Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Ponakan Baru


__ADS_3

______________________________________


Malvin masuk ke dalam rumah Ayana sambil menenteng beberapa bungkus plastik kecil dengan ekspresi cerah. Hal ini berbeda jauh dengan sang tuan rumah yang kini tengah memasang wajah masamnya.


"Kusut banget sih itu muka, kayak baju belum disetrika? Kenape lagi sih?" Malvin bertanya dengan nada heran sambil meletakkan bungkus plastik bawaannya lalu duduk di sebelah Ayana. "Tuh, gue bawain seblak pake kerupuk. Gue bawain jajanan lainnya juga. Baik banget kan gue? Pacar lo mana ada inisiatif ginian? Enggak ada pasti," sambungnya kemudian.


Ayana tersenyum tipis lalu mulai membongkar bawaan Malvin. "Makasih, sayang." Sambil memasang wajah sok polos, Ayana mengedipkan bulu matanya genit.


Malvin yang melihat itu mendadak mules. Pria itu secara terang-terangan langsung memasang ekspresi seperti ingin muntah, sebelum akhirnya bergegas menuju dapur untuk mengambil mangkok, sendok, dan garpu.


Tak lama setelahnya Malvin kembali ke ruang tengah sambil membawa apa yang ia cari, kemudian duduk di karpet lantai untuk membukakan seblak Ayana dan menuangkannya ke dalam mangkok. Pria itu memang seperhatian itu kepada Ayana.


"Mami ke mana?"


"Pergi ketemu temen-temennya."


"Kenapa lo nggak ikut?"


Ayana langsung menatap Malvin sinis. "Ya, kali gue ikut nongkrong sama Emak-emak sih, Vin?"


Malvin terkekeh sambil menyerahkan mangkok yang sudah ia isi dengan seblak kepada gadis itu. "Maksud gue, ya lo nongkrongnya sama temen-temen lo sendiri lah, Na."


Ayana menggeleng lalu mengucapkan terima kasih. "Enggak, lagi pusing gue."


"Nah, justru itu. Kalau lagi pusing enaknya tuh ketemu sama temen-temen kita, Na, biar pusingnya ilang."


Ayana tidak setuju.


"Ketemu mereka bukannya ilang pusing, yang ada nambah pusing, Vin."


Malvin terbahak di sela menyumpit mi gacoan-nya. "Oh iya, geng lo kan rusuh ya. Makanya kalau ada apa-apa gue pasti yang lo cari, giliran seneng-seneng mereka yang lo cari."


"Tuh, lo tahu."


"Emang sekarang lo pusing gegara apaan lagi dah? Pacar udah ada, keluarga juga mulai nerima kan?" Malvin bertanya dengan mulut penuhnya, "Apa lagi yang lo pusingin? Berantem sama Aska?" tebaknya asal.


"Ya, enggak bisa dibilang berantem juga, Vin."


Malvin tidak paham. "Maksudnya gimana tuh?"


"Tahu lah, pusing. Lo kayak nggak pernah tau gimana rasanya pacaran sama beda profesi aja, Vin."


Malvin mulai mangguk-mangguk paham. "Oh, jadi maksudnya Aska udah mulai protes sama shift kerja lo?"


"Enggak protes, Vin."


"Tapi?"

__ADS_1


"Ngeluh."


"Itu sama aja, munaroh!"


"Beda dong, Vin," balas Ayana tidak setuju.


"Ya emang beda tapi intinya hampir sama, Na." Malvin mendengus sambil geleng-geleng tidak percaya, "lo itu yang aneh. Jelas-jelas udah ada calon yang seprofesi, eh, lo bego milih yang beda. Nah, sekarang pusing sendiri kan lo?"


Ayana langsung melirik Malvin sinis. "Lo bisa nggak sih nggak usah bawa-bawa Mas Saga? Bikin tambah bad mood aja."


"Yang bawa-bawa Mas Saga siapa sih, Na?" Malvin balik bertanya.


"Ya, elo lah!" balas Ayana ngegas.


Dengan wajah sinisnya, Malvin langsung mendorong kepala Ayana. "Sembarangan! Jelas-jelas lo sendiri yang bawa-bawa itu orang kok, kenapa gue yang disalahin?" protesnya gemas sekaligus tidak terima, "kepikiran aja enggak loh, Na."


"Terus siapa yang lo maksud kalau bukan dia?"


"Gue. Kita seprofesi loh, Na, kalau lo lupa." Malvin berubah menatap Ayana serius, "Na, lo sebenernya kenapa sih? Ini lo nggak lagi bingung sama perasaan lo sendiri kan? Kalau sampe iya, gue botakin ya rambut lo," ancamnya terdengar tidak main-main.


Ayana terlihat sedikit gugup. "Apaan sih? Ngaco!"


"Kan, kan, kan, lo itu emang mencurigakan, Na."


"Apanya yang mencurigakan? Lo aja yang curigaan," balas Ayana tidak terima, "kenapa nuduh gue?"


"Gue kalau nuduh pasti ada penyebabnya, ya, Na, nggak asal tuduh. Lo itu sebenernya tahu nggak sih siapa orang yang sebenernya lo suka?"


"Enggak, jawab aja, Na, lo tahu apa enggak. Siapa tahu lo emang lagi denial."


"Gue enggak denial, Malvin, gue suka dan sayang sama Aska. Puas?"


