
***
“Anjir, kok seleranya langsung turun drastis,” komentar Ayana begitu membuka chat yang Malvin kirimkan yang berisi foto pacar baru pria itu.
Tidak, bukan maksudnya ia bilang kalau pacar baru pria itu tidak cantik. Cantik kok, gadis ini ahkan punya senyum manis yang membuatnya terlihat lugu. Hanya saja kenapa ia menyebutnya turun drastis karena kalau dilihat dari segi umur gadis ini terlihat terpaut lumayan jauh dengan mereka. Apalagi kalau dibandingkan dengan mantan kekasih pria itu. Sudah pasti terpaut sangat jauh.
Baik lah ia tidak boleh membanding-bandingkan karena itu tidak sopan. Ia sendiri juga kalau dibandingkan pasti tidaklah suka , tapi hobi banget bandingin orang.
Tidak ingin membiarkan pacar baru Malvin menunggu terlalu lama, Ayana memutuskan untuk segera bergegas. Selain itu, ia sendiri juga sudah penasaran dengan sesosok pacar baru pria itu. Ia penasaran daya tarik apa yang dimiliki gadis ini sehingga dengan mudahnya meluluhkan hati sang sahabat.
Tidak butuh waktu lama akhirnya ia sampai di kantor kekasih Malvin, satu kesalahan yang ia lakukan. Ia tidak menanyakan siapa nama gadis itu. Ayana meruntuki kebodohannya sendiri. Kenapa dirinya bisa begitu ceroboh?
Lantas bagaimana ia harus mencari gadis itu?
Dengan modal nekat, Ayana memutuskan untuk turun. Ia masuk ke gedung dan memutuskan untuk bertanya pada sang resepsionis.
“Permisi, Mbak, saya mau nanya kira-kira karyawan yang difoto ini udah pulang belum ya? Saya di suruh jemputnya orang yang ada di foto ini tapi saya lupa nanya siapa namanya.”
“Oalah, ini Olive, dia salah satu editor di sini. Tadi Olive pesen kalau ada yang nyari suruh tunggu sebentar, soalnya tadi dia harus balik ke atas karena ada urusan sebentar.”
Ayana mengangguk paham lalu memutuskan untuk duduk di salah satu sofa yang kebetulan tersedia di sana. Sambil menunggu kedatangan gadis itu, ia memutuskan untuk menelfon sang Mama untuk memberitahu kalau dirinya mungkin akan pulang terlambat.
Lama menunggu, akhhirnya panggilannya terjawab.
“Kenapa? Bukannya langsung pulang malah nelfon, mau ngelayap ke mana?” sambut Kartika saat sambungan terhubung, “kamu sekarang bukan anak gadis lagi, Na, udah ada Mala,” sambungnya kemudian.
“Dengerin dulu kenapa sih, Ma. Yana nggak mau ngelayap kok, tapi dalam misi khusus, mau jemput calon mantu Mama nih.”
“Mau jemput pacar Malvin?”
__ADS_1
Ayana langsung berdecak tidak percaya, karena kepekaan sang Mama. Ia pikir sang Mama minimal akan loading sesaat karena kedua anaknya sudah menikah semua. Eh, tahunya justru sang Mama langsung menyadarinya.
“Kok Mama langsung tahu?” protesnya kemudian, “nyebelin.”
“Ya, memang mau siapa lagi kalau bukan dia. Kan kamu sama Tama dua-duanya udah nikah, emag masih ada yang mau kasih mama mantu lagi kalau bukan gantian Malvin?”
Ayana merengut kesal persis seperti Mala kalau sang Papa sedang usil terhadapnya. Kaku-kaku begitu ternyata Saga bisa juga usil terhadap sang putri. Tapi tolong jangan ada yang berekspektasi ketinggian ya.
“Mama jujur deh sama aku, sebenernya Malvin itu anak kandung mama atau gimana sih?”
“Udah nggak usah ngaco, sekarang mending kamu jelasin tentang pacar Malvin itu.”
Awalnya Ayana hendak memberi penjelasan secara singkat, tapi terpaksa harus ia urungkan karena ia mulai menyadari kedatangan seseorang.
“Maaf, apa bener dengan Mbak Yana, temennya Mas Malvin?”
