Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Acara Lamaran


__ADS_3

"Lo kok ke sini?" tanya Ayana heran.


Ia masih di make-up in oleh MUA pilihan sang Mama. Tapi Malvin tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Untung saja pria itu masuk bukan di saat ia sedang ganti baju.


"Ya iya lah, besti gue dilamar masa iya gue nggak dateng," sahut Malvin sambil menjatuhkan tubuhnya pada ranjang Ayana. Dalam hati pria itu bersorak kegirangan karena akhirnya bisa berbaring di atas ranjang.


"Jangan tidur!" seru Ayana sambil melempar sandal jepitnya.


Malvin yang nyaris menyapa mimpi langsung kesal. "Lo nggak bisa banget kan kalau nggak ganggu hidup gue?"


"Enggak. Sana cuci muka, kalau perlu mandi sekalian!"


Malvin langsung bangun dari rebahannya. "Ntar kalau gue mandi, lo tersepona sama kegantengan gue, kan gawat kalau tetiba lo pengennya gue yang lamar lo," ucapnya jumawa.


Ayan langsung memasang wajah seperti ingin muntah. "Najis, Vin! Buruan sana mandi! Bau istri orang lo."


Malvin langsung terbahak seraya mengumpat. "Sialan!" Meski demikian pada akhirnya ia tetap beranjak pergi keluar kamar. Hal ini membuat Ayana sedikit heran.


"Mau ke mana?"


"Cuci muka."


"Lah, kenapa nggak kamar mandi di situ sekalian?" tanya Ayana sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


"Suka-suka gue lah," balas Malvin tanpa menoleh. Pria itu terus melangkah dan hanya mengangkat sebelah tangannya meninggalkan kamar Ayana.


Saat Malvin kembali ke kamar Ayana, gadis itu sudah berganti kebaya dan rok lilit batiknya. Sahabatnya itu terlihat cantik dan juga anggun dengan penampilannya. Malvin nyaris saja pangling melihatnya.


"Buset, cakep juga ya lo kalau dandan begini. Sampe pangling gue."


"Emang biasanya gue nggak cakep?"


Tanpa wajah keraguan Malvin langsung menggeleng tegas. "Enggak!" dan jawabannya sukses membuatnya mendapat pelototan tajam dari Ayana.


"Btw, itu kemeja lo kok macem nggak asing. Beli pas diskonan ya, lo?"


"Sembarangan! Seragam keluarga lo ini."


"Hah?! Apa lo bilang?!"


***


Ayana tidak dapat menahan kesal terhadap sang Mama, yang bisa-bisanya memberi seragam batik yang sama dengan anggota keluarganya. Ya, ia tahu kalau Malvin memang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, tapi ya, nggak sampai pas acara lamarannya pria itu mengenakan baju yang sama dengan anggota keluarganya.


"Kok Mama bisa-bisanya kasih Malvin kemeja batiknya sih?" tanya Ayana sebal.


"Ya, gimana kan ini acara keluarga kalau nggak pake seragam nanti Malvin dikira anak nyasar. Lagian Malvin itu udah Mama anggep kayak anak sendiri, jadi ya udah Mama kasih aja seragamnya."


"Tapi ini jadinya Malvin punya seragam batik sama kayak kalian tapi akunya nggak punya."


"Ya emang kenapa sih?" sahut Tama, "lagian itu rok lo seragam sama Saga loh."


Tetap saja Ayana masih bad mood.

__ADS_1


"Ya udah sih, gitu aja diributin. Santai. Ini bentar lagi keluarga Saga mau ke sini loh. Aku tadi udah liat di depan mobilnya udah rame." Kali ini Fira yang ikutan bersuara.


Ditenangkan sang kakak ipar, Ayana jadi sedikit membaik. Namun, ia mendadak gugup saat ART mereka menginstruksi kalau rombongan keluarga Saga sudah berjalan kemari. Padahal tadi ia biasa saja, tapi kenapa sekarang ia mendadak gugup ya?


"Kak? Lo dulu pas dilamar Bang Tama deg-degan nggak sih?" tanya Ayana mulai cemas. Telapak tangannya mulai berkeringat dan jantungnya berdebar kencang.


"Ya, deg-degan lah, kalau enggak pasti udah berurusan sama calon laki lo," sahut Malvin dengan nada seolah tidak punya dosa.


