribut nggak jelas, dan lainnya, tapi begitu lah, ujung-ujungnya ya tetap balikan meski sudah sempat putus.


"Kali ini gegara apa sih?"


"Aku kayaknya pengen putus."


Malvin mendengus. "Ngapain putus segala sih kalau ujung-ujungnya balikan?" tanyanya tidak paham. Ia sering kali heran dengan kelakuan perempuan itu.


Menurutnya aneh sih, tapi bagaimana ya, terkadang memang cinta aneh bukan? Detik berikutnya, ia reflek tertawa. "Udah tahu kondisi anak begini, mending putusin aja aja, Vin, daripada begini. Putus aja udah, beres!"


"Tapi aku galau, Mas, pengen putus tapi kamu tahu sendiri kondisi kami."


"Halah, nggak usah sok-sok gitu deh, mending putus terus cari yang lain."


"Terus kenapa kamu nggak begitu, Mas?"


Uhuk Uhuk


Seketika Malvin langsung terdiam tak lama setelahnya. Ia merasa tertohok dan tidak tahu harus membalas apa.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2