Spontan Ayana melongo. Bukan, bukan karena terpesona atau apa. Soalnya Olivia tengah mengenakan masker, jadi ia tidak bisa melihat wajah perempuan itu dengan cukup jelas. Ia terkejut karena panggilan gadis ini yang memanggilnya ‘Mas’. Entah kenapa itu terasa aneh? Bukankah seharusnya wajar kalau mengingat perbedaan usia mereka? Tapi kenapa sekarang ia merasa aneh ya?
Cepat-cepat ia berdiri dan mematikan sambungan telfon begitu saja. Lalu menjabat tangan perempuan itu.
Olivia mengangguk dan mengiyakan. “Maaf ya, Kak, jadi ngerepotin. Harusnya Mbak Yana udah santai di rumah, eh, malah harus jemput saya.”
“It’s okay, sama sekali nggak ngerepotin kok. soalnya biasanya juga gue yang ngerepotin cowok lo. Eh, pake lo-gue nggak papa kan?”
Olivia menggeleng tidak masalah. “Enggak papa, senyamannya Mbak Yana gimana aja.”
Ayana manggut-manggut paham. “Langsung pulang aja, yuk!” ajaknya kemudian.
Olivia kemudian mengangguk setuju. Meski tertutup masker, tapi Ayana cukup bisa merasakan perasaan canggung yang dirasakan gadis itu. Hal ini membuat Ayana gemas karenanya.
“Gue sama Malvin itu udah kenal deket, dia bahkan manggil nyokap gue Mami. Nanti kapan-kapan kalau lo dikenalin jangan kaget ya? Kalau sama gue santai aja. Jangan sungkan, lo bisa ngadu ke gue kalau semisal itu orang macem-macem.”
__ADS_1
Olivia meringis seadanya dan kembali mengangguk untuk mengiyakan.
“Sama satu lagi, kalau lo liat keakraban gue sama Malvin jangan cemburu ya. Soalnnya kita emang sedeket itu. Dan tenang aja, gue udah nikah kok, gue juga udah punya anak.”
Kali ini Olivia yang terlihat terkejut. “Mbak Yana udah punya anak?”
Ayana terkekeh lalu mengangguk. “Kenapa? Emang keliatannya kayak belum punya anak ya?” candanya kemudian. beberapa orang yang bertemu dengannya memang sering kali tidak menyangka kalau dirinya sudah menjadi ibu beranak satu. Mungkin karena perawakannya yang sedikit mungil sehingga orang-orang sering kali mengira demikiann.
Sambil tersenyum malu-malu, Olivia menngangguk dan mengiyakan.
“Hehe, iya, aku agak kaget pas Mbak Yana bilang udah punya anak. Soalnya aku kira kita seumuran.”
Ayana terkekeh lalu masuk ke dalam mobil. “Thanks, ya, aku anggap itu sebagai pujian. Gue sama Malvin seumuran kok, Cuma beda setahun doang.”
Olivia ber’oh’ria sambil menggut-manggut paham. “Oh, aku kira Mbak Yana seumuran sama aku. Untung aja tadi aku nggak manggil nama langsung.”
“Justru bagus tahu kalau manggilnya nama, kan jadi keliatan lebih akrab. Panggil nama terus pake lo-gue aja,” ucap Ayana menyarankan.
Sambil meringis canggung, Olivia menggeleng tidak setuju. “Berhubung Mbak Yana lebih tua rasanya nggak sopan kalau panggil nama. Terus kalau panggilan lo-gue, aku emang nggak biasa pake itu sih. Hehe, Mas Malvin aja suka pake lo-gue kadang, tapi emang dasar akunya yang nggak biasa pake lo-gue sih, Mbak.”
“Oalah.”
Ayana manggut-manggut paham. Ia kemudian mulai menyalakan mobilnya menuju apartemen gadis itu. “Eh, lo yang tinggal satu gedung sama Malvin itu kan?”
“Iya, Mbak, Mas Malvin pernah cerita.”
“Pernah dong. Lo tahu nggak, itu orang dulu pas gue suruh macarin lo katanya nggak mau, soalnya lo Cuma temen, eh, tahunya dipacarin juga.” Mendadak Ayana penasaran akan sesuatu, “eh, lo kok mau sama Malvin?”
Bukannya langsung menjawab, Olivia hanya hanya meringis sebagai respon. Hal ini menimbulkan kecurigaan dari Ayana.
__ADS_1
Tbc,