Ayana mendadak kembali kesal. "Lo anak tiri mending diem aja deh! Berisik!"


"Biarin, meski gue anak tiri, tapi faktanya lo yang lebih dianak tirikan sama nyokap-bokap lo," balas Malvin tidak mau kalah sambil menjulurkan lidahnya puas.


"Iiih, Om Malvin nggak sopan, masa melet-melet gitu."


"Tuh, kena mental kan lo ditegur bocil?"


"Enggak, tuh, biasa aja. Gue mah nggak lebay kayak lo."


Kartika langsung melotot ke arah Malvin dan Ayana. "Udah, berantemnya dilanjut besok, itu Papa udah keluar buat menyambut rombongan. Sana, kamu ikut Tama nyambut rombongan, biar Yana ditemani Fira."


Sambil membuat gerakan tubuh tegap dan memberi penghormatan, Malvin mengangguk patuh. "Siap Mami-ku tersayang."


Fira kemudian mendekat ke arah Ayana dan memeluk tubuh sang adik ipar. "Deg-degan pas dilamar itu wajar kok, nanti kalau jelang ijab qobul lebih deg-degan lagi loh."


"Iiih, Kak Fira, mah, bukannya nenangin malah makin bikin tegang. Aku takut nanti pas acara bikin kesalahan deh. Duh, mana nanti acaranya lesehan lagi. Mama ini ada-ada aja deh, aku kesel." Ayana menatap prihatin ke arah heels-nya, "mana aku pake heels lagi. Aku takut bikin kesalahan gegara gugup deh, Kak."


Fira mengelus punggung tangan Ayana, untuk menenangkan. "Enggak bakalan. Percaya sama Kakak. Nanti aku bakalan stand by buat kamu tiap saat, ya asal ponakan kamu nggak tetiba bangun aja."


"Duh, tau gitu aku kasih obat tidur dulu ya di susunya biar tidurnya pules dan nggak bangun-bangun," gurau Ayana yang sukses membuatnya langsung mendapat pelototan tajam dari Fira.


"Buset, sumpah gue rasanya lemes banget, Vin," keluh Ayana mulai bertambah panik, "Kak, make up gue gimana?"


Fira mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. "Aman kok. Cantik."


"Mau gue gendong?" tawar Malvin sambil memasang wajah cengengesannya.


Ayana jadi gemas ingin menjitak kepala pria itu menggunakan heels-nya.


"Enggak papa, Na! Cuma acara lamaran, terus juga ini yang dateng keluarga Saga doang. Jadi nggak usah gugup!"


Mencoba meyakinkan diri, Ayana mengangguk sambil menyemangati diri sendiri. Baru akhirnya setelah itu mereka turun ke lantai bawah.


Sesuai yang diucap sang Mama tadi siang, Nabila dan ketiga keponakan Saga memang tidak hadir. Hanya ada Bara, Jaka, Bianca, dan kedua orang tuanya yang menemani Saga. Namun, meski demikian ia tetap saja merasa gugup. Apalagi saat melihat Saga dengan penampilan kemeja batiknya yang senada dengan rok lilitnya.


Astaga, Tuhan, lutut Ayana mendadak seperti jeli.


"Gimana, cakep nggak calon laki lo? Kalau kurang, biar gue gantiin," bisik Malvin menggoda dengan iseng.


Namun, ia langsung mengaduh kesakitan pada beberapa detik kemudian. Tentu saja karena Ayana mencubitnya.


Malvin melotot kesal lalu memilih duduk di dekat Tama dan Papa Ayana. Dan tentu saja pria itu langsung mengadu pada keduanya.


"Baiklah, berhubung putri saya sudah siap dan ada di sini. Bisa langsung kita mulai acaranya," ucap Hari mewakili, "silahkan Mas Saga silahkan dimulai."

__ADS_1


Saga berdehem sejenak. "Terima kasih. Niat dan tujuan saya dan keluarga hari ini adalah untuk melamar putri Bapak Hari yang bernama Ayana. Saya mungkin bukan pria sempurna, banyak kekurangan yang ada dalam diri saya, saya juga bukan seseorang yang pandai merangkai kata. Kedatangan saya dan keluarga adalah wujud keseriusan saya dalam menjalin hubungan dengan putri anda. Jika diperkenankan bolehkah saya mempersunting putri anda?"