"Kalau Saga?" pancing Malvin.


"Vin!" seru Ayana dengan nada kesal, "bisa nggak sih nggak usah bawa-bawa dia?"


Malvin tidak membalas, pria itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh sebagai tanda jawaban. Ekspresinya terlihat jelas kalau pria itu sedang malas berkomentar. Hal ini tentu saja mengundang decakan kesal dari Ayana.


"Lo sendiri gimana sama dedek koas yang mau dikenalin ke lo? Lancar?"


Bosan membahas Saga melulu, Ayana mencoba mengalihkan pembicaraan.


Malvin menggeleng. "Ketemu aja belom kok, lancar dari mananya? Tahu lah, pusing gue."


"Kenapa? Udah ditentuin tanggal ketemuannya?"


Dengan ekspresi malasnya, Malvin mengangguk. "Malam ini." Decakan tak suka terdengar tak lama setelahnya, "ah, males banget deh gue, Na. Lo putus deh sama Aska, terus nikah aja sama gue. Kan kita seprofesi, bisa lah diatur. Lagian kita udah kenal baik-buruknya masing-masing, jadi nggak perlu belajar beradaptasi lagi."

__ADS_1


Mendengar kalimat ngaco dari Malvin, tangan Ayana langsung terulur dan mendorong kepala pria itu. "Sembarangan banget sih punya mulut, ogah banget gue disuruh nikah sama lo. Nih, ya, kalau seumpama gue sama Aska harus banget putus, jelas gue nggak bakal milih lo."


"Terus milih siapa? Saga?"


"Sialan!"


______________________________________


Ayana segera melepas sarung tangan medisnya setelah selesai menangani pasien dan merasakan ponselnya bergetar. Nama Malvin yang tertera pada layar, dengan sedikit tergesa-gesa ia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Ya, halo, Vin. Gimana? Ponakan gue udah lahir?"


"Assalamualaikum dulu kek, Na," sindir Malvin dari seberang.


"Wa'allaikumsalam. Jadi gimana udah lahir belum?"


Terdengar suara kekehan dari seberang. "Udah lahir, Na, sehat dan dalam kondisi lengkap."


"Cewek apa cowok?"


"Cewek."


Ayana langsung bersorak kegirangan. "Oke, thanks, dokter Malvin, gue otw ke sana. Bentar, gue izin dulu." Klik. Tanpa berbasa-basi ia langsung mematikan sambungan telfon secara sepihak.


Dengan langkah terburu-buru, ia segera mencari dokter jaga senior yang bertugas hari ini. Kebetulan IGD sepertinya bisa ia tinggal sebentar. Setelah mendapatkan izin dengan embel-embel tidak boleh lama. Ayana langsung bergegas menuju ruang inap Fira, karena menurut informasi yang didapat kalau sang kakak ipar sudah dipindahkan ke kamar inap biasa.


"Baby-nya mana? Belum dipindahin ke sini?" tanya Ayana setelah menyapa kedua orang tua Fira dan orangtuanya, "lah, tahu gini langsung ke ruang bayi dong gue."


"Selain gue sama Fira belum boleh ada yang jenguk, Na. Mama sama Bunda aja baru lihat sekilas doang."


Dengan senyum jumawanya, Ayana langsung memamerkan ID card yang menggantung pada jas putihnya.


"Pake ini bisa dong?" Ayana menaikkan alisnya naik turun, "udah kalau gitu Yana langsung pamit aja ya, nanti keburu dicariin. Assalamualaikum," pamitnya langsung meninggalkan ruang inap Fira dengan langkah terburu-buru.


Baru selesai menutup pintu kamar inap Fira, Ayana mendadak merasakan ponselnya bergetar. Decakan samar langsung terdengar tidak lama setelahnya. Tanpa mengintip ke arah layar, ia langsung menjawab panggilan tersebut.


"5 menit lagi saya sampai IGD."


Klik. Sambungan langsung terputus dan Ayana segera bergegas menuju IGD kembali. Resiko pekerjaan ya begini, toh, mau mengeluh pun percuma.


"Gimana udah lihat ponakannya, dok? Cewek apa cowok sih?" sambut seorang perawat saat Ayana sampai di IGD, "cantik banget pasti kayak Tantenya."


"Belum lihat, Mbar, baru mau ke ruang bayi, eh, kamu nelfon. Ini mana pasiennya yang harus diperiksa?" Mengalihkan sedikit rasa kesalnya, Ayana langsung menekan gel hand sanitizer ke telapak tangannya dan mengedarkan pandangannya pada ke penjuru ruangan.


Ambar perawat itu menyengir sambil menunjuk ke arah brankar. "Bed 4, dok, udah diperiksa dokter Lusi, dokter Yana tinggal jahit lukanya."


Ayana berdecak. "Kenapa nggak dijahit dokter Lusi sekalian?"

__ADS_1


"Dokter Lusi nanganin pasien yang baru datang, dok."


Ayana mengangguk paham lalu menuju ke brankar yang Ambar maksud. Ditemani perawat tadi tentu saja. Tubuh Ayana langsung mematung seketika saat menemukan seorang pria yang ia kenal tengah berdiri di samping brankar sambil memegang erat telapak tangan perempuan itu. Otaknya seketika tidak bisa berpikir jernih.


__ADS_2