"Baiklah, Nak Saga, terima kasih atas niat baiknya. Tapi menjalani kehidupan rumah tangga akan sepenuhnya dilakukan putri saya. Jadi, semua sepenuhnya saya serahkan pada putri saya." Hari kemudian menoleh ke arah sang putri, "gimana, Nak? Apa kamu bersedia?"


Mendadak Ayana merasa seperti ingin menangis. Kedua matanya berkaca-kaca. Takut benar-benar akan menangis, Ayana hanya mengangguk untuk mengiyakan.


***


Malvin seketika langsung terbahak-bahak setelah acara lamaran selesai dan keluarga Saga pulang ke rumahnya.


"Lo kenapa deh tadi kayak orang gagu?" ledek Malvin di sela tertawanya.


Ayana yang kesal tentu saja tidak langsung tinggal diam. Ia langsung meraih heels-nya dan melempar ke arah pria itu.


"Buset, galak banget yang bentar lagi mau dihalalin sama tetangga depan rumah."


"Bacot!" Ayana langsung berdiri dan mencomot risol mayones favoritnya.


"Heh, mau jadi istri orang tuh nggak boleh ngomong kasar. Gue cepuin ke Saga mampus," ancam Malvin, namun, sayang tidak digubris gadis itu, "eh, gue serius."


"Bodo amat. Gue emosi."


Masih bernyali besar dan seolah tidak takut dengan amukan Ayana, Malvin masih sempat-sempatnya kembali tertawa. "Ya, salah lo sendiri. Udah syukur ada yang mau lamar lo, dibawain seserahan segitu banyak, plus satu set perhiasan mahal, eh, lo-nya malah mewek."


"Ya, gimana, gue udah coba tahan-tahan tapi nggak bisa, Vin." Ayana cemberut kesal, "huhu, tadi gue jelek banget ya pas difoto?"


Malvin kemudian mengeluarkan ponselnya. Mengutak-atik sebentar sambil manggut-manggut. "Enggak papa, masih aman kok. Nanti bisa diedit. Cuma tinggi badan kalian agak jomplang dikit sih. Tadi lo lupa nggak pake heels lo sih."


"Hah? Serius?! Kok bisa?" tanya Ayana shock, dengan gerakan brutal ia langsung merebut ponsel Malvin


"Ya bisa, kan konsep nikahan kalian lesehan jadi nyeker lah." Malvin kemudian mengomel panjang saat menyadari tangan Ayana yang masih berminyak, "ah, tangan lo kotor ini, Na. Sembarangan banget asal pegang hape gue," gerutunya kemudian.


"Astaga, ya ampun kok bisa gitu? Padahal backgroundnya bagus, eh, tapi malah kitanya nyeker begini." Ayana merengut sedih saat menyadari hasil jepretan Malvin, "ini semua salah Mama, kenapa coba bikin konsepnya jadi lesehan gini. Kan jadinya begini."


"Loh, kok jadi nyalahin Mama?" protes Kartika tidak terima, "lagian kan kamu sendiri yang pengennya sederhana. Kenapa giliran Mama pilihin konsep lesehan kamu salahin Mama juga? Emang konsep lesehan kurang sederhana."


"Ya, kalau dekornya begitu nggak cocok dong Mama-ku tersayang."


"Kata siapa?"


"Kata Yana. Tahu lah, Yana ngambek."


Dengan wajah cemberut, Ayana langsung berdiri dan bergegas menuju kamarnya. Lain halnya dengan Kartika yang langsung menepuk pundak Malvin.


"Kamu kalau nyari istri jangan yang model begituan. Capek kalau ngambek, susah dibujuknya."


Malvin langsung terbahak seraya mengangguk. "Siap, Mi, nanti Malvin cariin mantu yang nggak ngambekan deh."


Kartika langsung mengacungkan jempolnya. "Sip. Gitu dong jadi anak Mami. Ngomong-ngomong ini kamu mau nginep di sini apa pulang ke apartemen?"


"Hehe, balik ke RS, Mi. Biasa tugas."


Seketika Kartika langsung mencibir. "Halah, punya anak kandung sama anak angkat dua-duanya sok sibuk."

__ADS_1


Kali ini Malvin terbahak. "Sekarang nambah menantu juga gitu, Mi, malah yang ini lebih lebih lebih sok sibuknya."


"Lah, iya, juga, ya, kok Mami baru nyadar."


__ADS_2